29 July 2021, 06:05 WIB

Pemkot Makassar Manfaatkan KM Umsini Sebagai Lokasi Karantina Pasien Covid-19


Lina Herlina | Nusantara

KAPAL Motor (KM) Umsini milik PT Pelni, tidak lama lagi akan menjadi tempat isolasi apung bagi pasien covid-19 tanpa gejala dan gejala ringan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Pengoperasian KM Umsini sebagai lokasi karantina akan segera dilakukan.

Untuk tahap awal, Pemerintah Kota Makassar hanya menargetkan 500 pasien saja, dari kapasitas kapal bisa untuk 804 pasien dengan 60 orang tenaga kesehatan. Hal itu diungkapkan Wali Kota Makassar, Danny Pomanto. 

"Saat ini kami tengah mendata pasien yang akan diisolasi di kapal penumpang milik Pelni itu. Laporan yang saya terima sebelumnya, ada sekitar 3.000 pasien yang tengah menjalani isolasi mandiri di rumah. Tapi setelah dicek, ternyata pasien tersebut sudah banyak yang sembuh. Saat ini tersisa sekitar 200 pasien," kata Danny, Rabu (28/7).

Bagi Danny, persoalan isolasi ini bukan soal kemauan melainkan soal kesadaran bersama untuk keluar dari pandemik covid-19. Meski begitu, pasien covid-19 juga tidak bisa dipaksa untuk isolasi di kapal. Dia pun  meminta pihaknya lebih persuasif dalam mengajak warga untuk isolasi di  KM Umsini.

Selama digunakan sebagai lokasi isolasi apung, KM Umsini akan berlabuh di perairan sekitar Pulau Lae-lae yang tidak jauh dari daratan Kota Makassar. Untuk menuju ke sana, pasien akan dibawa dengan menggunakan  kapal kecil yang disiagakan di dermaga.

Ada tiga kegiatan yang difokuskan selama masa isolasi yaitu recovery atau penyembuhan pasien, traning bagi pasien. Mereka dibekali ilmu tentang covid-19, dan recreation atau kegiatan menyenangkan bagi pasien supaya tidak bosan.

Untuk memberi kenyamanan pada pasien yang menjalani isolasi di KM Umsini, Pemkot akan menyediakan hiburan seperti olah raga di pagi atau sore hari. Pasien bisa memanfaatkan deck atas sebagai area terbuka untuk berjemur maupun berolahraga.

Lebih jauh, Danny menyebut alasan memilih isolasi apung itu karena daya tampung KM Umsini besar. Ia membandingkan jika isolasi duilakukan di hotel-hotel yang hanya memiliki daya tampung sekitar 100 pasien.

"Untuk isolasi 1.000 orang, kita butuh 10 hotel. Kalau terpisah-pisah bagaimana repotnya. Maka timbul pikiran kenapa tidak di kapal pelni saja, yang kapasitasnya 2.000 orang, Tapi karena  covid-19, maka dibatasi 900 orang karena dipisahkan," lanjut Danny.

Dalam beberapa kesempatan dia selalu menyebut isolasi apung merupakan  konsep isolasi mandiri untuk pasien covid-19 pertama di Indonesia.  Bahkan Danny mengklaim, jika itu belum pernah dilakukan di kota-kota  besa lainnya di luar negeri, kecuali Makassar. (OL-15)

BERITA TERKAIT