21 July 2021, 10:55 WIB

Aruh Bawanang Ungkapan Syukur Hasil Panen Suku Dayak Meratus


Denny S Ainan | Nusantara

MASYARAKAT suku dayak Meratus Dusun Bayuwana baru saja menggelar upacara adat yang disebut Aruh Bawanang. "Pesta panen" yang digelar dua hari berturut-turut tersebut sedikit mengobati duka warga akibat bencana banjir dan longsor melanda kawasan Pegunungan Meratus beberapa waktu lalu.

Warga Dusun Bayuwana yang bermukim di kawasan puncak Meratus Desa Datar Ajab, Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimatan Selatan ini bergitu antusias mengikuti ritual adat sebagai ungkapan rasa syukur atas panen melimpah, serta permohonan agar sang pencipta memberikan rizki, kesehatan, kesejahteraan serta hasil panen kembali melimpah di tahun berikutnya.

Aruh Bawanang digelar di Balai Adat Bayuwana salah satu dari empat balai adat yang ada di Desa Datar Ajab. Sang Kepala Adat, Haddan bertindak sebagai balian (pemimpin) Aruh Bawanang yang ditandai dengan penyembelihan hewan peliharaan ayam juga ritual tarian adat dan mantra (doa) diikuti tokoh-tokoh masyarakat adat lainnya.

Sebagaimana pesta, hajatan besar ini menyuguhkan aneka makanan khas warga suku dayak yang dimasak kaum perempuan Dusun Bayuwana. Makan bersama dilanjutkan dengan tradisi bahagi dan tarian bakanjar dilaksanakan sebelum acara puncak aruh.

Tidak hanya warga setempat, para tamu yang hadir juga diperbolehkan untuk ikut menari diiringi musik tetabuhan dan gamelan khas suku dayak. "Aruh Bawanang ini juga disebut Aruh Mahanyari sebagai tanda terima kasih kepada leluhur karena hasil panen melimpah serta diberikan keselamatan," tutur Haddan.

Disebut Mahanyari karena setelah melaksanakan aruh barulah beras hasil panen boleh di makan. Jika belum melaksanakan Aruh Bawanang maka pamali hasil panen ladang mereka dikonsumsi. Salah satu bentuk kearifan lokal, warga suku dayak akan menyimpan beras hasil panen sebagai cadangan makanan di dalam lumbung atau Kindai, hingga tahun berikutnya dan dikenal istilah beras usang.

Selain bertani ladang warga suku dayak Meratus umumnya mengandalkan hasil hutan baik berupa kayu maupun hasil hutan non kayu seperti kemiri, madu, bamban, rotan, getah damar. Juga hasil kebun sayuran, kacang tanah, pisang, karet dan lainnya. Hasil hutan dan hasil kebun ini dijual ke kota kecamatan Hantakan atau Kota Barabai, ibukota kabupaten.

Sabri, Kepala Adat Dusun Mangkiling, dusun tetangga Bayuwana yang ikut menghadiri Aruh Bawanang mengatakan dalam satu tahun setidaknya ada tiga kali aruh adat dilaksanakan suku dayak Meratus. Aruh saat akan memulai bercocok tanam (manugal) yang dilaksanakan di ladang (pahumaan).

Kemudian aruh bapalas (basambu), upacara tolak bala yang dilaksanakan di balai adat, serta aruh bawanang atau sering juga disebut aruh ganal, ini merupakan upacara puncak dari siklus bercocok tanam menandakan ungkapan syukur hasil panen penduduk. (OL-13)

Baca Juga:  Epidemiolog Sebut Herd Immunity di Indonesia Sulit Tercapai

 

BERITA TERKAIT