26 May 2021, 10:50 WIB

Janda-janda Tua Penghasil Garam Untuk Warga Sikka


Gabriel Langga |

SETIAP hari mereka sudah berada di sekitar 60 puluhan gubuk kecil di pinggir pantai. Di gubuk yang beratap daun kelapa dan berdinding bambu
seukuran 5x4 meter ini, terlihat perempuan mengenakan kerudung sedang memasak garam secara tradisional.

Produksi garam secara tradisional itu dikerjakan perempuan tua yang berusia rata-rata lebih dari 50 tahun. Umumnya mereka janda yang ditinggal mati suaminya. Mereka merupakan warga Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Untuk menghasilkan garam tidak mudah. Para janda ini mampu mengerjakan tanpa meminta bantuan orang lain. Mereka sudah lama menggeluti membuat garam, laiknya laki-laki perkasa. Dimana semua proses pembuatan garam mulai dari membelah kayu, mengangkat air laut dan memasak garam dilakukan sendiri tanpa bantuan dari anak-anak mereka.

Garam mereka isi sendiri ke dalam karung dan dijualnya ke pasar-pasar di Kabupaten Sikka. Saat memasarkan garam inilah, para janda tua itu sekaligus istirahat memproduksi garam selama dua hari. Tidak ada kata mengeluh keluar dari mereka.

Saat ditemui mediaindonesia, Rabu (26/5) di lokasi pembuatan garam, Haije yang sudah usia 60 tahun masih terlihat segar mengatakan, sejak kecil ia sudah bisa memasak garam. Kini setelah suaminya meninggal dunia, dia sendiri mengolah garam.

Sebelumnya, kata dia, ia tinggal di Pulau Babi dan tetap melakukan aktivitas memasak garam secara tradisional. Namun di tahun 1992, Pulau Babi dihantam gempa dan tsunami, sehingga ia bersama keluarganya harus pindah di Desa Nangahale dan tetap melakukan aktivitas membuat garam.

"Hampir semua warga di Desa Nangahale ini dulu tinggal di Pulau Babi. Tetapi waktu gempa dan tsunami, kami semua harus pindah di Nangahale," ujar dia sambil mendorong kayu bakar pada tungku tempat di mana garam sedang dimasak.

Haije yang suaminya sudah lama 10 tahun meninggal dunia mengatakan, setiap harinya dirinya harus berada di gubuk untuk membuat garam. Karena dalam sehari, ia harus menghasilkan maksimal dua karung ukuran 20 kg.

"Untuk buat garam ini saya lakukan sendiri. Mulai dari belah kayunya, ambil air laut hingga memasak garam. Tidak ada bantuan dari anak-anak karena mereka sudah besar semua dan sudah berkeluarga. Jadi saya kerjakan sendiri," papar dia yang wajah kerap terkena asap api dalam memasak garam.

Disampaikan dia, usai garam jadi, ia juga sendiri menjualnya di beberapa pasar yang ada di Kabupaten Sikka. Selain itu, dirinya juga pernah menjual garam hasil buatannya sendiri itu ke Pasar Boru yang ada di Kabupaten Flores Timur.

"Kalau garam sudah diisi di beberapa karung. Saya sendiri lagi yang jual. Soal harga jual tergantung kesepakatan kita dengan pembeli. Biasa yang beli
garam ini papalele yang paling banyak," tandasnya

Ia mengaku dari hasil keuntungan dari jual garam itu dirinya simpan untuk membantu membiayai pendidikan cucu-cucunya yang masih kuliah hingga ada
cucunya yang sudah jadi sarjana dari lewat hasil jual garamnya.

"Lumayan dari hasil kita kerja garam ini karena tidak ada biaya membayar tenaga kerja karena saya lakukan sendiri. Uang keuntungan itu untuk biaya
pendidikan cucu-cucu saya. Dan sisanya untuk makan minum dengan anak-anak
saya," tandas dia dengan tetap tersenyum.

Di tempat yang sama, Sahamina janda berusia 65 tahun ini mengatakan, meski matanya sudah rabun dirinya tetap melakukan aktivitas membuat garam. "Saya ini hanya kendala mata saja. Mata saya sudah rabun. Saya bisa lihat tetapi agak tidak jelas," paparnya.

Dirinya mengatakan, garam yang dijual itu biasa dibeli oleh papale yang datang langsung ke lokasi pembuatannya. Nantinya papalele menjual lagi itu garam. "Saya tidak jual garam kasar tetapi garam halus yang bersih dan putih," ucapnya.

Sahamina mengatakan, hasil penjualan garam, selain untuk memenuhi kebutuhan keluarga, juga untuk membiayai pendidikan anak-anaknya saat ini masih duduk di sekolah. "Rejeki yang kami dapat dari usaha ini untuk memenuhi kebutuhan keluarga, juga untuk membiayai pendidikan anak anak kami yang saat ini duduk di bangku sekolah," ujar Sahamina.

Terkait hal ini. Kepala Desa Nangahale Sahnudin mengatakan, sejak puluhan tahun desanya terkenal sebagai desa penghasil garam. Karena pekerjaan membuat garam itu sudah dilakukan turun temurun warganya.

Ia mengaku pekerja garam di Desa Nangahale ini didominasi oleh perempuan yang tinggal di pesisir pantai. "Itu kalau kita lihat di di gubuk-gubuk itu
pekerja garam dari perempuan semua. Rata-rata usia mereka itu 50 tahun keatas. Lebih banyak mereka itu janda yang suaminya sudah meninggal dunia," paparnya. (OL-13)

Baca Juga: Pemprov Bali Minta Wartawan Perhatikan Akurasi Berita Covid-19

 

BERITA TERKAIT