30 August 2021, 14:36 WIB

Kondisi Terkendali Pascabanjir Bandang Kabupateng Sigi


Ferdian Ananda Majni | Nusantara

PERKEMBANGAN terkini pada Senin (30/8), pukul 11.00 WIB penanganan banjir di Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah, telah dapat dikendalikan oleh BPBD setempat dan unsur terkait lain. Upaya respons darurat mencakup penanganan warga terdampak, pembersihan lumpur dan material yang terbawa banjir bandang.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari menyebut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sigi melaporkan warga masyarakat bergotong royong untuk membersihkan material lumpur di sekitar tempat tinggal maupun yang masuk di dalam rumah mereka. Sedangkan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Sigi melakukan pembersihan gelondongan-gelondongan kayu yang terbawa banjir maupun material lain.

"Dinas PU mengerahkan alat berat berupa eskavator untuk pembersihan maupun perbaikan darurat. Dinas PU provinsi telah menambah satu unit alat berat ke lokasi bencana," kata Abdul Muhari dalam keterangannya Senin (30/8).

Pihak-pihak yang membantu penanganan darurat antara lain, TNI, Polri, Tagana, serta organisasi non-pemerintah. BPBD setempat menyampaikan PMI, RAPI, Aksi Cepat Tanggap (ACT), KSB Dolo Selatan, Relawan Pecinta Alam dan KNPI Sigi

"Kebutuhan yang masih diperlukan saat penanganan daurat saat ini yaitu air mineral dan alat berat. Alat berat diperlukan untuk mengangkut dan membersihkan sampah kayu dan material yang terbawa banjir," sebutnya.

Banjir yang dipicu oleh hujan intensitas tinggi ini terjadi pada Minggu (29/8), pukul 18.45 WIB. Hujan menyebabkan debit air Sungai Rogo meluap, sedangkan tanggul jebol yang mengakibatkan terjadinya banjir bandang di kawasan hilir. Wilayah yang terdampak yaitu dua dusun di Desa Rogo, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi.

"Saat terjadi banjir, ketinggian muka air berkisar 20 hingga 50 cm," ujarnya.

Baca juga : Mahasiswa dan Dosen Unud Mendapat Pencerahan soal Bank Sentral

Bencana ini berdampak pada rumah warga 80 unit dan jembatan rusak 2 unit. BPBD melaporkan kejadian ini tidak mengakibatkan jatuhnya korban jiwa maupun luka-luka.

Menyikapi potensi peristiwa serupa, BNPB mengimbau pemerintah daerah (pemda) untuk mewaspadai musim hujan yang memasuki bulan September hingga November 2021, salah satunya wilayah Sulawesi Tengah bagian barat dan utara. Wilayah tersebut akan memasuki musim hujan pada September hingga November tahun ini. Pemda dan masyarakat diharapkan untuk mengantisipasi potensi bahaya hidrometeorologi selama musim hujan.

"Pantauan BMKG, wilayah Sulawesi akan mengalami musim hujan lebih basah dari normal," lanjutnya.

Berdasarkan analisi inaRISK, Kabupaten Sigi termasuk 13 wilayah administrasi kabupaten dan kota di Provinsi Sulawesi Tengah yang memiliki potensi bahaya banjir dengan kategori sedang hingga tinggi.

Oleh karena itu, semua pihak perlu mewaspadai potensi bahaya seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang maupun kekeringan. Hal tersebut perlu disikapi sejak dini mengingat beberapa faktor alam maupun nonalam yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti intensitas hujan tinggi, daerah aliran sungai (DAS) yang kritis, perilaku manusia, atau pembangunan yang tidak memperhatikan pengelolaan risiko.

"Dengan informasi cuaca dan iklim dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), upaya kesiapsiagaan dan pencegahan dapat dilakukan dengan lebih optimal dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki oleh setiap daerah," pungkasnya. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT