02 June 2021, 13:40 WIB

Uskup Agung Mandagi Undang Paus Fransiskus ke Merauke


Mediaindonesia.com | Nusantara

USKUP Agung Keuskupan Agung Merauke Mgr PC Mandagi MSC mengundang Paus Fransiskus untuk hadir di Keuskupan Agung Merauke, jika Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Dunia itu ke Indonesia setelah tertunda dari jadwal semula karena covid-19.  Namun Mgr Mandagi mensyaratkan kehadiran Paus Fransiskus di Merauke dimungkinkan jika Papua Selatan menjadi provinsi tersendiri.

Undangan itu dikatakan sebagai bentuk kontribusinya untuk menyelesaikan masalah Papua dengan cepat, damai, tanpa dendam, dan dalam ikatan NKRI. Undangan untuk Paus Fransiskus itu ditegaskan Uskup Mandagi ketika menerima kunjungan Pendiri Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) AM Putut Prabantoro yang juga Presidium Bidang Komunikasi Politik ISKA (Ikatan Sarjana Katolik Indonesia) di kediamannya, Merauke, Selasa (1/6).

Dalam pertemuan itu, Mgr Mandagi menginformasikan sebagai Uskup Agung dirinya akan menerima Pallium dari Paus Fransiskus pada 22 Juni 2021. Pada November 2020, Mgr Mandagi diangkat sebagai Uskup Agung Merauke oleh Paus Fransiskus. Meskipun sudah ditunjuk sebagai Uskup Agung Merauke, Uskup Mandagi masih merangkap jabatan sebagai Uskup Amboina, Wilayah Maluku. Ketika terjadi konflik sosial di Maluku, Mgr Mandagi merupakan salah satu tokoh sentral perdamaian di wilayah itu.

Terbentuknya Papua Selatan menjadi provinsi baru hasil pemekaran di Papua, menurut Uskup Mandagi, merupakan pemecahan strategis dan penyelesaian atas masalah wilayah Papua termasuk konfliknya. Dirinya juga ingin menyampaikan pesan kepada dunia bahwa Papua tidak seperti suara-suara para propagandais dan pendukung pemisahan diri Papua dari NKRI.

"Kami di wilayah Papua Selatan hidup dalam damai, toleran, dan kerukunan antarsuku sungguh terlihat. Konflik bukan berada di wilayah selatan. Dunia harus tahu Papua seperti apa dan saya ingin menegaskan bahwa Papua adalah wilayah NKRI. Saya ingin Papua diselesaikan secara damai, cepat, dan tanpa dendam," ujar Mgr Mandagi.

 
Alasan yang diberikan oleh Uskup Mandagi yaitu dirinya melihat ada ketidakadilan dalam distribusi dana otsus dan digunakan tidak secara bijak sehingga menghambat pembangunan daerah-daerah di Papua. Rentang kendali pemerintahan untuk Papua dengan wilayah yang begitu luas, merupakan alasan lain, karena sangat tidak efektif untuk pembangunan daerah dan pemberdayaan masyarakat.

Uskup Mandagi juga melihat sebagian para pemimpin daerah di Papua kurang memberikan contoh yang baik dan bijak bagi masyarakatnya. Yang paling parah yakni stigma buruk atas Papua dari dunia luar berdampak pada Papua Selatan yang damai dan aman.

"Kami (Papua Selatan) sangat kaya dengan alamnya. Kami ingin mengelola dana dari pemerintah apapun namanya untuk pembangunan sendiri bagi kesejateraan rakyat. Keterlibatan masyarakat dalam pengawasan penggunaan dana-dana itu sangat dimungkinkan jika Papua Selatan menjadi provinsi sendiri. Papua Selatan akan menjadi contoh bagi wilayah-wilayah Papua lain terkait dengan percepatan pembangunan dan bermanfaat bagi semua rakyat. Saya ingin menunjukkan kepada dunia bahwa masyarakat Papua Selatan sangat bertanggung jawab atas hidupnya. Oleh karena itu, Papua Selatan akan memfokuskan diri pada pendidikan sebagai salah satu program prioritas," tegas Uskup Mandagi.

Keuskupan Agung Merauke merupakan metropolit Provinsi Gerejani dalam kesatuan dan fungsinya sebagai pemersatu dengan keuskupan-keuskupan yang berdekatan letaknya. Untuk Papua, Keuskupan Agung Merauke merupakan metropolit Provinsi Gerejani yang meliputi wilayah Keuskupan Agats, Keuskupan Jayapura, Keuskupan Manokwari-Sorong, dan Keuskupan Timika.  Pallium adalah sehelai selempang berbentuk lingkaran yang diberikan dan penggunaan dikhusukan bagi Sri Paus dan para uskup agung metropolitan (yang mengepalai satu provinsi gerejani).

 

Dalam pertemuan itu, kepada Uskup Mandagi oleh Putut Prabantoro diinformasikan telah mengadakan Peringatan Hari Lahir Pancasila dengan menyerahkan buku Masyarakat Pancasila kepada para tokoh masyarakat setempat di Titik Nol Kilometer Indonesia, Sota, Merauke, Senin (21/5). Putut Prabantoro ialah lulusan Lemhannas PPSA XXI sekaligus editor buku Masyarakat Pancasila yang ditulis Letjen TNI (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo, mantan Gubernur Lemhannas dan sesepuh TNI. (RO/OL-14)

BERITA TERKAIT