19 August 2021, 20:56 WIB

Flores The Singing Island Virtual Festival 2021 Jadi Panggung Budaya NTT


mediaindonesia.com | Nusantara

INISIASI Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) menggandeng sejumlah musisi Flores seperti Ivan Nestorman, Komodo Project, Jamaican Cafe, hingga Ana Oki Lega untuk mengangkat budaya Flores di mata dunia.

Sajian budaya Flores diapresiasi banyak pihak seperti musisi-musisi di Tanah Air di antaranya Tompi, Sandi Sandor, dan Rayen Pono yang turut mengalunkan penggalan lagu Flores dalam rekaman virtual sebagai dukungan bagi kegiatan yang spektakuler ini.

Tak ketinggalan dukungan atas terselenggaranya festival musik Flores ini datang dari Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah. “Dengan Flores bernyanyi, kita selalu bahagia, imunnya naik” ujar Ganjar dalam sapaan rekaman virtual pada Kamis (19/8).

Dikemas secara virtual karena situasi yang masih dilingkupi oleh pandemi global Covid-19, Flores The Singing Island Festival yang ditayangkan pada kanal Youtube Kemenparekraf kemudian secara simultan disiarkan melalui kanal Youtube Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLF) dan kana Youtube Nestornation.

Flores The Singing Island merupakan festival musik yang memperkenalkan budaya dan kebiasaan asli Flores yang dibalut manis dengan keindahan alam bertujuan untuk mempromosikan Pulau Flores yang indah kepada dunia.

 Labuan Bajo menjadi tuan rumah festival dengan para penampil yang datang dari delegasi 8 kabupaten yang ada di Flores, NTT seperti Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka, dan Flores Timur.

Festival ini melibatkan lebih dari 100 musisi yang bernyanyi di seluruh Pulau Flores, dari ujung barat yang diwakili Labuan Bajo hingga Larantuka di ujung timur.

"Sebuah kado untuk Kemerdekaan Republik Indonesia ke-76 dan menjaga semangat kebangsaan di tengah badai pandemi Covid-19," tukas Ivan Nestorman penggagas festival musik ini.

Flores bukan sekadar pulau indah di bagian timur Indonesia, seorang etnomusikolog Belanda, Jaap Kunst, yang pernah mempelajari musik di Indonesia, dari ujung barat Sabang hingga ujung timur Merauke pada dekade 1930-an melukiskan bahwa masyarakat Flores adalah masyarakat yang senang bernyanyi atau The Singing Society.

 Pengamatan Kunst mengatakan hampir semua kegiatan harian masyarakat Flores selalu dilakukan sambil bernyanyi-nyanyi, mulai dari berkebun, menanam padi, menangkap ikan di laut, hingga melakukan panen.

Berbekal penelitian penting dan monumental dari Kunst itu serta semangat untuk melestarikan, mengembangkan dan mengingatkan kembali masyarakat Flores, NTT, Indonesia bahkan dunia tentang budaya bernyanyi orang Flores, gagasan tentang "The Singing Island" pun berdengung kencang.

"Bagi kami di Flores, pulau ini tidak saja diberikan keindahan alam yang menakjubkan, kehidupan masyarakatnya pun tidak kalah indah, salah satunya lewat suara dan nyanyian yang disenandungkan saat melakukan aktivitas sehari-hari, ini menginspirasi hadirnya virtual Festival The Singing Island," ujar Direktur Utama Badan Otorita Pariwisata dan Labuan Bajo Flores, Shana Fatina.

 “I am here in happy island, where we sing while we talk, a place we love to call our home, where we dance while we walk, happy heart is our medicine” adalah penggalan lirik lagu Flores the Singing Island yang menunjukkan kecintaan masyarakat Flores yang senang bernyayi untuk menyenangkan hati sebagai obat terbaik dalam kehidupan.

.Festival ini juga menjadi bagian ikhtiar dalam mempromosikan musik dan budaya Flores. Dengan begitu, diharapkan pada kemudian hari, tidak hanya Komodo yang menjadi daya jual Flores, namun juga musiknya.

“Flores sudah dikenal dengan keindahan alamnya, kini saatnya budayanya yang luar biasa diperkenalkan,”Ujar Shana Fatina.

Flores The Singing Island Virtual Festival yang ditayangkan bertepatan denganHUT ke-76 Indonesia ini telah mendapatkan antusias yang luar biasa.

Puluhan ribu penonton kanal youtube turut meramaikan dan memberikan komentar sebagai dukungan musisi Flores untuk tetap berkarya bahkan dapat mengobati rasa rindu akan kampung halaman bagi warna Flores yang tersebar baik di Indonesia dan luar negeri.

Salah satu kelompok musisi yang terlibat dalam festival unik ini adalah Orkestra Satu Sikka yang punya mimpi besar untuk memperkenalkan musik-musik tradisional ke kancah Nasional maupun Internasional.

Sedangkan Komunitas Rumah Kreasi Teater Mata Flores yang juga merupakan sebuah komunitas kreatif yang lahir dari kegelisahan sekelompok orang muda dalam festival ini ingin mengajak anak muda untuk menjaga lagi budaya bangsa yang sempat hilang karena pengaruh modern.

Selain itu ada juga Heribertus Adolf Bastian P. Abul atau dikenal sebagai Herto Bastian Abul.

Dia adalah seniman penyanyi, penulis lagu, dan MC yang lahir dan besar di Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur. Di tahun 2006, Herto pernah menjabat sebagai Putra Pariwisata Manggarai Flores.

"Buat saya Flores bukan sekadar pulau dengan panorama alam yang indah, ada akar budaya kuat yang perlu disebarluaskan dari Flores, lewat musik, kami menjaga perdamaian dunia, menjaga kehidupan, dan menginspirasi kehidupan," kata Herto yang juga aktif sebagai seniman yang tampil di televisi nasional.

Dialog interaktif dengan presenter Desi Natalia berjudul Membumikan Flores the Singing Island digelar bersama dengan anggota DPR RI Andreas Hugo Parera perwak, Staf Kemenparekrfa Fransiskus X, Dirut Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores Shana, dan musikus Ivan Nestorman.

Dialog ini mengulas kegiatan bernyayi yang viral walaupun tantangan tetap ada seperti mengatur lapisan masyarakat di daerah Flores, sumba dan sekitarnya untuk turut berpartisipasi bernyayi.

Wakil Bupati Flores Timur Agustinus Payong Boli mengatakan bahwa Festival Musik Flores akan diagendakan setiap tahun dan dijadikan prioritas agar dapat mendatangkan wisatawan, juga diharapkan agara kegiatan ini dapat terus dilaksanakan secara  berkesinambungan.

Sementara itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno mengatakan, “Adanya Badan Pariwisata Labuan Bajo Flores (BPOLBF) bertujuan untuk pengembangan desa wisata, pembangunan creative hub, serta pendampingan dan pelatihan terkait pengembangan skill di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.”

“Harapannya wisatawan dapat menikmati alam dan budaya Flores sebagai destinasi super premium,” tambah Sandiaga. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT