31 August 2021, 07:10 WIB

Adaptasi di Kala Pandemi dengan Inovasi


Lilik Darmawan | Nusantara

SELEPAS hujan semalaman, jalanan di Desa Onje, Kecamatan Mrebet, Purbalingga, Jawa Tengah (Jateng) licin. Akhmad Prasetya, 45, juga lewat jalan yang menanjak itu. Jalanan yang licin dan menanjak, membuat sepeda motor yang sudah berumur tidak kuat. Beruntung ada anak-anak sekolah yang lewat dan menopang motornya, sehingga tidak jatuh.

Sebagai seorang kader Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) BPJS Kesehatan, Akhmad harus turun ke lapangan, mendatangi satu per satu peserta JKN mandiri yang menunggak iuran. "Kebetulan, saya bertugas di Kecamatan Mrebet. Sejumlah desa yang lokasinya di perbukitan, salah satunya Desa Pengalusan. Ada rumah yang harus diakses dengan jalan kaki. Saya titipkan motor terus jalan kaki sekitar 1 kilometer (km)," kata Akhmad yang ditemui mediaindonesia.com, Sabtu (28/8) lalu.

Keuletannya sebagai kader JKN, membuat dirinya cukup berhasil meyakinkan dan mengedukasi mereka yang menunggak iuran. "Tugas saya sebetulnya hanya meminta kepada warga yang menunggak iuran untuk membayar. Namun, itu tidak sederhana. Butuh pendekatan agar mereka sadar. Ini sangat berbeda dengan tugas debt collector. Sebab, meski harus menagih, namun harus tetap secara persuasif. Karena itu, harus mengedepankan edukasi dan cara-cara yang manusiawi," kata dia.

Sebelum adanya pandemi yakni pada 2019 silam, dalam satu bulan, ia berhasil menyetor tunggakan hingga Rp59 juta. Menurutnya, resepnya adalah memberikan edukasi kepada mereka yang menunggak. Kadang-kadang, sebetulnya mereka kurang tahu jika keikutsertaan JKN adalah seumur hidup atau mereka mengaku tidak bayar jika tidak sakit.

“Karena itulah, mau tidak mau, saya harus tetap mengetahui informasi seputar JKN BPJS Kesehatan. Saya juga sebagai tempat bertanya oleh peserta JKN mandiri," ujarnya.

Termasuk bagaimana mensosialisasikan mobile JKN kepada masyarakat. Sebab, bagi warga desa, untuk mengunduh dan menggunakan aplikasi pasti membutuhkan bimbingan. "Jadi, kami juga harus mau dan bisa untuk mengajari mereka. Sebab, dengan adanya mobile JKN akan lebih memudahkan. Jika saya bisa melayani mereka dan warga puas, maka biasanya, untuk melunasi tunggakan akan lebih mudah bilangnya," kata Akhmad.

Kegigihannya itulah yang membuat Akhmad, menjadi salah satu kader yang memiliki prestasi sebagai pengumpul iuran terbanyak. Pada tahun 2019 lalu, triwulan kedua dan ketiga mendapat penghargaan sebagai kader JKN berprestasi peringkat ketiga dan pertama.

"Kuncinya adalah pendekatan dan memberikan pemahaman kepada mereka. Misalnya, saya mengatakan kalau kita sama sekali tidak pernah tahu kapan akan sakit. Jika tidak melunasi, nanti bagaimana. Mereka kemudian menyadari. Termasuk para ibu hamil. Karena berdasarkan pengalaman, ada ibu hamil yang tertolong karena harus sesar dan telah melunasi, maka biayanya menjadi gratis," kata dia.

Masa Pandemi

Memasuki masa pandemi, Akhmad masih tetap berkeliling. Namun demikian, dia mulai melakukan pembatasan dengan adaptasi.Caranya dengan menerapkan prokes. Misalnya waktu bertemu diperpendek, paling 5 hingga 10 menit. Pertemuan juga dilakukan di luar rumah. Dengan begitu, dia masih dapat melakukan pertemuan tatap muka.

Adaptasi yang dilakukannya itu berbuah prestasi. Sebab, meski masa pandemi, tetapi Akhmad mampu menjadi kader JKN paling berprestasi dengan pengumpul iuran terbanyak pada tahun 2020 di Kabupaten Purbalingga. "Pada masa pandemi, memang berat, karena semuanya terdampak. Apalagi, untuk pertemuan tatap muka dibatasi," katanya.

Pada 2020, BPJS Kesehatan memiliki kebijakan untuk melakukan relaksasi bagi penunggak lebih dari 24 bulan. "Jadi, mereka yang menunggak selama 24 bulan, diberi kesempatan untuk melakukan cicilan. Mereka sangat senang, mengingat kondisi pandemi sangat berdampak pada ekonomi keluarga mereka," ujarnya.

Tak hanya itu, BPJS Kesehatan juga mengeluarkan layanan Pandawa. Jadi, ada dua layanan yang berbasis smartphone yakni Mobile JKN dan Pandawa. "Saya juga menyediakan waktu untuk konsultasi bagi para peserta JKN yang berada di Kecamatan Mrebet atau wilayah kerja saya. Biasanya, malam hari, saya membuka diri untuk ditanya dan membimbing mereka dalam menggunakan aplikasi Mobile JKN maupun layanan Pandawa," jelasnya.

Kepala BPJS Kesehatan Kantor Cabang Purwokerto Debbie Nianta Musigiasari mengatakan ada sejumlah kebijakan maupun inovasi saat pandemi. "Sebagai contoh, karena masa pandemi berdampak pada seluruh masyarakat, maka BPJS Kesehatan mengeluarkan kebijakan relaksasi bagi mereka yang menunggak iuran selama 24 bulan lebih," katanya. Debbie mengakui pada masa pandemi ada peningkatan tunggakan, tetapi tidak terlalu signifikan. Dai mengatakan bahwa secara umum kolektabilitas masih bagus.

"Data Kolektabilitas iuran per Juli 2021 untuk selain segmen peserta mandiri 111%. Sedangkan kolektabilitas iuran per Juli 2021 segmen peserta mandiri sebesar 77%. Kami menempuh beberapa kebijakan di antaranya mewajibkan auto debet bagi peserta mandiri yang baru mendaftar. Kemudian mengoptimalkan kader JKN untuk  mengingatkan kewajiban pembayaran iuran,"jelasnya.

"Layanan Pandawa merupakan inovasi BPJS Kesehatan di masa pandemi. Tujuannya untuk mengurangi kontak langsung sehingga dapat meminimalisir penyebaran Covid-19. Layanan Pandawa sangat efektif dalam memenuhi kebutuhan peserta JKN terkait pendaftaran baru maupun perubahan data peserta," jelasnya.

Dengan hadirnya layanan Pandawa, bukan berarti kader BPJS Kesehatan tidak diperlukan lagi. Mereka tetap dibutuhkan. Hingga kini, BPJS Kesehatan Kantor Cabang Purwokerto mempunyai 84 kader yang bertugas di 4 kabupaten yakni Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara dan Cilacap.

Kondisi pandemi memang penuh tantangan. Sehingga berbagai upaya agar kelancaran iuran para peserta serta layanan tetap dapat berjalan dengan baik. Salah satu kuncinya adalah inovasi yang tiada henti. Supaya program proteksi kesehatan bagi masyarakat tetap terlayani. (OL-13)

Baca Juga:Stok Vaksin Di Cianjur Terbatas, Vaksinasi Covid-19 Di Puskesmas Dua Kali Sepekan

 

BERITA TERKAIT