07 September 2021, 14:55 WIB

Rutan Kelas IA Surakarta Ubah Penjahat jadi Penjahit


Widjajadi | Nusantara

PEMANDANGAN tidak biasa terlihat di sebuah ruangan besar di antara bangunan bangunan yang ada di area Rumah Tahanan (Rumah Tahanan) Kelas 1A Surakarta, Selasa ( 7/9). Sedikitnya 50 warga binaan pemasyarakatan (WBP) sibuk di depan mesin jahit, mengerjakan pesananan goody bag berwarna kuning.

Sama sekali tidak nampak aura kriminal di wajah wajah narapidana yang sedang tekun menjahit itu. Selain menjahit tas barang pesanan, sudah menanti tumpukan bahan untuk kaos berkerah dari Bandung yang harus dikerjakan.

Kepala Rutan Kelas 1A Surakarta Dharma Yoga mengatakan, layanan untuk memberdayakan para WBP ini muncul ketika dirinya mengikuti Sespim (Sekolah Khusus Pimpinan). "Usai Sespim, kebetulan saya diperkenalkan teman kepada seorang pengusaha dari Bandung, yang bergerak di bidang pertekstilan," ungkap Yoga kepada Media Indonesia.

Gayung bersambut, dalam obrolan dengan Dirut PT Amuratama, Andi Fahrul, timbul gagasan memberdayakan WBP menjadi warga terampil, yang mampu mengisi hari-hari selama menjalani masa hukuman dengan cara cara produktif, dan menghasilkan uang, dan tidal membuat persoalan baru di lingkup Rutan.

Yang membuat saya serius, bahwa Pak Fahrul tidak berorientasi mencari keuntungan dalam kerja sama ini. Ia lebih berorientasi mencari kepuasan batin, bisa terlibat membina napi atau WBP. Karena itulah dibuat MoU hingga berlanjut praktik prodiksi di Rutan Kelas 1A," imbuh dia.

Jadilah sejak Juli silam Rutan Klas IA Surakarta bukan hanya sekadar lembaga untuk membina napi, tapi juga mendidik mereka untuk trampil di bidang produksi tekstil. Bahkan Rutan menyediakan satu ruangan besar untuk produksi garmen dari PT Amuratama.

Ini sebuah terobosan di masa pandemi. Ketika banyak perusahaan terdampak karena pandemi covid yang luar biasa. dari dalam Rutan, muncul produksi garmen, yang bisa membantu pemulihan ekonomi kerakyatan. Tapi khusus WBP kasus penipuan tidak boleh ikut. Ini menyangkut karakter" tegas dia.

Sebelum hal tersebut terealisasi, ada proses seleksi untuk perekrutan sebagai operator oleh Bapas (Balai Pemasyarakatan). Mereka yang lolos ada 50 sesuai kuota yang dibutuhkan, menjalani pelatihan menjahit selama 18 hari di Balai Diklat Industri Jogjakarta.

Kasi Pelayanan Rutan, David Sapto Aji menimpali puluhan warga binaan yang lolos seleksi untuk menjadi operator diberikan pelatihan operator garmen di ruangan Bimbingan Kerja.

"Para WBP diberi ketrampilan menjahit dan operator garmen. Begitu selesai mendaoatkan sertifikat oleh Kementerian Perindustrian, untuk bekal bekerja sebagai operator, mengerjakan bahan tekstil yang disediakan Amuratama," imbuh David.

Urip boleh berbangga, bahwa terobosan memberdayakan WBP dalam bidang pertekstilan ini meruoakan yang pertama di lingkungan Rutan maupun di Lembaga Pemasyrakatan (Lapas) yang ada di Jawa Tengah. "Kalau untuk lingkungan Rutan/Lapas seluruh Indonesia, saya belum monitor," lugas dia.

Yang jelas lanjut dia, dengan model industrialisasi pertekstilan di lingkungan Rutan ini, WBP mendapatkan upah, sesuai kemampuannya dalam bekerja.

"Seperti penyelesaian tiap satu potong goody bag, seorang WBP dapat Rp2.000. Dalam sehari ada yang bisa merampungkan 50 potong goody bag. Belum lagi nanti kerja menyelesaikan pesanan kaos berkerah. Ini jelas lebih besar," kata dia.

Pada Selasa (7/9) datang enam bal bahan baku kaos pesanan dari Tangerang, Banten, yang akan dikerjakan mulai Rabu (8/9). Ada sedikitnya 3.000 pesanan diterima PT Amura dari konsumen di Tangerang yang harus secepatnya diselesaikan.

"Semoga rintisan garmen di Rutan Kelas 1A Surakarta ini bisa berjalan langgeng. Selain garmen, WBP binaan kami juga membuat barang digital, berupa board running tex, sudah ada pesanan dari BNN Kota Surakarta, dan ada dari sesama ritan dannlapas di Jawa Tengaj," pungkas Urip Dharma Yogam. (WJ/OL-10)

BERITA TERKAIT