15 May 2021, 07:19 WIB

Warga Aceh Berziarah ke Makam Korban Tsunami


Amiruddin Abdullah Reubee | Nusantara

RIBUAN warga berziarah di makam korban tsunami Aceh. Sebagian besar penziarah adalah anggota keluarga atau kerabat para korban gempa bumi dan gelombang tsunami 26 Desember 2004.

Amatan Media Indonesia, beberapa lokasi kuburan masal korban tsunami 18 tahun silam itu yang paling ramai diziarahi adalah di kuburan masal tsunami di Desa Siron, kawasan Lambaro, Kabupaten Aceh Besar. Lalu makam tsunami di kawasan pesisir Meraxa, Aceh Besar, kuburan massal kawasan Lhoknga Aceh Besar dan kuburan masal di kawasan Meulaboh Aceh Barat.

Sejak pertama lebaran hingga hari kadua, sebagian pengujung datang dari Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Barat, Aceh Besar, Kabupaten Pidie dan sekitarnya. Setiba di lokasi makam, pengunjung langsung berdoa dan menepung tawari atau membasuh muka dan menabur bunga sebagai suatu tradisi keberkaran di provinsi berjulukan serambi mekkah tersebut.

Mereka juga beristigfar dan membaca ayat Alquran seperti Surat Yasiin. Harapannya semua korban gelombang tsunami di pembaringan tersebut selalu dilimpahkan rahmat Allah dan dijadikan kuburannya sebagai kebun surga.

"Suatu kekuasaan Allah itu telah menurunkan gempa dahsyat dan gelombang besar tsunami, yang telah menimbulkan korban jiwa serta meluluhlantakkan kehidupan di pesir. Namun di balik itu juga telah melahirkan rahmat paling besar terhadap kehidupan di muka bumi" tutur Nurbaiti, pemerhati masalah pendidikan dan keluarga di Aceh, Juma (14/5).

Baca juga:  Ngeyel Berziarah di TPU Tegal Alur, Warga Ricuh dengan Petugas

Tarmizi, seorang kerabat korban tsunami yang teman dekatnya juga ikut hilang kala bencana besar itu, mengatakan, untuk berziarah tidak cukup mengunjungi satu lokasi kuburan masal. Ada baiknya melayat juga ke lokasi makam massal lainnya.

Apalagi ratusan ribu jenazah saat itu bercampur aduk dari satu lokasi ke kawasan lainnya. Karena tidak satupun diketahui siapa saja yang dikuburkan secara massal di pemakaman itu. Saat proses penguburan dulu para relawan kemanusiaan dan pihak pemerintah hanya mencatat jumlah korban yang dikubur dalam satu galian makam. Sedangkan identitas tidak bisa diketahui karena jenazah sudah dalam kondisi sudah tidak utuh. Apalagi jasad dan raut wajah korban sudah bengkak atau tidak bisa dikenali lagi.

"Banyak jasad ditemukan di bawah bangunan, tepi pantai dan terbawa arus laut setelah beberapa hari tsunami. Tidak ada keluarga yang datang, suasana sangat panik kala itu, untuk melaksanakan fardhu kifayah harus ikubur dalam kondisi bagaimanapun" tutur Tarmizi.(OL-5)

BERITA TERKAIT