10 September 2021, 16:50 WIB

Luhut Resmikan Pengolahan Sampah Berbasis Sumber di Bali


Arnoldus Dhae | Nusantara

MENTERI Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan meresmikan sistem pengolahan sampah berbasis sumber. Yakni Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) SAMTAKU (Sampah Tanggungjawab Aku) di Jimbaran Bali, Jumat (10/9/2021). 

Hadir pada kesempatan tersebut antara lain Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan, Staf Khusus Menteri Bidang Hukum dan Perundang-undangan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, Bahan Beracun dan Berbahaya. Dari Kementerian Dalam Negeri hadir juga antara lain Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah, unsur Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat,  Direktur Jenderal Cipta Karya, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS, Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam. 

Sementara dari pihak swasta antara lain Vera Galuh Ukraina (Vice President General Secretary Danone Indonesia), Karyanto Wibowo (Sustainable Development Director-Danone Indonesia), Bhima Aries Diyanto (CEO PT. Reciki Solusi Indonesia), Nyoman Sutarma (Direktur Utama PT. Reciki Solusi Indonesia), Wahyudi Sulistya (Direktur Utama PT. Kemasan Ciptatama Sempurna), Putu Ivan (Direktur Utama Bali Wastecycle), dan Ni Made Seni (PT. Jimbaran Lestari).

Dalam arahannya, Luhut menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak swasta yang sudah berkolaborasi membangun sistem pengolahan sampah berbasis sumber yakni TPST SAMTAKU di Jimbaran, Bali. Luhut memberikan apresiasi yang sangat tinggi bahwa pembangunan TPST SAMTAKU dikerjasakan dengan pihak swasta. 

Ia mengaku jika sebelumnya pernah dibicarakan dengan Bupati Badung Nyoman Giri Prasta soal kerja sama dengan swasta. Dan ternyata sudah terwujud dengan begitu besar. "Ini merupakan satu terobosan baru sekaligus merupakan implementasi dari perubahan paradigma untuk pengolahan sampah secara terintegrasi dengan pendekatan circular economy," ujarnya.

Pengolahan sampah di kawasan Bali sangat penting dan saatnya dilakukan secara terintegrasi dari hulu ke hilir, mulai dari upaya pengurangan timbulan sampah dari sumbernya dan penanganan setiap titik pengolahan di TPS 3R yang dikelola oleh masyarakat. Pemerintah sendiri tidak memiliki teknologi energi dan lebih mengedepankan pengelolaan di bagian hulu melalui optimalisasi revitalisasi TPS 3R yang telah terbangun. 

"Di Bali misalnya, sudah bertahun-tahun kita kerja pembangunan sampah tetapi tidak jadi. Pak gubernur sampai bosan. Sementara pengolahan sampah berbasis  sumber langsung jadi," ujarnya.

Bila sistem ini diterapkan di seluruh desa di Bali maka Bali akan jauh lebih bersih dari sekarang. TPA Sarbagita yang ada di Suwung sudah tidak bisa menampung sampah lagi. Saat ini sudah melebihi kapasitas dan harus ditutup. Sebab per hari sampah Sarbagita dipasok dengan volume sekitar 1.200 ton dan sudah tidak bisa menampung lagi. 

"Dulu menjelang World Bank dan IMF,  kita rencana mau bikin energi tapi sampai hari ini tidak terwujud. Kita putuskan tutup. Kita buat yang seperti ini dan tadi di Denpasar akan kita bikin 4 lokasi dan sudah dua yang tersedia tanahnya," ujarnya.

Saat ini timbunan sampah di TPA Suwung mencapai 45 meter. Baunya tercium hingga jarak dua kilometer. Kondisi ini sangat mengganggu wisatawan yang ada di Denpasar, Sanur dan sekitarnya. Kesehatan penduduk di sekitar TPA Suwung juga akan terganggu. 

Bahkan pemerintah pernah mengeluarkan anggaran Rp280 miliar untuk menimbun sampah di Suwung namun tidak bisa menyelesaikan masalah. Pemerintah sudah menghitung bahwa dengan melakukan optimalisasi fungsi TPS 3R sebagai tempat pengolahan sampah maka terjadi pengurangan sampah di sekitar 50%. 

Kemudian ditambah dengan pengolahan sampah berbasis sumber seperti TPST SAMTAKU yang bisa dibangun di mana saja maka seluruh sampah di Bali akan bisa teratasi. Ekonomi berjalan, tenaga kerja terserap dan perputaran uang terjadi di desa. (OL/OL-10)

BERITA TERKAIT