24 June 2021, 15:57 WIB

23 Warga Desa Girimukti Reaktif Covid-19 Diduga dari Klaster Pengungsi


Benny Bastiandy | Nusantara

SEBANYAK 23 warga Desa Girimukti Kecamatan Cibeber Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, reaktif covid-19. Diduga, mereka terpapar dari warga Desa Cibokor Kecamatan Cibeber yang terlebih dulu terkonfirmasi karena wilayahnya bertetangga.

Kepala Puskesmas Campaka, Tito Nustansyah, mengatakan puluhan warga yang reaktif covid-19 itu tersebar di beberapa kampung. Tito tak memungkiri Desa Girimukti berbatasan langsung dengan Desa Cibokor yang notabene warganya terlebih dulu terkonfirmasi covid-19.

"Di Desa Cibokor itu kan terdapat warga pengungsi tanah longsor yang terpapar covid-19," terang Tito, Kamis (24/6). Dugaan sementara, kata Tito, ada keluarga warga Desa Girimukti yang berasal dari Desa Cibokor. Karena bergejala, kemudian dilakukan pemeriksaan dan hasilnya reaktif.

"Ada juga yang datang dari Jakarta dengan gejala kemudian kami lakukan tracing. Warga yang reaktif ini tidak di satu RT, tapi tersebar di satu desa," jelasnya.

Tito mengaku mengoptimalkan testing, tracing, dan treatment (3T) termasuk terus berkoordinasi dengan Satgas Penanganan Covid-19 tingkat desa dan kecamatan untuk upaya penanggulangannya. "Kami juga melakukan koordinasi dengan Babinsa dan Bhabinkamtibmas serta melakukan penyemprotan disinfektan di lingkungan warga," tuturnya.

Warga yang terpapar covid-19 saat ini masih menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing. Mereka pun patuh terhadap semua yang dianjurkan tim satgas desa maupun kecamatan.

"Sejauh pemantauan, semua warga gejalanya ringan. Rentang usia warga yang terpapar bervariatif. Tapi rata-rata usia produktif di atas 20 tahun," ungkap Tito.

Tito tak memungkiri pergerakan angka kasus covid-19 di wilayahnya relatif cukup meningkat. Dari 11 desa, terdapat dua desa yang terdapat pasien konfirmasi. "Ada di Desa Campaka dan Girimukti. Kalau desa yang lain zero (tidak ditemukan kasus)," ungkapnya.

Tim gabungan dari berbagai unsur di tingkat kecamatan dan desa terus berupaya menyosialisasikan dan mengedukasi masyarakat terhadap pendisiplinan protokol kesehatan. Menurut Tito, protokol kesehatan merupakan kunci menekan angka kasus baru.

 

"Semua pihak di unsur pemerintahan desa dan kecamatan terus bergerak melakukan operasi yustisi secara rutin. Ini merupakan upaya kami agar mobilitas masyarakat bisa terus ditekan," pungkasnya. (OL-14)

BERITA TERKAIT