08 June 2021, 18:43 WIB

Ujian SD Disusupi Kampanye Negatif Sawit, Gapki Riau Angkat Bicara


Rudi Kurniawansyah | Nusantara

GABUNGAN Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Riau menyoroti polemik menyusul ditemukannya materi ujian salah satu sekolah dasar di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, yang diduga disusupi kampanye negatif kelapa sawit. Jika hal itu benar, Gapki sangat menyayangkan hal tersebut  

"Jika memang benar ada pertanyaan dalam naskah ujian yang mengandung sentimen negatif terhadap kelapa sawit, maka kami sangat menyayangkan
hal ini. Kami berharap pihak terkait bisa menindaklanjuti polemik tersebut sehingga jelas permasalahan sebenarnya dan kejadian serupa tidak terulang lagi," kata Ketua Gapki Riau Jatmiko K Santosa, Selasa (8/5).

Walau mengaku belum memperoleh dan melihat langsung naskah ujian yang mendapat sorotan tersebut, Jatmiko mengatakan kelapa sawit dan produk turunannya telah menjadi penyelamat ekonomi Indonesia di tengah badai pandemi Covid-19. Ia mengungkapkan industri kelapa sawit tak terpengaruh pandemi bahkan menunjukkan peningkatan ekspor ke luar negeri dan menjadi penyumbang terbesar devisa negara.

Jatmiko yang juga Chief Executive Officer PTPN V tersebut menyayangkan jika kampanye negatif sawit juga terjadi dari dalam negeri dan menyentuh pendidikan dasar. "Kita harus bersinergi dan menunjukkan hal positif dari sawit karena memang komoditas ini terbukti mampu mengangkat ekonomi masyarakat. Kami dari Gapki Riau juga akan mengadakan edukasi bagi stakeholders termasuk dunia pendidikan, semoga kedepan kita dapat bersama-sama menjaga sumber penyumbang devisa negara ini dari berbagai kampanye hitam," ujarnya.

Dugaan kampanye negatif salah satu komoditas unggulan Indonesia, kelapa sawit, ditemukan menjadi materi ujian di salah satu sekolah dasar di Kampar. Materi ujian tersebut direspon keras mahasiswa yang menilai kampanye negatif sawit telah berlangsung secara sistematis dengan menyasar anak-anak sekolah.

"Kami protes keras soal ujian disalah satu SD di Riau yang mendiskreditkan sawit. Kami menilai itu upaya penggiringan yang terstruktur, sistematis, dan massif agar anak-anak Indonesia membenci sawit. Itu bahaya, kalau anak sekolah dasar pun telah dicekoki hal semacam itu," kata Ketua DPP Forum Mahasiswa Sawit (Formasi) Indonesia Amir Aripin Harahap.

Ia menjelaskan pertanyaan dalam kertas ujian SD tersebut berada pada nomor urut 17 dengan jenis soal pilihan ganda. Pertanyaan dalam lembar kerta ujian itu berbunyi "Dampak negatif interaksi manusia dengan lingkungan pada perkebunan kelapa sawit adalah...? A. Meningkatkan lapangan pekerjaan, B. Meningkatkan pembangunan daerah, C. Berkurangnya sumber daya air, dan D. Pemukiman penduduk semakin banyak."

Amir memastikan cukup banyak penelitian yang mementahkan bahwa sawit merupakan tanaman boros air. Stigma itu merupakan bagian dari kampanye negatif yang dihembuskan pihak tertentu termasuk menuduh bahwa sawit tidak ramah lingkungan.

"Begitu banyak penelitian yang jelas menunjukkan sawit adalah tanaman yang efesien dalam pemanfaatan air dibandingkan dengan kelapa, kedelai, atau jagung," jelasnya. (OL-15)

BERITA TERKAIT