02 May 2021, 06:21 WIB

Pencemaran di Sungai Citarum Diklaim Berkurang


Bayu Anggoro | Nusantara

KONDISI Sungai Citarum dinilai semakin membaik. Salah satunya terlihat dari penurunan status dari cemar sedang menjadi cemar ringan pada awal 2021 ini.

Komandan Satuan Tugas (Satgas) Citarum Harum, yang juga Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, mengatakan peningkatan kualitas ini terlihat salah satunya saat menebar benih ikan di sektor VI Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Januari lalu.

Saat itu, dia bersama Forkopimda lainnya menebar benih ikan untuk membuktikan perbaikan kualitas air sungai.

"Kita menabur 2,5 ton, ada macam-macam ikannya, ada nila, lele, patin," kata Emil.

Baca juga: Menhub Minta STS di Pulau Nipa Dioptimalkan agar Bisa Bersaing

Dia berharap ikan tersebut dapat tumbuh dengan baik seiring membaiknya kualitas air di Sungai Citarum.

"Kalau ikannya tumbuh, nanti manusia juga bisa berenang lagi di Citarum yang bersih," ujarnya.

Emil optimistis kualitas sungai tersebut akan membersih. Sebab, dia bersama jajaran terkait lainnya mengaku sudah melakukan penyusuran di sejumlah daerah terkait Sungai Citarum.

Menurutnya, secara umum, Citarum sudah bersih sehingga tidak ada sampah termasuk yang mengotori sungai.

"Saya enggak lihat sampah banyak. Bangunan-bangunan juga tertib, tidak ada yang menempel ke sungai," ucapnya.

Selain pengurangan pencemaran yang terus diupayakan, menurut dia, perbaikan kawasan hulu dan bantaran sungai pun terus dilakukan.

Dia menargetkan terdapat 50 juta pohon yang ditanam seperti di lereng, bukit, hingga tepi sungai.

"Supaya tidak terjadi longsoran, sedimentasi," ujarnya.

Saat ini, menurut dia, terdapat 20 juta pohon yang berhasil ditanam.

"Mari kita sama-sama kembalikan kebersihan Citarum. Mudah-mudahan bisa  seperti dulu, menjadi urat nadinya warga Jawa Barat dan menjadi beranda depan rumah warga," katanya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat Prima Mayaningtyas mengatakan penurunan pencemaran air Sungai Citarum ini terlihat dari sejumlah indikator. Salah satunya dari parameter chemical oxygen demand (COD) yang menunjukkan berkurangnya angka pencemaran industri pada 2020 kemarin.

Bahkan, menurutnyam berkurang signifikan dibanding tahun sebelumnya.

"Ini tercermin dari data yang didapat di sejumlah daerah industri yang dilintasi Sungai Citarum seperti di Nanjung, Kabupaten Bandung. Jadi COD-nya menurun, sudah tidak jauh berbeda dengan standard baku mutu," ujarnya.

Selain itu, berkurangnya pencemaran ini terlihat juga dari berkurangnya limbah domestik.

"Tingkat erosi juga berkurang signifikan. Ini terukur dalam total suspended solid, karena penanganan dari hulu sampai hilir cukup efektif," paparnya.

Meski begitu, dia mengakui banyak masyarakat yang menyalurkan feses ke sungai. Ini terlihat dari tingginya kandungan fecal coli dan total coliform.

"Ini memang dari rumah tangga. Juga buangan dari peternakan," ujarnya.

Lebih lanjut, Prima memastikan pihaknya terus menindak setiap pembuang limbah, khususnya industri.

Menurutnya, terdapat sekitar 200 industri yang membuang limbah ke sungai tersebut.

Sebagai langkah tegas, pihaknya menindak industri tesebut sebelum masuk ke ranah pidana.

"UU Ciptaker yang baru mengamanahkan izin dengan peraturan administrasi, paksaan pemerintah, jangan dulu pidana," katanya.

Jika masih membandel, pihaknya menindak industri tersebut. "Salah satunya dengan menutup saluran IPAL pabrik," katanya.

Penutupan ini dilakukan terhadap industri yang membandel.

"Sebelumnya kami ada pembinaan. Tapi kalau sudah beberapa kali disampaikan hasilnya tetap tidak memenuhi baku mutu, ya ditutup saluram limbahnya," kata dia.

Komandan Sektor 22 Satgas Citarum Harum Kolonel Inf Eppy Gustiawan memastikan pihaknya menyosialisasikan penggunaan septic tank mandiri di masyarakat. Hal ini menjadi solusi untuk menjaga Sungai Citarum dari kotoran manusia.

Dia memastikan sudah menyosialisasikan hal tersebut ke masyarakat di berbagai daerah.

"Kita kumpulkan mereka dan berikan surat pernyataan kesanggupan untuk membuat septic tank mandiri, komunal. Agar BAB tidak ke sungai," katanya.

Dia menilai, saat ini, persepsi masyarakat memang menjadikan sungai sebagai septic tank besar. Ini harus diubah agar pencemaran sungai dari limbah rumah tangga tidak kembali terjadi.

"Apalagi sungai dan lingkungan bersih, masyarakat yang akan merasakannya," kata dia. (OL-1)

BERITA TERKAIT