30 August 2021, 14:50 WIB

Harga Sayuran Murah, Petani Merugi


Depi Gunawan | Nusantara

HARGA jual hasil pertanian di sentra produksi terpuruk imbas pandemi yang cukup panjang. Di saat memasuki masa panen, sejumlah komoditi pertanian dihadapkan dengan harga yang tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Ana, seorang petani Kampung Cisalasih, Desa Cikidang Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat mengaku, harga-harga hasil pertanian mengalami anjlok. Murahnya harga ditengarai karena dampak pandemi ditambah pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). 

"Harga-harga sayuran sedang murah, paling bagus cuma harga tomat yang masih tinggi sekitar Rp12.000 per kilogram, yang lainnya hancur," kata Ana, Senin (30/8).

Ana menerangkan, beberapa jenis sayuran yang saat ini harganya murah di antaranya burkoli Rp3.000 per kilogram, selada atau lettuce Rp500, buncis Rp2.000 per kilogram dan cabe rawit Rp10.000 per kilogram.

"Harga itu juga cengek (cabe rawit) yang kualitasnya bagus, kalau jelek mah lebih murah lagi," bebernya.

Normalnya, menurut Ana, harga sayuran seperti selada dijual dengan harga Rp2.000 dan burkoli Rp10.000 per kilogram. Dirinya harus gigit jari lantaran mulai dari menanam hingga panen butuh ongkos panen yang cukup besar.

Saking murahnya harga selada, petani lainnya malah membiarkan tanamannya tidak diurus hingga kering. Bahkan ada pula petani yang kecewa terpaksa memberikan hasil panen untuk pakan ternak sapi.

"Persoalannya, hasil pertanian tidak bisa masuk pasar induk, jadinya kita rugi besar," ujarnya.

Kendati begitu, ia tetap harus menjual hasil panen pertanian miliknya, meskipun hasilnya minim namun masih bisa mendapatkan penghasilan. Minimal sebagai ongkos lelah ketika harus berjibaku di kebunnya.

"Ada yang tetap dipanen, sebagian lagi masih diurus dan tetap disiram sambil menunggu harga kembali stabil," tuturnya. (DG/OL-10)

BERITA TERKAIT