09 August 2021, 11:35 WIB

Pemburu Liar Membakar Loh Weci untuk Alihkan Petugas TN Komodo


John Lewar | Nusantara

KASUS kebakaran di Loh Wenci Laju Pemali, di kawasan TN komodo diduga kuat bagian dari pengalihan konsentrasi petugas. Para para pemburu liar di dalam kawasan itu sengaja membakar lahan di Loh Weci.

Topografi alam dan pegunungan di bagian barat Pulau Komodo ini masih dalam wilayah Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kekayaan alamnya, baik di darat maupun di laut sangat fantastis. Belum lagi di gua-gua alam bertebing terdapat sarang burung walet dan berbagai hewan lainnya termasuk satwa komodo.

Lokasi Loh Wenci merupakan salah satu pos penjagaan milik BTNK yang letaknya paling luar dan sangat susah untuk dijangkau. Lokasi ini sangat menantang bagi siapa saja yang hendak menuju ke sana. Ombaknya sangat menantang, tepian pantai bertebing curang. Dipenuhi padang savana, hanya satu mata air ada di Loh Wenci milik pos penjagaan TNK.

Lokasi Pos Loh Wenci berada satu mil laut ke lokasi kebakaran Laju Pemali. Tepat persis di perlintasan Jalur laut dari dan ke wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB). Jarak tempuh dari loh Liang desa Komodo Pusat kunjungan wisata ke lokasi pos terluar itu ditempuh 1,5 jam speedboat.

Kerap terbersit kabar terjadi dentuman tembak-menembak antara petugas keamanan bersama para pemburu liar. Kejar-kejaran di laut bagai adegan film sering terjadi. Para pemburu itu mencuri sejumlah hewan baik rusa, kerbau dan menangkap ikan secara ilegal yang diduga dilakukan oleh masyarakat dari luar NTT.

Demikian disampaikan Mustafa Ilham, pemerhati lingkungan, Senin (9/8). Untuk itu Mustafa meminta otoritas Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) harus peka, berhati-hati terhadap situasi kebakaran. Khususnya yang terjadi di arah barat Pulau Komodo yang tak jauh dari pos terluar yakni Loh Wenci. Kebakaran sengaja dibuat pemburu liar untuk pengalihan konsentrasi petugas di sana.

"Ya karena memang wilayah terluar itu di sana, kita dengar terjadi perburuan liar yang dilakukan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Penembakan
dan penangkapan pemburu oleh para nelayan sering terjadi di wilayah itu," terang Mustafa

Kebakatan adalah bagian dari taktik para pemburu, jelas Mustafa, mengalihkan konsentrasi seluruh petugas di salah satu titik. Lalu, mereka menjarah beberapa hewan maupun kekayaan laut.

Di bulan Juli, Agustus dan September sering dimanfaatkan para pemburu liar karena kondisi gelombang laut dan cuaca sangat mendukung. Namun, perlu diingat, di musim penghujan angin dan gelombang bisa saja pemburu itu masuk ke lokasi secara diam-diam.

"Anehnya salah satu wilayah pasar di Dompu NTB di sana tidak ada hewan Rusa, tetapi terjadi transaksi jual beli daging rusa dengan harga yang
sangat fantastis," ungkap dia.

Sementara itu Yonas Ora, salah satu petugas jaga wana yang telah purna tugas menyebutkan, TN Komodo sangat rawan jadi ajang perburuan liar dan pencurian. Kawanan pencuri melakukan penyisiran dan mengalihkan perhatian petugas. Misalnya, ada yang berpura-pura menangkap ikan di dekat pos penjagaan. Padahal hanya kamuflase untuk memantau gerak-gerik petugas. Sedangkan yang lainnya menyusup masuk menangkap rusa menggunakan jaring, bahkan dengan senjata rakitan.

"Kami beberapa kali baku lipat, dini hari menjelang subuh dentuman tembakan dibalas tembakan dari para pemburu liar. Tidak jarang ada korban jiwa. Ini cerita di masa itu," ujar Yonas Ora.

Setelah baku tembak dengan petugas patroli, saat dikejar mereka ternyata memiliki perahu dengan kecepatan tinggi. Kabur melarikan diri dengan speedboatnya.

Ada Kebakaran, Ada Pemburu Liar

Yonas Ora pria asal Kabupaten Nagekeo ini setelah 29 tahun mengabdi dan menjaga kawasan milik BTNK, ditemui di kediamannya, menuturkan bila ada kebakaran di Laju Pemali, sudah bisa dipastikan ada pelaku perburuan liar. Biasanya yang dicuri Rusa dan babi hutan.

Mereka kerap berkumpul di lembah itu dan membuat tenda. Mereka sering lupa memadamkan api seusai berburu hewan-hewan yang ada di dalam kawasan itu. "Di Laju Pemali terdapat banyak Komodo, di sana juga banyak rusa, babi hutan dan burung-burung. Termasuk macaca atau disebut monyet," tutur Yonas.

Kebakaran yang terjadi pada Sabtu 7 Agustus 2021, merupakan aksi kejahatan perburuan ilegal. Kasus itu harus diungkap tuntas. "Termasuk pembuat senjata rakitan maupun penyuplai peluru organik bermerek dari aparat,"ujarnya. (OL-13)

Baca Juga: Kebakaran Savana di Pulau Komodo Mulai Padam

 

BERITA TERKAIT