04 September 2021, 15:13 WIB

Harga Sawit Naik, Petani Aceh Menyambut Gembira


Amiruddin Abdullah Reubee | Nusantara

PETANI di Provinsi Aceh, menyambut gembira kenaikan harga sawit TBS (Tandan Buah Segar). Kenaikan harga jual dari petani ke tengkulak (pengusaha penampung) sejak sepekan terakhir itu sangat mengembirakan petani dan pekerja kebun.

Apalagi udara segar ini menghembus ditengah kondisi bara pandemi covid-19 melanda negeri ini. Tentu sangat berpengaruh positif terhadap warga di pedalaman provinsi berjulukan Serambi Mekkah itu.

Penelusuran Media Indonesia, di Kecamatan Matangkuli dan Kecamatan Pirak Timu, Kabupaten Aceh Utara, pada Sabtu (4/9) misalnya, harga sawit tandan buah segar di tingkat tengkulak mencapai Rp2.000 per kg (kilogram). Harga tersebut lebih tinggi dari pertengahan bulan Agustus atau dua pekan lalu Rp1.700 per kg.

Baca jugaPolisi Cari Pelaku Perusakan Masjid Ahmadiyah di Kalbar

Lalu harga di tingkat agen pengumpul yang bersedia menjemput langsung di lokasi kebun sawit, dari dua pekan lalu Rp1.600 per kg, kini meningkat menjadi Rp1.800 per kg. Kedua pembeli ini langsung membayar lunas saat mengambil buah bahan baku minyak goreng tersebut.

"Ini suatu kegembiraan sehingga meningkatkan motivasi petani sawit. Kadang kami khawatir juga apakan harga seperti sekarang bisa bertahan. Kehadiran pemerintah di tengah perlakuan manajemen pasar sawit cukup diharapkan. Jangan sampai hal ini menjadi titik awal terjun bebas hingga level Rp650 per kg seperti dua tahun lalu" keluh petani sawit Teungku Zakaria yang juga Imam Besar Masjid Babul Khairat, Matang Peusangan Matangkuli.

Kenaikan harga hasil bumi bahan baku minyak goreng ini juga menggembirakan warga Kabupaten Aceh Barat Daya. Namun kenaikan di wilayah Aceh bagian barat selatan ini tidak seindah dinikmati petani Aceh Utara.

Misalnya di tingkat pabrik CPO (pabrik pengolahan sawit) PT Mon Jambe, Gampoeng Ie Mirah, Kecamatan Babahrot, Aceh Barat Daya, harga sawit TBS juga Rp2.000 per kg. Walaupun harga itu masih belum sesuai dengan di Aceh Utara yang baru ditingkat tengkulak sudah berani membeli Rp2.000 per kg. Sebaliknya harga jual ke perusahaan pengolahan minyak sawit lebih tinggi lagi.

"Kalau dibanding dengan Aceh Utara, sedikit lebih rendah harga di Aceh Barat Daya, mungkin ada permainan pengusaha pengolah CPO. Di sinilah timbul pertanyaan mengapa beda harga di Kabupaten Aceh Utara dengan di Kabupaten Aceh Barat Daya. Itulah perlu kehadiran pemerintah guna mengintervensi harga yang standar dan tidak merugikan pihak manapun" tutur Junaidi  petani sawit di Aceh Barat Daya. (H-3)

BERITA TERKAIT