19 July 2021, 20:19 WIB

Lombok Tengah Dukung Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca Melalui Pertanian Cerdas 


mediaindonesia.com | Nusantara

GUNA mendukung penerapan Climate Smart Agriculture (CSA) atau Pertanian Cerdas Iklim program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP), Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) TA 2021 bekerja sama dengan Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) Pati melakukan kegiatan pengukuran emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Kali ini difokuskan pada wilayah Lombok Tengah.

Pengukuran emisi GRK padi dilaksanakan pada Maret hingga Oktober 2021 atau pada musim ASEP (April–September) yang berada di 17 kabupaten dan 8 provinsi lokasi lahan sawah demplot CSA SIMURP dan lahan sawah non demplot CSA SIMURP.

SIMURP sendiri merupakan program utama Kementerian Pertanian (Kementan) salah satu tujuannya adalah menurunkan emisi GRK melalui CSA/Pertanian Cerdas Iklim.

Sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) bahwa semua program-program utama Kementan harus didukung sepenuhnya.

CSA SIMURP juga memberikan dampak positif bagi pertanian. Melalui CSA SIMURP produksi dan produktivitas pertanian serta pendapatan petani meningkat.

“SIMURP juga mengajarkan banyak hal kepada petani, bagaimana mengatasi perubahan iklim serta inovasi teknologi di bidang pertanian guna mendukung pembangunan pertanian,” ujar Mentan SYL.

Hal yang sama disampaikan Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi. Ia mengatakan CSA juga mengajarkan budidaya pertanian yang tahan terhadap perubahan iklim. Termasuk mengurangi resiko gagal panen, penurunan emisi GRK serta peningkatan pendapatan petani, khususnya lokasi SIMURP. 

"Untuk itu, kita mengajak agar Pemerintah Daerah yang terlibat program SIMURP untuk mendukung CSA," ujar Dedi dalam keterangannya, Senin (19/7).

Kecamatan Praya Tengah, Kabupaten Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu lokasi SIMURP yang sudah melakukan kegiatan pengambilan sampel pengukuran emisi GRK di lokasi lahan milik kelompok tani Pade Maju Pacu Desa Sasake. 

Nurmalinda Ruri, Penyuluh Pertanian Provinsi NTB menjelaskan, pengambilan sampel emisi GRK tahap I telah dilaksanakan pada 17 Juni 2021 pada umur tanam 55 HST dan tahap II dilaksanakan pada 1 Juli 2021. Pengambilan sampel tahap III pada umur tanam 83 HST dilakukan pada (15/7/2021). 

Pengambilan sampel emisi GRK yang sesuai rekomendasi yaitu pada pagi hari sekitar pukul 07.00 atau 08.00 waktu setempat, karena pada pagi hari udara di sekitar lahan belum terkontaminasi oleh gas gas lain dari asap kendaraan bermotor.

Selain itu,  pengambilan sampel membutuhkan waktu yang lumayan lama di lahan kurang lebih sekitar 3 jam untuk mengambil sampel gas CH4, N2O, dan CO2. 

“Selama pengambilan sampel emisi GRK hampir tidak ada kendala dikarenakan penyuluh BPP SIMURP sudah paham bagaimana teknis pengambilan sampel emisi GRK," jelasnya.

"Hal ini karena peran dari peneliti dari Balingtan Pati yang langsung ke lokasi untuk menjelaskan alat dan teknis pengambilan sampel karena memang diakui ini pengetahuan baru bagi kami penyuluh dan petani," ujar Nurmalinda.

Dengan mengetahui besarnya emisi GRK dari pertanian, kita dapat menentukan tindakan yang dapat menurunkan emisi GRK, salah satunya dengan CSA atau Pertanian cerdas Iklim.

Melalui CSA dapat menentukan besarnya emisi GRK yang lebih rendah, dan meningkatkan pendapatan petani dan prodiktivitas tanaman serta meningkatkan ketangguhan petani terhadap perubahan iklim. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT