07 June 2021, 20:59 WIB

Buah Tledung yang Menggiurkan di Lereng Merapi


Widjajadi | Nusantara

POTENSI pertanian lereng Merapi-Merbabu di kawasan Kabupaten Boyolali, berbingkai wisata alam menjadi berkah bagi petani setempat. Setidaknya pengunjung bisa menikmati sajian kuliner dan makanan khas warga pegunungan ini.

Ada pula buah khas Selo yang namanya kesemek tapi lebih kondang dengan sebutan kledung. Buah khas lereng Merapi ini biasa dipanen dalam rentang bulan Mei-Juni. "Sudah sejak Mei lalu, kledung dipanen petani," kata Kepala Dinas Pertanian Boyolali, Bambang Jianto, Senin (7/6).

Buah kledung, rata-rata berukuran 2-8 cm ini selalu tumbuh subur di kawasan Selo yang berhawa sejuk. Buah yang berwarna hijau kekuningan hingga jingga kemerahan ini tidak bisa langsung dimakan, harus diproses terlebih dahulu.

Baca Juga: Catat, Ini Manfaat Daun Sirsak dan Efek Sampingnya

''Untuk proses perendamannya itu dari dipetik (sampai matang) selama enam hari, dengan batu kapur,'' ungkap petani buah kledung, Sukamto yang tinggal di Desa Samiran, Kecamatan Selo pada Senin (7/6).

Buah kledung harus diproses terlebih dulu dengan direndam pada air kapur. Jadi banyak orang mengira warna putih pada buah tersebut menjadikan tidak menarik. Padahal warna putih tersebut yakni kapur yang dapat menghilangkan rasa sepat dan getahnya.

Pemasaran buah kledung ini juga terbilang cukup mudah. Masyarakat sekitar hanya perlu menjajakan buah kledung di pinggir jalan jalur Solo-Selo-Borobudur (SSB). Selain itu, buah kledung juga dipasarkan ke luar wilayah Kecamatan Selo.

''Dijual ke pasar tradisional di Salatiga tiap tiga hari membawa 7,5 kwintal. Kalau lokal dijual di pinggir jalan, Rp 10 ribu/kg,'' katanya.

Dengan harga Rp10.000 per kilogram, masyarakat bisa menikmati buah dengan tekstur dagingnya mirip dengan buah pir, lembut dan berair, sangat segar dikonsumsi. (WJ/OL-10)

 

BERITA TERKAIT