27 May 2021, 14:49 WIB

Di Soppeng, Poktan Peserta Sekolah Lapang IPDMIP Alami Peningkatan


mediaindonesia.com | Nusantara

KEGIATAN Sekolah Lapang (SL) IPDMIP (Integrated Participatory Development and Management of Irrigation Program) di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan (Sulsel), semakin diminati. Buktinya, jumlah peserta yang mengikuti kegiatan ini mengalami peningkatan. Tahun ini, Sekolah Lapang IPDMIP memasuki tahun kedua di Soppeng.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, IPDMIP akan membantu petani meningkatkan produktivitas.

"Salah satu tujuan IPDMIP adalah meningkatkan produktivitas, khususnya di daerah irigasi. Oleh karena itu, manfaat yang bisa didapat sangat banyak," katanya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, mengutarakan hal serupa.

"Peningkatan produktivitas yang dilakukan IPDMIP, salah satunya dilakukan dengan meningkatkan kualitas SDM. Caranya dengan menggelar sejumlah pelatihan, termasuk Sekolah Lapang," tutur Dedi dalam keterangannya, Kamis (27/5).
   
Konsultan Koordinator IPDMI Kabupaten Soppeng, Abdul Kadir, mengatakan, tahun ini kegiatan Sekolah Lapang-1 (SL-1) IPDMIP merupakan tahun kedua dalam pelaksanaanya. Anggarannya sebesar 44,4% dari total pagu AWPB Kabupaten Soppeng 2021, atau sebesar  Rp553 375.000 dari total pagu Rp1.246.893.000.

"Ada peningkatan pada 2021 ini jika dibandingkan dengan tahun lalu baik dari segi jumlah penggunaan anggaran maupun dari segi jumlah kelompok tani yang ikut dalam SL-1  ini," tuturnya.

Menurut Kadir, tahun ini jumlah kelompok tani yang ikut dalam SL-1 ada 25 kelompok yang tersebar di 5 DI kewenangan kabupaten, 1 DI kewenangan provinsi, dan 1 DI kewenangan pusat dengan masing-masing anggota 25 orang yang terdiri atas 30% wanita, serta melibatkan petani kecil dan petani milenial (usia muda). 

"Perencanan SL-1 tahun ini lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Hal ini dibuktikan dengan dilaksanakannya tahapan Rembuk Awal yang merupakan tahapan perencanaan yang bersifat partisipatif," tuturnya. 

Dijelaskan Kadir, pada tahapan ini anggota kelompok tani sendiri yang menentukan jadwal pelaksanaan SL-1. Petani juga menentukan materi yang diberikan sesuai dengan kebutuhannya.

Petani juga yang menentukan lokasi Laboratorium Lapangnya masing-masing. Sehingga, pada SL-1 kali ini segala sesuatu menyangkut jadwal, materi serta narasumber sudah siap sebelum pertemuan pertama SL-1 dilaksanakan

"Penyediaan buku catatan petani yang merupakan kegiatan lain yang terkait dengan SL-1, juga sudah dilaksanakan. Sebanyak 625 eksemplar buku catatan petani sudah didistribusikan ke masing-masing anggota kelompok tani sebelum mereka mulai mengikuti pertemuan pertama Sekolah Lapang," jelasnya.

"Selain itu agar tercipta keteraturan dan keseragaman dalam pelaksanaan SL, DPIU juga menyiapkan baju seragam yang designnya disesuaikan dengan kebutuhan mereka di sawahnya," urai Kadir.

Sementara Deputi Manager NPIU Pertanian IPDMI Kabupaten Soppeng, Sulhukmi SP, mengatakan total pertemuan yang direncanakan SL-1 tahun ini sebanyak 300 pertemuan.

"Dengan asumsi bahwa setiap kelompok melakukan pertemuan sebanyak 12 kali pertemuan yang dijadwalkan mulai bulan April sampai dengan Agustus 2021 dan diikuti sebanyak 625 anggota kelompok tani dan sekitar 30% dari jumlah ini adalah perempuan yang merupakan kebijakan kesetaraan gender," paparnya.

Menurutnya, pertemuan SL-1 tahun ini direncanakan sedemikian rupa agar beriringan dengan jadwal musim tanam. 

"Sehingga materi yang disampaikan pada saat pertemuan sesuai dengan kondisi pertanaman masing-masing anggota kelompok tani. Diharapkan petani dapat memahami materi yang diberikan langsung, serta bisa diadopsikan di lahan masing-masing," katanya.

Selain itu, dalam rangka mengadopsi kebijakan pemerintah kabupaten Soppeng yakni ASBATIK (Ase, Bale, Itik) yang merupakan sistim pertanian terpadu antara padi, ikan dan itik, maka setiap kelompok tani dalam melaksanakan SL-1 menyisipkan materi Sistem Pertanian Terpadu.

Tujuannya untuk memotivasi petani agar pada lahan usaha taninya (sawah) selain padi juga mengusahakan ikan dan itik (telur itik) yang mana kebijakan ini seiring dengan program IPDMIP 'Isi Piringku'.

Sulhukmi menambahkan, dari 12 pertemuan yang direncanakan pada masing-masing kelompok tani materi yang diantarkan secara garis besar menyangkut masalah-masalah Benih, Pengolahan, dan Kesuburan Tanah, Sistem Penanaman, Sistem Irigasi, Pemeliharaan Tanaman, Penanggulangan OPT, Panen dan Pascapanen, Analisa Usaha Tani, dan Sistem Pertanian terpadu.

"SL IPDMIP melakukan berbagai  metode pembelajaran lapangan, baik berupa pemberian materi langsung maupun praktek dan pengamatan langsung di Laboratorium Lapang pada masing-masing kelompok SL," jelasnya.

Pemateri setiap pertemuan SL-1, diharapkan dapat memberdayakan masing-masing Penyuluh Pendamping. hususnya yang telah mendapatkan pelatihan ditingkat Propinsi yang dilaksanakan oleh PPIU Sulsel.

"Dalam pelaksanaan SL-1 ini setiap pertemuan mendapat Supervisi dari DPIU Kab. Soppeng dengan melibatkan Fungsional Kabupaten yang dimonitoring langsung Kepala Bidang Penyelenggaraan Penyuluhan," katanya.

Sampai pekan ketiga Mei 2021, sudah terlaksana 31 pertemuan atau sekitar 10% dari jumlah pertemuan yang direncanakan, sedikit agak melambat akibat break pada saat bulan Ramadan dan diharapkan akan kembali running setelah Ramadan dan mencapai target rampung pada akhir Agustus 2021.

Sekolah Lapang IPDMIP ini diharapkan mampu meningkatkan SDM pelaku utama (petani) sehingga dapat meningkatkan produksi tanaman utama (padi) dan di sisi lain mampu meningkatkan pendapatan petani dengan adanya sistem pertanian terpadu yang diterapkan pada lahan petani pelaksana sekolah lapang. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT