24 May 2021, 18:59 WIB

Kilang Sudah Tua, Produksi Tetap Optimal


Dwi Apriani | Nusantara

MESKI kilang di Pertamina RU III Plaju sudah berusia lebih dari 100 tahun, namun tetap prima dan andal hingga saat ini. Diketahui, kilang Plaju berdiri sejak 1904 dan kilang Sungai Gerong berdiri pada 1926 dan sampai saat ini kilang ini kokoh berdiri dan tetap beroperasional normal.

‘’Kilang kita memang cukup tua, ada sejak 1904 dan 1926, perlu penanganan serta pemeliharaan yang spesifik. Namun tuntutan kedepan kita harus masih bisa bersaing dengan kilang-kilang yang ada didalam dan diluar negeri dan ini tantangan tersendiri bagi RU III,’’ ujar Moh Hasan Efendi, General Manager PT Pertamina RU III Plaju disela Kuliah Merdeka Pertamina RU III Plaju dan BEM KM FT Unsri, Senin (24/5).

Untuk itu, pihaknya sekarang fokus bagaimana cara memanajemen kilang dengan cara-cara yang lebih dari biasanya. Ia mengakui, peran sumber daya alam dan human capital yang ada sangat penting bagi operasional di kilang tersebut.

‘’Sehingga kita bisa buktikan kilang ini dapat bersaing. Apalagi kita sudah mampu memproduksi hampir semua produk energi. Mulai dari LPG, bahan bakar minyak, dan sebagainya,’’ jelasnya.

Hasan menjelaskan, dengan kondisi kilang yang sangat tua ini pihaknya kedepan akan melakukan upgrading kilang, memperbaiki kilang agar dapat optimal memproduksi beragam produk energi. Mulai dari teknologi yang digunakan akan diupgrading.

Kemudian, project green refinery yang merupakan projek baru dengan menggunakan energi nabati yang saat ini mulai berjalan. Project ini adalah project yang digunakan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. Ditargetkan kilang green refinery ini bisa beroperasi pada 2024 mendatang.

‘’Project ini saat ini sedang dalam tahap pengerjaan, diharapkan 2024 sudah bisa beroperasi dan bisa menambah produksi diesel maupun avtur sehingga dapat memenuhi kebutuhan di Indonesia,’’ kata dia.

Dijelaskannya, dalam project ini ada sekitar 30 hektar lahan yang disiapkan Pertamina RU III di Sungai Gerong. Izin amdal sudah dalam proses.

‘’Sekarang kita sedang siapkan land clearing. Tahun ini diyakini bisa selesai. Sehingga basic engginering drawing bisa dilakukan. Pertengahan 2024 kita yakin bisa beroperasi kilang baru ini,’’ jelasnya.

Pada project green refinery ini, kata Hasan, akan ada beragam produk yang dihasilkan. Ini merupakan satu-satunya kilang yang mengolah bahan bakar nabati yang ada di Indonesia.

Juga ada project open acces. Kesulitan pihaknya selama ini adalah akses bahan baku dari kilang Pertamina yang selama ini menggunakan akses atau jalur sungai. Sementara akses sungai setiap tahun selalu mengalami pendangkalan.

‘’Kita akan coba buat kajian project, kita buat pipanisasi dari Tanjung Api-Api langsung masuk ke kita, sehingga bongkar muatnya ada di Tanjung Api-Api atau pelabuhan Samudera,’’ kata dia.

Untuk open acces ini, jelasnya, saat ini sedang dalam proses Amdal, namun untuk study dari kontraktor yang mengerjakan sudah selesai.

Baca juga :Pemprov Sumbar Kucurkan Rp15 Miliar Untuk Kurangi Karamba Apung

‘’Jaraknya 90 kilometer, ada banyak jarak yang akan dilalui. Nantinya open acces ini akan melintasi Tanjung Api-Api dan masuk melalui Sungai Gerong. Kita sedang dalam upaya menyelesaikan izin di Kementerian dan Provinsi,’’ kata Hasan.

Selain itu juga project lain yang dikembangkan Pertamina RU III yang dapat meningkatkan persaingan dengan kilang lainnya di Tanah Air. Bahkan pihaknya meyakinkan bahwa selama pandemi ini pun tidak berpengaruh banyak terhadap produksi di kilang Pertamina.

‘’Alhamdulillah operasional tetap berjalan 100 persen, produksi juga tetap prima dan maksimal. Namun dalam operasional, utamanya di kilang, protokol kesehatan Covid-19 tetap diutamakan dan diperketat,’’ jelasnya.

Sementara itu, dalam Kuliah Merdeka yang digelar melalui webinar itu diikuti lebih dari 700 peserta, baik dari mahasiswa maupun umum. Selain GM Pertamina RU III, juga ada paparan dari Prof Ir Edy Ibrahim MS PhD, guru besar Fakultas Teknik Pertambangan dan juga Imam Nurhadi selaku Section
Head CD&L-Production RU III.

Imam menjelaskan, tantangan dari kilang tua yang dimiliki oleh RU III memang cukup besar, namun sampai saat ini pihaknya bersyukur produksi beragam produk dari kilang tetap handal dan maksimal.

‘’Kilang kita ini ibaratnya tua tua keladi. Walau sudah tua namun teknologi dan mesin yang ada tetap mumpuni. Dan kita juga secara bertahap terus melakukan update terhadap teknologi yang kita gunakan di kilang Pertamina RU III ini,’’ jelasnya.

Ditambahkan Edy Ibrahim, potensi minyak dan gas di Indonesia sangat besar. Bahan bakar dari fosil bisa dimanfaatkan dengan maksimal, namun tentunya ini akan terus menipis ketersediaannya. Untuk itu, perlu adanya energi terbarukan.

‘’Bagaimana caranya kita dapat menggunakan sumber daya alam dengan maksimal, dan lebih bermanfaat. Namun kita juga dituntut untuk bisa menciptakan energi terbarukan. Dan apa yang dilakukan Pertamina RU III dengan menyediakan green refinery adalah langkah yang tepat, dengan menggunakan bahan bakar dari nabati,’’ ucapnya.

Dia juga menegaskan, Unsri siap membantu memberikan kontribusi secara real, agar kilang minyak yang sudah tua ini dapat lebih bersaing nantinya dengan kilang lain, salah satunya dengan menyiapkan SDM yang handal. (OL-2)

BERITA TERKAIT