12 September 2021, 12:14 WIB

653 Pelajar NTT Ikuti Kegiatan Temu Tamu Inspiratif


Ignas Kunda | Nusantara

YAYASAN Arnoldus Wea kembali menyelenggarakan kelas inspirasi buat para pelajar dan mahasiswa Nusa Tenggara Timur (NTT) demi memantik potensi besar para pelajar dan mahasiswa agar berani bermimpi dan bekerja keras merengkuh cita-cita. 

Ini merupakan kali kedua setelah pada kegiatan yang sama, pekan lalu, juga  berlangsung dengan sukses.

Pada minggu ini, total pelajar yang hadir sebanyak 653 peserta termasuk dari tingkat perguruan tinggi.

Ajang temu tamu inspiratif ini berlangsung secara virtual dengan bantuan media Zoom, serta disiarkan secara langsung atau bisa ditonton ulang via Youtube AW Visual. 

Baca juga: TNI AL Gelar Vaksinasi Bagi Masyarakat Kabupaten Terluar di Malut

Kegiatan ini dipandu secara langsung oleh Co-founder Yayasan Arnoldus Wea yang berkolaborasi dengan penata acara Reinard L. Meo. 

Tamu inspiratif minggu ini menghadirkan beragam profesi seperti dokter, tentara, pramugari, ASN, serta anggota DPR RI. 

Acara berlangsung akrab dan semua tamu inspiratif ini memperkenalkan seperti apa pekerjaan dalam profesi yang mereka geluti. Mereka juga mengisahkan bagaimana awalnya mereka tertarik pada panggilan hidupnya tersebut, serta strategi yang ditempuh untuk bisa menggapainya.

Arnoldus Wea, dalam keterangan awalnya, menjelaskan antusiasme peserta pada sesi kedua ini tidak kalah mengagumkan dari kegiatan pertama. Kali ini tidak hanya berasal dari institusi pendidikan menengah dari NTT dan beberapa wilayah lain di Indonesia, tapi juga diikuti mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi. 

"Ini sebenarnya merupakan bagian kegelisahan kami agar anak NTT tidak menjadi takut untuk meraih mimpi. Kami harus terus mendorong mereka dengan kegiatan nyata agar memberi semangat baru dan membuat mereka tidak merasa inferior, " ujar pemuda yang akrab disapa Aldo ini. 

Selanjutnya para tamu inspiratif ini mulai bercerita pada ratusan pelajar ini. Untuk membangun keakraban, para pelajar bisa memanggil mereka dengan sebut Kak atau Kakak. 

Kak Gerry, lulusan IPDN mendapat kesempatan pertama untuk berbagai inspirasi. Sehari-hari, pria bernama lengkap Garry Rosario da Gama itu bekerja sebagai ASN di Pemkab Sikka, khususnya pada bidang perencanaan dan lebih banyak berkaitan dengan pembahasan anggaran. 

Kepada para pelajar, Kak Gerry menuturkan bercita-cita menjadi dokter, ingin mengikuti jejak sang kakek—dr.T.C. Hillers—yang kini diabadikan sebagai nama RSUD di Maumere. 

Dia mengaku sempat mengikuti proses test masuk ke fakultas kedokteran, namun tidak dilanjutkan lagi karena terkendala biaya.

Gerry muda akhirnya kembali, lalu memulai mimpi baru menjadi praja di IPDN. Setelah lulus, dia kemudian dipercayakan menjadi lurah pada usia yang terbilang cukup muda saat itu. 

Menurutnya, kalau mau jadi praja IPDN, selain memiliki kemampuan akademis yang baik, seseorang juga perlu mempersiapkan fisik, mental, dan sikap loyal yang kuat.

Jauh sebelum itu dan selama menjadi lurah dan jabatan lain setelahnya, Kak Gerry juga punya impian lain untuk melanjutkan pendidikan magister di luar negeri. 

Namun, dia sempat memendam impian itu selama kurang lebih 9 tahun. Ketika muncul keberanian untuk memulainya, dia mendapat banyak sekali tantangan, bahkan dari orang-orang terdekatnya.

“Saat saya mengundurkan diri dari jabatan supaya fokus mengejar impian kuliah lanjut, banyak orang tertawa. Mereka bilang kalau rencana itu gagal, percuma saja melepaskan jabatan strategis yang sedang diemban saat itu. Namun saya tidak peduli terus belajar dan berdoa, tetap fokus hingga akhirnya mendapatkan kesempatan meraih Australia Awards Scholarship. Jadi jangan pernah menyerah dalam hidup, " ungkap pria yang sebentar lagi akan melanjutkan studi pendidikan doktor.

Tokoh inspiratif kedua yang dihadirkan Yayasan Arnoldus Wea adalah Shanti Feranandez. Dokter spesialis bedah di RSUD Bajawa itu disapa Kak Shanti selama kelas inspirasi berlangsung.

Kak Shanti menghadapi banyak sekali tantangan saat menjalani pendidikan dokter, bahkan ketika sudah bekerja. 

Dulu, ketika menjalani residensi studi spesialis bedah di Unpad Bandung, dia mengaku pernah 4 hari menjalani praktik di rumah sakit tanpa pernah pulang ke kos. 

Pada hari kelima, Kak Shanti akhirnya dibolehkan pulang ke kos-kosan. Saat hendak membuka pintu kamarnya untuk segera beristirahat, tiba-tiba ada telepon dari senior yang meminta dirinya segera kembali ke rumah sakit.

“Saya sudah tidak tahan saat itu. Rasanya mau pulang kampung saja. Saya lalu menelpon mama,  mencurahkan semua perasaan. Mama hanya berusaha menenangkan, lalu mengingatkan kembali tentang pilihan hidup. Setelah peristiwa itu saya makin kuat menghadapi tantangan, termasuk yang kerap dirasakan saat kembali bertugas di tanah kelahiran saya Bajawa. Kita harus mencintai pilihan diri sendiri,” demikian pesannya kepada para peserta.

Kemudian tamu inspiratif ketiga seorang tentara. Kak Jojo, begitu sapaan Kapten Inf. Yulius Siregar. 

Kak Jojo terlahir dari keluarga tentara. Ayahnya dulu seorang tentara, gugur dalam kecelakaan helikopter saat bertugas di Timor Timur yang kini bestatus sebagai Negara Timor Leste. 

Adiknya juga seorang tentara, namun kurang lebih bernasib sama seperti ayah mereka, gugur bersama tenggelamnya  KRI Nanggala 402.

Kak Jojo sendiri memiliki pengalaman panjang bertugas sebagai TNI. Dia pernah bertugas di daerah perbatasan, pernah menjadi pasukan pengaman presiden dengan penugasan ke berbagai negara di luar negeri, dan kini dipercayakan sebagai Kasi Ops Brigif Mekanis 1 Pam Ibukota/JS.

Saat kecil, Kak Jojo mengaku sebagai anak yang paling disayang, sehingga dirinya sangat dimanjakan oleh orangtuanya. Begitu ayahnya meninggal, dia sempat kehilangan harapan, namun dia segera berdoa untuk diberikan kemampuan menjalankan amanat orangtua.

Kepada para peserta, Kak Jojo bercerita bahwa kemudian menjadikan ayahnya sebagai teladan utama. Selama dia berjuang meraih impiannya itu, dia tidak pernah lupa meminta doa restu ibu. Dia juga bersyukur saat ini mendapatkan seorang isteri yang terus mendukung dan mendoakannya selama bertugas.

“Kamu harus menjadi tentara yang hebat,” itulah nasihat ayah yang terus memenuhi kepala saya sejak kecil, " katanya. 

Tamu inspiratif ketiga yakni seorang pramugari Yanna Yurilia, mantan pramugari Singapore Airlines, yang memberi gambaran tentang bagaimana ketika bertugas dalam pesawat terbang.

Kak Yanna sebenarnya lulusan sarjana pendidikan, tapi pada akhirnya ia merasa nyaman bekerja sebagai pramugari dan saat ini bekerja di Saudi Airlines. 

Dia menjelaskan kalau menjadi pramugari sebenarnya cukup dengan lulus SMA atau bisa juga setelah lulus kuliah.

“Kalian bebas memilih, tetapi sebaiknya raih dulu pendidikan setinggi mungkin,” ungkapnya. 

Kak Yanna menjelaskan tugas pramugari secara detail, mulai dari persiapan dari rumah sebelum berangkat ke bandara hingga kembali lagi ke rumah. 

Banyak persiapan dan tugas yang harus dikerjakan, intinya bertujuan memberi rasa aman dan nyaman bagi penumpang selama penerbangan.

"Kalau mau jadi pramugari, modal utama adalah semangat. Pede (percaya diri) saja dulu. Saya tidak sepakat dengan anggapan kalau jadi pramugari itu harus berparas cantik. Bagi saya itu pandangan kuno dan jelas keliru, sebab cantik itu sangat relatif. Standar kecantikan tiap orang berbeda-beda. Jadi pramugari bukan semata soal fisik. Kepribadian juga sangat menentukan. Belajar Bahasa Inggris juga, tidak harus lancar sekali, tapi harus percaya diri," tegasnya. 

Kemudian  tamu inspiratif terakhir adalah Kak Emanuel Melkiades Laka Lena, anggota DPR RI. 

Pria yang disapa dengan Kak Melky ini mengaku pernah dua kali menolak kesempatan untuk menjadi PNS, yang menurut pandangan banyak orang di NTT sebuah pekerjaan yang sangat didambakan jutaan orang. Tapi pada akhirnya dia bersyukur, saat ini bisa berada pada posisi yang membanggakan Wakil Ketua Komisi IX DPR RI.

Menurut Kak Melky, kesuksesan seseorang itu ditentukan oleh banyak variabel. Mulai dari faktor dirinya sendiri, faktor orangtua, keluarga, teman, lingkungan rumah dan sekolah, dan masih banyak lagi. 

“Tapi dari sekian banyak faktor itu, faktor diri sendiri yang paling besar pengaruhnya. Sebaiknya harus berani bermimpi dan berusaha mewujudkannya,” ujar Melky. 

Kak Melky sangat mengapresiasi Yayasan Arnnoldus Wea yang telah menyelenggarakan kelas inspirasi seperti ini. Harapannya, anak-anak kelak bebas menentukan pilihannya tanpa paksaan orangtua dan keluarganya.

Kak Melky juga berharap para guru terus meningkatkan kemampuan dan kompetensinya. Lingkungan sekolah dan guru juga memberi pengaruh yang cukup besar bagi siswa-siswi dalam menentukan pilihan atau menetapkan mimpi yang bebas namun tetap bertanggung jawab.

Sesi diskusi disambut antusias oleh peserta. Mereka menanyakan berbagai hal, tapi salah satu yang paling dominan berkaitan dengan beasiswa atau biaya perkuliahan. 

Arnoldus Wea menyampaikan bahwa yayasan yang dikelolanya bersama tim akan terus-menerus melahirkan program inovasi yang bermanfaat bagi siswa maupun guru di NTT. Selain bidang pendidikan, Yayasan Arnoldus Wea juga terus konsisten bekerja pada bidang pariwisata, kesehatan, dan masalah sosial di NTT. (OL-1)

BERITA TERKAIT