21 June 2021, 11:25 WIB

Menengok Korporasi Petani Stevia Di Minahasa


Mediaindonesia.com | Nusantara

PEMERINTAH terus mendorong pengelolaan sektor pertanian dengan cara-cara korporasi. 

Tumbuhnya korporasi petani menjadi salah satu program prioritas untuk membangun proses bisnis dari hulu ke hilir.
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo terus giat mendorong Korporasi petani di berbagai daerah. 

Salah satu korporasi petani yang berjalan ada di Provinsi Sulawesi Utara. Tanaman yang dikembangkan adalah Stevia.

Bertempat di Kebun Stevia PT. Bejana Kasih Sempurna, Desa Tountimomor,  Minahasa, Sulawesi Utara, telah dilaksanakan kegiatan Launching pengembangan stevia pertama di Kabupaten Minahasa dilakukan panen perdana dan penandatanganan kesepakatan kerjasama (MOU) kemitraan pengembangan budidaya stevia antara Stevia Farms Co,.Ltd dan PT. Bejana Kasih Sempurna (PT. BKS). 

Kesepakatan itu disaksikan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian melalui Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan.

Chief Executive Officer PT. BKS, Oktavianus Minanga manyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung terlaksananya kerja sama ini.  "Kami mengakui bahwa terdapat proses-proses yang harus kami lalui atas kerjasama investasi dari perusahaan stevia asal korea selatan ini hingga saat ini kami bisa melakukan panen perdana secara simbolis dan penandatanganan MoU," katanya dalam keterangan tertulisnya. 

Lebih lanjut dikatakan bahwa PT. BKS melakukan penanaman di lahan 7 Ha dengan benih Yun Nong stevia berasal dari Stevia Farms.co.Ltd Korea. "Kami melibatkan masyarakat petani di sekitar kebun dengan sistem contract farming dan hasil panen stevia akan di ekspor ke Korea Selatan sebagai bahan pangan dan farmasi. Jika tidak ada halangan, sekitar bulan September/ Oktober, kami akan melakukan ekspor perdana ke Korea Selatan melalui port Bitung. Dengan nilai investasi USD 34 juta, perusahaan korea akan segera membangun pabrik atau industry pengolahan stevia di Indonesia," katanya.

Vice President Stevia Farm Co. Ltd, Mr. Kwang Surk, Yoo menyampaikan sangat bangga atas terlaksananya budidaya tanaman stevia ini di Indonesia, khususnya Kabupaten Minahasa. 

"Kami cukup banyak melakukan survey di beberapa negara di Kawasan Asia dan kami menemui hanya di Indonesia yang paling cocok dan optimal untuk pengembangan stevia ini. Kebutuhan Stevia dunia kurang lebih 1.200 ton/ bulan dan sekitar 200 ton nya mampu diserap oleh industri pangan dan farmasi di Korea Selatan sementara sisanya untuk kebutuhan Negara-negara lain yang harus disupply oleh Stevia Farms dengan branding New Stevia. Untuk produk stevia dari Indonesia mempunyai kode international product di korea dengan nama New Stevia Yun Yan," ujarnya.

"Kegiatan budidaya stevia ini merupakan bagian dari program strategis Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian khususnya sebagai tanaman substitusi tanaman tebu yang saat ini cukup banyak tantangan dalam pengembangan dan ketersediaannya," tambah Normansyah H Syahruddin, Koordinator Pemasaran Hasil, Direktorat PPH Perkebunan Kementan.

Pada kesempatan yang berbeda, ditempat terpisah, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan,Dedi Junaedi menyampaikan apresiasi kepada PT. BKS dan semua yang terlibat dalam kegiatan ini atas kemajuan budidaya stevia ini hingga launching pada hari itu. "Dengan adanya diversifikasi sumber pemanis selain Gula Kristal Putih GKP dan Gula Merah, diharapkan dapat mengurangi beban impor, sehingga dapat mendukung pemerintah dalam mewujudkan swasembada pemanis terutama untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga," katanya.

Dengan Slogan “Manis Sehat tanpa Gula” PT. BKS mengajak petani untuk menanam stevia sebagai sumbangsih bagi pembangunan Indonesia dan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat. (RO/E-1)

BERITA TERKAIT