07 June 2021, 23:39 WIB

Agar Upaya Menyelamatkan Nyawa Tak Berujung Petaka


Iis Zatnika | Nusantara

 

Kesibukan itu terjadi tak henti, selama 24 jam, di Unit Tranfusi Darah (UTD) PMI Jakarta di Jalan Kramat Raya. Pendonor sukarela yang datang atas inisiatif pribadi dan pendonor pengganti, sebutan buat mereka yang didatangkan keluarga pasien yang diharuskan membawa pengganti  stok darah, datang silih berganti. 

Form-form untuk memastikan pendonor sehat dan prima kondisinya mesti mereka isi. Pemeriksaan kemudian berlanjut ke meja tes hemoglobin (HB) untuk memastikan angka protein dalam sel darah mencukupi. Ujung jari ditusuk sesaat saja dan luka kecilnya ditutup kasa beralkohol.

Lolos dari uji HB, pendonor akan diukur tekanan darahnya, ditimbang berat badan untuk memastikan tak kurang dari 45 kgp. Berikutnya, sebagian besar pendonor akan masuk ke ruangan pengambilan sel darah merah dengan jok-joknya yang empuk. Di sini darah yang diambil sebanyak 300 hingga 350 cc. 

Namun, sebagian kecil pendonor akan menuju ke lantai dua, usai dinyatakan skrining awal. Mereka menuju lokasi donor darah apheresis buat diambil trombositnya menggunakan mesin. Darah disedot, diurai untuk diambil trombositnya dan dikembalikan ke tubuh. 

Proses ini berlangsung hingga satu jam, namun manfaat yang didapat juga sepadan dengan pengorbanan waktu sang pendonor. Satu kantung trombosit yang berwarna kuning mirip perasan jeruk itu setara dengan enam hingga sepuluh kantung darah merah. Pasien kanker anak, mereka yang melakukan kemoterapi, radiasi dan penderita DBD akan tertolong karena gangguan pembekuan darahnya teratasi dengan tranfusi trombosit itu. 

Prosedur serupa, juga dilakukan oleh pendonor terapi konvaselen, para penyintas covid-19 mendonorkan plasma darahanya untuk pasien dalam kondisi sedang hingga berat. Terpisah ruangan, ruangan donor plasma konvaselen yang dibuka pascakorona merebak, senantiasa sibuk. AKtivitas kian memuncak saat lonjakan kasus naik dan  jumlah pasien di ICU rumah sakit bertambah.  

Kesehatan, kerja bersama
Rantai panjang kolaborasi yang terjadi antara mereka yang terlibat dalam ikhtiar untuk meningkatkan derajat kesehatan di negeri ini, terus berlanjut. Dari inisiatif kemanusiaan pendonor, PMI, penerima tranfusi hingga rumah sakit (RS) yang merawat pasien, proses terus berlanjut. 

Ada limbah medis yang kemudian dihasilkan. Saat donor sel darah merah berlangsung, sebagian selang dan tabung uji untuk menyeleksi keamanan darah berakhir di tempat sampah medis. Begitu pula di ruang apheresis, sampah medis yang dihasilkan bahkan lebih banyak. 

Selang yang digunakan lebih panjang karena proses dengan mesin, begitu pula tabung uji yang lebih banyak, termasuk untuk menghitung kadar trombosit. Sebuah tabung berdiameter yang dioperasikan dalam mesin, diameternya sekitar 15 cm juga digunakan sekali pakai dan harus langsung dibuang karena hanya bisa digunakan setiap satu pendonor.      

Belum terhitung jika sel darah merah dan trombosit itu kemudian tak bisa dipakai karena terbukti mengandung penyakit menular atau kadaluarsa. Pada kasus ini, yang dibuang bukan hanya selang dan labu kosong, tapi juga darah yang tersimpan di dalamnya. 

Begitu sampai di ruang perawatan, di tengah kerja keras petugas medis untuk menolong  dan perjuangan pasien buat bertahan, limbah medis pun dihasilkan kembali. Kantung sel darah merah dan trombosit yang kosong itu harus dibuang bersama jarum suntik dan selang-selangnya.   
   
Maka, kerja panjang yang melibatkan sejumlah pihak yang saling bahu membahu mendukung pelayanan kesehatan di negeri ini, termasuk saat covid-19 merundung, terus berlanjut. Tong sampah medis yqng diangkut petugas dengan hati-hati, baik di ruangan donor darah maupun di kamar perawatan hingga ICU, tentunya butuh penanganan tak kalah mumpuni. 

Repotkan RS
Mencegah limbah medis ini menjadi masalah kesehatan yang baru, adalah kerja panjang yang melibatkan riset, regulasi, prosedur kepatuhan dan komitmen berbagai pihak. 

"Kami kerjanya merawat pasien dan tentunya tak ingin menimbulkan pasien baru karena limbah medis tidak ditangani dengan baik. Maka, RS yang memang punya sistem kerja yang kompleks ini juga harus bertanggungjawab hingga pada limbah medis yang oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dimasukkan dalam kategori bahan berbahaya dan beracun (B3). Tentu butuh dukungan dari banyak pihak untuk memastikan penanganannya terjamin, mulai RS sendiri, pemerintah sebagai regulator dan pengawas hingga perusahaan pengangkut dan pemusnah limbah medis. Jika tidak, RS sendiri yang akan kena batunya," ujar Sekretaris Jenderal Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Lia G Partakusuma. 

Pemanggilan RS oleh kepolisian, terkait temuan limbah medis yang dibuat di tempat pembuangan sampah hingga di jalanan, kata Lia, adalah salah satu contoh masalah yang ditimbulkan penanganan yang tidak optimal. Masalah itu diduga dipicu perusahaan jasa pengangkutan limbah medis tak bertanggungjawab. 

Naik dipicu pandemi
Data Kementerian Kesehatan menyatakan di masa pandemi, limbah medis di Indonesia meningkat 30-50% dan pada 2020 mencapai 295 ton per hari. Mimpi buruk RS yang kini juga bekerja ekstra keras menangani pandemi, itu diantisipasi oleh Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cibinong dan RS Azra, keduanya di Bogor, Jawa Barat. 
   
Limbah medis yang dihasilkan RS-RS itu menjadi bagian dari limbah B3 yang diangkut dalam truk-truk kontainer yang berbaris measuki gerbang PT. Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI) di Jalan Raya Narogong, Desa Nambo, Cileungsi, Bogor, salah satu dari 14 perusahaan pengelola B3, termasuk limbah medis yang terdaftar di KLHK. 

Buat memastikan keamanan, kontainer juga dilengkapi pendingin bertemperatur kurang dari 20 derajat celscius.  Dari fasilitas penyimpanan di RS, limbah medis  yang dihasilkan dari kegiatan medis sekali pakai seperti alat suntik, bekas infus dan alat pelindung diri (APD) hingga sampah dari laboratorium yang berisiko menginfeksi dan beracun, itu dikirim untuk dimusnahkan. 

Sebagian RS menyerahkan sepenuhnya penanganan limbah medis, namun ada pula yang menyerahkan sisa abu pembakaran dari insinerator miliknya. Manager Humas PPLI, Arum Pusposari menjelaskan, limbah medis yang mereka tangani mencakup objek benda tajam sekali pakai, sampah infeksius, sampah patologis, sampah beracun, sampah farmasi serta limbah kimia. 

"Limbah itu kami kemas dan labeli, angkut, dimusnahkan dalam fasilitas bersuhu tinggi dalam insinerator, dan residunya kemudian dipadatkan setelah dihilangkan zat-zat berhaya, lalu ditempatkan di lahan yang selanjutnya akan kami jaga ekologinya hingga 30 tahun setelah lokasi ini ditutup," kata Arum.  

Laporan yang diserahkan ke RS pun meliputi pengangkutan hingga pemusnahan, sehingga perawat, dokter dan manajemen RS yang berjibaku menolong pasiennya tak mesti galau. Kerja menyelamatkan nyawa yang mereka lakukan setiap hari, tak justru  berujung pada risiko yang membahayakan nyawa. (X-6)

BERITA TERKAIT