18 May 2021, 08:55 WIB

Abidin, Petani Milenial yang Sukses Meski Putus Sekolah


Gabriel Langga | Nusantara

NAMA Abidin tidak asing lagi bagi petani yang ada di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Di usia yang terbilang cukup muda, warga Kampung Bugis, Desa Magepanda, Kecamatan Magepanda itu telah sukses menjadi petani dengan berpenghasilan lebih dari Rp500-an juta per tahun.

Kesuksesan yang diraihnya itu mungkin membuat banyak orang iri, tapi pencapaiannya saat ini diraih dengan kerja keras dan doa ibunya.

Abidin mengaku semasa kecil jarang membantu kedua orang tuanya di sawah hingga mengenyam pendidikan di tingkat SMA. Waktu yang digunakan ketika itu hanya untuk bermain. Saat dibangku sekolah kelas dua SMA, ia terpaksa tidak melanjutkan pendidikan alias putus sekolah. Disebabkan ayahnya menderita sakit hingga meninggal dunia.

Sebagai anak laki-laki tertua, dirinya harus menjadi kepala keluarga untuk membiayai keluarganya. Termasuk kakak perempuan dan adik-adiknya yang masih sekolah sehingga ia memutuskan untuk menjadi petani untuk menggarap sawah peninggalan ayahnya.

"Saya sedih karena ayah saya sakit dan tidak mampu bekerja lagi. Saya putuskan berhenti sekolah. Mau tidak mau saya harus cari uang untuk membiayai pendidikan kakak dan adik saya yang masih sekolah. Jadi saya memilih jadi petani menggarap sawah peninggalan almarhum ayah," ujar Abidin kepada mediaindonesia.com, Senin (17/5) sambil menggiling padinya.

Untuk menjadi petani disaat usia masih 17 tahun tidaklah mudah. Pada saat menjadi petani, ada beberapa orang yang melontarkan bahwa ia tidak akan menjadi sukses karena tidak sekolah lagi.

"Saya pernah dibilang, kau akan menyesal nantinya karena tidak sekolah. Kata-kata itu yang menjadi cambuk bagi saya. Dalam diri saya, saya tanamkan bahwa menjadi petani juga bisa sukses," ungkap Abidin.

Tekad itu yang membuat Abidin mulai fokus dengan pertanian. Selama menjadi petani dirinya belajar bertani dengan cara melihat para petani yang bekerja di sawah hingga mendengar arahan dari para petugas PPL Pertanian. Selain itu, sebagai orang muda dirinya mulai berpikir untuk menggunakan teknologi agar hasil pertanian khusus padi melimpah dengan belajar ilmu pertanian di internet lewat smartphone miliknya.

"Tahun 2.000 itu petani disini membajak sawah dengan kerbau. Mulai dari situ, saya pinjam uang untuk beli alat teknologi berupa dua traktor roda dua untuk bajak sawah saya sendiri. Setelah itu, saya bajak sawah petani lain dengan diberikan upah jasa bajak," paparnya.

Karena permintaan besar, uang dari hasil keuntungan dari bajak sawah petani, ia pun membeli tambah traktor dengan mempekerjakan orang muda lagi untuk membajak sawah petani lainnya.

Setelah itu, tahun 2012-2013 dirinya pun membentuk kelompok petani dengan nama Tani Mandiri beranggotakan 13 orang yang didominasi oleh orang muda. Kelompok taninya mendapat SK dari Dinas Pertanian sebagai kelompok kelas petani pemula di tahun 2014.

Kemudian tahun 2015, kelompok Tani Mandiri yang ia pimpin mendapatkan tawaran mesin tanam dari dinas pertanian kabupaten. "Setelah dapat itu mesin tanam, saya pergi ikut pelatihan ke Sidoarjo, Jawa Timur. Usai pelatihan saya coba itu mesin tanam, hasilnya sangat memuaskan untuk tanam padi. Mulai dari situ saya mulai berkembang," ungkapnya.

Dia akhir tahun 2016, tekad Abidin yang ingin mengubah pertanian di kampungnya ke teknologi ini direalisasikan dengan membeli Combine Harvester sebagai mesin panen padi. Padahal, dia tidak paham betul tapi tekadnya sudah bulat.

"Ketika saya ambil Combine Harvester, ada beberapa orang bilang teknologi itu tidak bagus. Saya memahami itu karena mereka belum paham. Ketika saya mencoba memberikan pemahaman kepada mereka dengan membuktikan bekerja. Hasilnya, semua teman-teman merasakan manfaatnya dari penggunaan teknologi seperti alsintan ini," beber dia.

Pada tahun 2018, ia pun mengikuti lomba dari Kementerian Pertanian yang berkaitan dengan Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA). Hasilnya, kelompok yang ia pimpin mendapatkan juara satu karena dia tunjukan betul apa yang dikerjakan selama berada dalam dunia pertanian.

"Bertani itu, kita harus merubah pola pikir. Bertani itu bukan hal yang hina. Bertani itu bukan hal yang tidak menjanjikan masa depan. Saya buktikan itu. Sekarang ini persawahan kita itu lebih banyak orang muda yang kerja sawah tidak lagi orang tua," ujar Abibidn yang kini berusia 41 tahun.

Soal penghasilan, Abidin mengaku ada dua sumber pemasukan yang sekarang diperolehnya. Yakni pemasukan dari menyiapkan benih padi yang saat ini sudah diambil oleh beberapa kabupaten yang ada di Nusa Tenggara Timur. Dan juga pemasukan dari Usaha Pelayanan Jasa Alsintan. "Saya perkirakan itu 400-500 juta per tahun, Alhamdulillah cukup untuk menghidupi keluarga di sini" paparnya.

Ia mengaku selain jadi petani, dirinya sekarang juga menjadi narasumber bagi petani-petani yang datang belajar di kelompok Tani Mandiri. "Biar saya tidak tamat sekolah, saya tidak pernah kikir ilmu. Banyak ilmu yang saya berikan kepada petani muda yang ada di NTT. Pernah juga teman-teman dari Provinsi Jawa Timur melakukan studi banding ke kami. Jadi petani juga kita sukses," tandas dia.

Kedepannya ia bermimpi beras lokal yang ada di Magepanda harus memiliki label sendiri. "Saya punya rencana kedepannya beras lokal Magepanda harus punya label sendiri. Tujuannya beras lokal kita yang premenium ini tidak boleh kalah dengan beras dari luar daerah," pungkasnya. (OL-13)

Baca Juga: Posting Dugaan Korupsi Dandim Tegal, Basri Ditahan Kejaksaan

 

BERITA TERKAIT