04 May 2021, 20:02 WIB

PLN Rampungan Proyek Jaringan Listrik 10 Desa Terpencil di NTT


Palce Amalo | Nusantara

PT PLN (Persero) merampungkan pembangunan jaringan listrik menuju 10 desa terpencil di Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak Januari-Mei 2021. Desa terpencil itu tersebar di empat kabupaten yakni Alor, Manggarai Barat, Sumba Tengah, dan Sumba Timur dengan jumlah pelanggan 4.085 keluarga.

General Manager PLN Unit Induk Wilayah NTT, Agustinus Jatmiko mengatakan PLN mengeluarkan investasi sebesar Rp8,2 miliar untuk pembangunan  jaringan tersebut.

"Kami senang bisa memberikan sesuatu yang berharga bagi 4.085 kepala keluarga di sepuluh desa yang tersebar di NTT. Kami terus berusaha untuk menerangi desa-desa di pelosok yang sulit dijangkau agar dapat mengobati kerinduan masyarakat akan kebutuhan listrik di desanya,� tutur Agustinus Jatmiko, Selasa (4/5).

Untuk melistriki desa-desa tersebut, PLN membangun Jaringan Tegangan Menengah (JTM) sepanjang 40,28 km, Jaringan Tegangan Rendah (JTR) sepanjang 66,81 km dan 11 buah gardu dengan total 550 kVA.

Dalam lima tahun terakhir, rasio desa berlistrik di NTT meningkat  sebanyak 32,18% menjadi 95,56% dari sebelumnya 63,38%.  Secara bertahap, PLN akan terus membangun infrastruktur kelistrikan pada seluruh desa guna mewujudkan energi yang berkeadilan bagi seluruh pelosok negeri

Warga yang baru pertama menikmati listrik, seperti di Desa Kelaisi Barat, Kecamatan Alor Selatan, Kabupaten Alor berharap desa mereka maju seperti desa lainnya yang sudah menikmati listrik.

"Selama ini penerangan malam hari, kami mengunakan pelita dan hanya orang tertentu saja yang bisa menggunakan genset karena biaya operasional dan perawatan yang sangat mahal. Kami bersyukur karena anak-anak juga sudah bisa belajar siang malam menggunakan listrik PLN," kata Kostan Kafomai, warga setempat.

Kepala Desa Golo Lewe, Kecamatan Kuwus Barat, kabupaten Manggarai Barat, Marianus Djehabut juga menyampaikan rasa syukurnya dengan kehadiran listrik di desa mereka.

"Di musim pandemi seperti ini kehadiran listrik sungguh sangat membantu anak-anak dalam melaksanakan belajar di rumah. Hadirnya listrik dapat membantu pekerjaan di kantor desa. Kami sudah tidak perlu lagi membeli bahan bakar genset untuk menyalakan komputer," terang Marianus Djehabut. (OL-15)

 

BERITA TERKAIT