20 July 2021, 10:14 WIB

Paket Wisata Memberi Makan Gajah di Taman Candi Borobudur


Agus Utantoro | Nusantara

MEWUJUDKAN komitmen pariwisata berkualitas (quality tourism), PT Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan dan Ratu Boko (TWC) membuka paket wisata memberi makan gajah di kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, Magelang.

Marketing&Sales Vice President PT Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan & Ratu Boko (Persero) Pujo Suwarno mengatakan paket wisata ini merupakan hasil interpretatif panel relief gajah yang ada di Candi Borobudur.

"Jadi tidak mengada-ada, tetapi memang ada dasar korelasinya," kata Pujo Suwarno di kantor TWC, Selasa (20/7).

Ia menambahkan, belajar tentang relief di Candi Borobudur dan aktivitas memberi makan gajah akan menjadi pengalaman yang unik dan menarik bagi wisatawan yang berkunjung di Candi Borobudur.

Pujo Suwarno menjelaskan, Kantor Unit Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB) diberikan amanah untuk memelihara 5 ekor gajah Sumatra. Kelima ekor gajah itu diberi nama Bona, Zela, Echa, Lisi dan Indra. TWCB, imbuhnya, bekerja sama dengan merawat kelima ekor gajah ini dengan sepenuh hati. Disediakan tempat hidup yang layak, diberi pakan baik serta perawatan termasuk kesehatan yang cukup baik pula.

Para pawang gajah, jelas Pujo, menjaga dan merawat para gajah ini dengan baik termasuk mengajak jalan-jalan berkeliling sekitar Taman Wisata Candi Borobudur.

Baca juga: Mulai Hari Ini, Wisata Candi Borobudur Ditutup

Bahkan, imbuhnya, pengunjung Candi Borobudur juga dapat berinteraksi dengan gajah-gajah tersebut. Dalam paket ini, pengunjung dapat memberi makan dan berfoto dengan gajah.

"Selama mengikuti paket ini, wisatawan akan mendapatkan penuturan dari pawang, terkait kehidupan gajah, perilakunya, serta bagaimana perawatannya," tutur Pujo.

Pun, mendapat penjelaskan perihal gajah sebagaimana yang ada dalam relief Candi Borobudur. Relief gajah di Candi Borobudur merupakan bagian dari cerita Jataka Gajah Agung. Cerita ini bertutur tentang pengorbanan seekor gajah di padang pasir.

"Relief ini terdapat di sisi selatan Candi Borobudur lantai 3 lorong 1 pagar langkan bagian atas bidang H di panil ke6, 7 dan 8. Dikisahkan, Bodhisatwa terlahir sebagai gajah yang mulia.

"Pada suatu hari sang Gajah sedang berada di pinggiran hutan yang dikelilingi padang pasir. Tiba-tiba sang Gajah bertemu dengan sekelompok orang yang sedang kelaparan, kehausan dan keletihan serta merintih meminta pertolongan," ungkapnya mengikuti alur Jataka Agung.

Hati sang Gajah tergerak untuk menolong orang-orang itu. Sang Gajah kemudian menyuruh rombongan itu untuk berjalan ke lembah di kaki gunung. Gajah itu berkata di sana ada danau yang airnya sangat jernih, di dekatnya ada seekor gajah mati, sehingga mereka bisa memakan daging gajah tersebut, dan mengambil ususnya untuk dijadikan kantung-kantung air sebagai bekal perjalanan pulang.

Pujo Suwarno menuturkan lebih lanjut, ketika sekelompok orang yang diberi petunjuk itu berjalan menuju lembah yang ditunjukkan oleh sang Gajah, Gajah Agung segera mengambil jalan lain menuju lembah melalui gunung. Sesampainya di atas gunung, sang Gajah menjatuhkan dirinya ke bawah, tepat pada posisi lembah kaki gunung. Saat rombongan itu sampai di lembah, mereka menemukan danau dengan air jernih dan seekor gajah yang sudah mati. Betapa gembiranya mereka melihat mata air dan bangkai gajah yang masih segar.

Mereka kemudian memotong-motong daging gajah itu dan memakannya. Tak lupa mereka pun menyimpan air menggunakan usus gajah. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa bangkai gajah yang mereka makan adalah bangkai dari gajah yang mereka temui di tengah perjalanan. Gajah yang telah mengorbankan dirinya untuk menolong mereka.

"Ini adalah salah satu kisah keteladanan yang dapat kita pelajari dari relief di Candi Borobudur," tukasnya.

Ia mengungkapkan, dengan cara ini, maka kunjungan ke Candi Borobudur tidak hanya memanjakan mata dan berfoto saja tetapi mendapat pelajaran yang berharga baik dari sisi moral maupun dari sisi keindahan candi itu sendiri yang tertuang dalam relief.

"Pengunjung akan mendapatkan edukasi dari relief yang terpahat di dinding candi," pungkasnya.

Dengan demikian, lanjutnya, kunjungan wisatawan akan menjadi lebih bermakna dan timbul keinginan untuk datang kembali mendengarkan cerita lainnya yang ada di Candi Borobudur dan bahkan mengunjungi candi lainnya untuk mempelajari relief yang ada.(OL-5)

BERITA TERKAIT