19 August 2021, 17:18 WIB

Sosio Kultural Jadi Kunci Nilai Kebersamaan


Gana Buana | Nusantara

BAGIAN penting dalam sistem sosio-kultural masyarakat di Papua adalah agama. Hal ini, merupakan prinsip 'satu tungku tiga batu'. Batu terdiri dari pemerintah, adat, dan agama.

Melalui pendidikan, nilai-nilai kebersamaan dan persaudaraaan atas dasar kemanusiaan diwariskan dan diajarkan kepada para generasi baru di Papua. Dalam sebuah webinar internasional bertajuk Religions Education and the challenge of harmony In papua-indonesia and cape-town-south Africa: A comparison disebutkan bahwa sejarah Afrika Selatan memiliki kemiripan.

Menurut cendekiawan Afrika Selatan Nuraan Davids, Afrika Selatan memiliki hubungan sejarah dengan Indonesia dimana banyak imigran yang masuk dari berbagai negara salah satunya dari Indonesia. Sejak masa Apartheid, pendidikan muslim telah berkembang dengan dua jalur, yaitu pendidikan di masjid-masjid dan di sekolah muslim. Perkembangan tersebut terus terjadi di masa Post Apartheid dan masa reformasi.

Ia juga mengapresiasi harmonisasi di Papua. Menurutnya, harmoni di Papua, Komunitas muslim di Afrika Selatan khususnya di Cape Town mengambil contoh positif dari komunitas muslim di Indonesia karena sejarah yang sangat dekat. Komunitas Muslim dan Kristen berbaur dengan baik, dan adanya kesadaran untuk menciptakan dialog antar agama. Pernikahan antar agama juga memperkuat ikatan antara agama yang berbeda.

“Pendidikan agama memiliki peran krusial dalam menyediakan jembatan antara identitas seorang muslim dengan seorang warga negara Afrika Selatan,"jelas Professor of Philosophy of Education in the Department of Picy Studies at Stellenbosch University, South Africa tersebut dalam keterangan resmi yang diterima, Rabu (18/8).

Menurut Ketua PWNU Papua Toni Wanggai, Islam telah ada di Papua sejak abad 15 melalui interkasi dengan Kerajaan Tidore. Kemudian pada abad 16 terbentuk kerajaan-kerajaan Islam yang terletak di Raja Ampat. 

"Hubungan Islam dan Kristen di Papua sangat harmonis yang berlangsung sejak 200 tahun yang lalu, dimana Sultan Tidore mengantar misionaris Kristen dari Jerman Otto dan Greisler di Papua pada 1855," kata dia.

Baca juga: Civil Society Diharapkan Jaga Harmonisasi Berbangsa Bernegara

Pendekatan budaya yang dilakukan oleh misionaris melalui pendekatan budaya, diantaranya menerjemahkan Alkitab kedalam Bahasa daerah, mengakibatkan Krsiten lebih cepat berkembang. Harmoni di pemerintahan Papua juga tergambar dalam istilah 1 tungku 3 batu, dimana 3 batu tersebut merupakan perwakilan islam, Kristen dan katolik. Pembagian kekuasaan dilakukan dengan dasar tersebut dengan Gubernur Kristen, Wakil Muslim, Sekda Katolik atau sebaliknya.

"Pendekatan kultural tersebut terus diwariskan melalui berbagai jalur khususnya pendidikan," lanjut dia

Menurut Antropolog Ikhsan Tanggok, Toleransi dan harmoni antar agama di Papua terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan institusi Pendidikan seperti sekolah dan universitas. Ada tiga institusi Pendidikan Islam yang memiliki peran penting dalam menciptakan harmoni dan toleransi di Papua, yaitu Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan Yapis. 

“Papua memiliki tradisi yang kental dengan toleransi, salah satunya adalah Bakar Batu," kata dia.

Tradisi bakar batu memiliki arti yang dalam, yaitu sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuhan dan symbol dari solidaritas yang kuat. Bakar batu juga dapat digunakan sebagai media damai antara kelompok yang berperang. 

Rakyat Fakfak Papua Barat memiliki filosofi yang diperkenalkan oleh leluhur mereka yaitu satu tungku tiga batu. Tungku adalah symbol kehidupan, sementara tiga batu adalah symbol ‘kamu’, ‘saya’, dan ‘dia’ yang berbeda agama, etnis, status sosial dalam satu wadah persaudaraan. Simbol harmoni yang lain yaitu Masjid Patimburak, di Desa Patimburak, Fakfak, Papua Barat," jelas guru besar UIN Jakarta tersebut. (R-3)

BERITA TERKAIT