21 August 2021, 16:05 WIB

Kristin dan Mumut dari Matantimali Menyapa Kediri


Briyanbodo Hendro | Nusantara

LANGIT gelap nan mendung menggelayuti bukit yang menjadi titik tertinggi di Desa Matantimali, Morowali Barat, Sigi, Sulawesi Tengah, akhir Juli lalu. Hari seolah telah petang, padahal waktu baru menunjukkan pukul 09.00 Wita. 

Meski remang, kondisi bukit yang terbuka 360 derajat membuat pemandangan sekeliling desa masih dapat terlihat. Hal itu pula yang mungkin membuat bukit tersebut mampu menangkap sinyal seluler, bahkan hingga ke jaringan 4G.

Di pucuk bukit, dua siswi sekolah dasar (SD) sedang asyik duduk berimpitan, beralaskan batu. Kristin Frederika dan Mumut Kartika nama mereka. Keduanya siswi kelas 1 SD Inpres Matantimali yang sedang mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Jemari tangan kanan Kristin sesekali menulisi buku yang ia taruh di pahanya sebagai alas. Sementara itu, tangan kirinya memegangi gawai milik ayahnya, yang ia pinjam untuk bersekolah. Gawai tersebut ia gunakan berbagi dengan Mumut di sebelah. Satu gawai untuk berdua.

Pagi itu, seperti banyak hari lain, Kristin dan Mumut mesti berjalan kaki sekitar 1,5 km dari rumah untuk menuju bukit berketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut. Jalur yang dilalui amatlah curam dan menanjak. 

Akan tetapi, mereka tetap terlihat bersemangat. Barangkali karena ada yang istimewa dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia hari ini. Kristin dan Mumut bersilaturahmi secara virtual dengan siswa-siswi SD di Kediri, Jawa Timur. Guru-guru mereka menjembatani pertemuan pelajar kedua sekolah dasar itu. Selama kelas berlangsung, siswa-siswi saling berinteraksi dengan melempar berbagai pertanyaan atau berbagi cerita. 

"Di daerahku ada pegunungan yang pemandangannya bisa terlihat laut. Bagus banget," cerita Kristin dengan percaya diri kepada teman-teman barunya nan jauh di Kediri.

"Buah-buahan juga banyak. Ada cokelat yang bisa langsung dipetik di ladang, " tambah Mumut. 

Metode PJJ dengan menggunakan internet memang memungkinkan guru untuk berkreasi dan memberi pengalaman berbeda kepada murid tanpa harus terkungkung sekat-sekat dinding kelas. Namun, akses internet yang belum merata di Tanah Air menjadi kendala terbesar dalam menjalani PJJ. 

Itu seperti yang dijalani Kristin dan Mumut. Mereka rela bersusah payah mendaki bukit demi bersaling sapa dengan para siswa dari Kediri yang rata-rata mengikuti pembelajaran virtual dari rumah masing-masing. 

Kasi Insfrastruktur dan Teknologi Kominfo Kabupaten Sigi, Aldisyar, membenarkan bahwa di beberapa wilayah Sigi, khususnya daerah pedalaman, jaringan telekomunikasi dan internetnya belum bisa menjangkau alias blank spot. Kondisi ini antara lain menyulitkan pelayanan masyarakat hingga jalannya pendidikan di masa pandemi.

Untuk itu, sejak 2019, Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kominfo mencanangkan program universal service obligation (USO). "Pada 2021 kami kembali mendapat bantuan sebanyak 48 site BTS yang akan dibangun di 48 desa yang belum terjangkau jaringan telekomunikasi," ujar Aldisyar. 

Satu dari 48 BTS tersebut bertempat di Desa Matantimali. Saat menengok langsung pembangunannya, medio Juli lalu, saya melihat tower BTS telah berdiri kukuh di lereng Gunung Gawalise, Desa Matantimali. 

"Progres pembangunan telah 90%. Kami kejar target akhir tahun ini sudah bisa beroperasi normal. Tower setinggi 32 meter ini bisa menjadi harapan warga untuk terbukanya akses informasi," jelas Satrio Prakoso, Project Manager FiberHome, rekanan Bakti Kominfo dalam pembangunan BTS di Sigi. 

Baca juga: Sinyal Minimalis Tak Surutkan Kreativitas Siswa Mts Pakis

Senada, guru dari Kristin dan Mumut, Maria, berharap pengoperasian BTS itu kelak bisa mempermudah ia dan para muridnya melakukan kegiatan pembelajaran. Tentu, cita-cita Maria mengenalkan seluruh wilayah Nusantara kepada para anak didiknya pun dapat terlaksana saat transformasi digital mewujud di Matantimali. (OL-14)

BERITA TERKAIT