19 July 2021, 02:20 WIB

Sumsel Butuh Tambahan Stok Vaksin Covid-19


Dwi Apriani | Nusantara

ANTUSIAS warga Sumatera Selatan untuk melakukan vaksinasi cukup tinggi. Hanya saja stok vaksin yang didistribusikan pemerintah pusat memiliki keterbatasan. Akibatnya, terjadi antrian yang cukup panjang di setiap pelaksanaan vaksinasi massal di wilayah Sumsel.

Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan, jumlah kuota vaksin yang diberikan pemerintah pusat untuk Sumsel mencapai 36 ribu vial. Artinya secara dosis jumlahnya mencapai 360 ribu dosis.

"Bandingkan dengan jumlah nakes yang siap melakukan penyuntikan. Saat ini jumlahnya 49-53 ribu orang. Kemampuan penyuntikan kita itu 100 ribu dosis per hari. Kalau Pak Presiden semalam perintahkan untuk habiskan vaksin. Ya, memang kita sudah habis vaksinnya," kata Herman Deru, Minggu (18/7).

Ia mengatakan, program vaksinasi saat ini hanya mampu mencakup 13 persen warga Sumsel untuk dosis pertama dan 6 persen untuk dosis kedua. Artinya, daerah butuh tambahan stok vaksin lebih banyak.

"Saya berterima kasih. Kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri dan juga ikut vaksinasi sudah cukup tinggi. Hanya saja, kita juga mengharapkan kesadaran vaksinasi ini juga diikuti dengan jumlah ketersediaan vaksin," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Sumsel Lesty Nurainy mengatakan, alokasi vaksin dari pemerintah pusat diakuinya cukup minim. Menurutnya, untuk minggu pertama Juli saja, distribusinya hanya 7.900 vial.

Lalu minggu kedua hanya 8.300 vial. Artinya hanya sekitar 79-83 ribu dosis yang disediakan. "Itu juga sudah termasuk untuk TNI dan Polri. Sangat kurang untuk kebutuhan vaksin kita," bebernya.

Ia menjelaskan, saat ini kebutuhan vaksin Sumsel sekitar 150 ribu vial per bulan. Menurutnya, kebutuhan tersebut sudah diuji pada gerakan vaksin massal 26 Juni lalu. Dimana dari target 38 ribu dosis, capaian vaksinasi bisa mencapai 77 ribu.

"Artinya kita mampu untuk melaksanakan vaksinasi massal dalam jumlah besar asalkan vaksinnya tersedia," terangnya.

Distribusi vaksin juga ikut menjadi persoalan. Sebab, minimnya alokasi yang diberikan membuat daerah kesulitan dalam penjemputan vaksin. â€:Kalau di Palembang distribusi mungkin mudah. Tapi bagaimana dengan kabupaten/kota yang jauh," ucapnya.

Untuk itu, Dinkes Sumsel telah memberikan usulan ke pemerintah pusat agar distribusi vaksin bisa dilakukan dua minggu sekali. "Jangan seminggu sekali. Agar tidak memakan biaya yang  besar distribusinya. Kasihan dengan yang  berada di daerah pelosok,"  pungkasnya. (OL-15)

BERITA TERKAIT