30 April 2021, 18:50 WIB

37.500 Orang Pakai Antigen Bekas di Lab Kimia Farma Kualanamu


Yoseph Pencawan | Nusantara

KEPOLISIAN Daerah Sumatra Utara telah menyelesaikan gelar perkara kasus penggunaan rapid test antigen bekas di Bandara Internasional Kualanamu, Kabupaten Deliserdang, Sumatra Utara.

Kabid Humas Polda Sumut Kombes Hadi Wibowo mengungkapkan, dari hasil pengusutan diketahui bahwa penggunaan alat rapid test antigen daur ulang berupa swab stick/cutton bud di laboratorium Kimia Farma Bandara Kualanamu sudah berlangsung cukup lama. "Penggunaan alat rapid test bekas ini sudah dilakukan sejak 17 Desember 2020," terangnya saat dikonfirmasi, Jumat (30/4).

Itu berarti penggunaan rapid test antigen bekas tersebut sudah berlangsung lebih dari lima bulan. Terdapat dua laboratorium Kimia Farma di Kota Medan dan sekitarnya, yakni di Bandara Kualanamu, Kabupaten Deliserdang dan di Jalan Kartini, Kota Medan.

 

Adapun penggunaan rapid test antigen bekas oleh oknum-oknum pegawai lab diperuntukkan bagi para calon penumpang di Bandara Kualanamu. Berdasarkan penyelidikan, untuk sementara diketahui juga bahwa pihak yang menyuruh melakukan pendaurulangan dan penggunaan alat tersebut ialah PM, Bussiness Manager Kimia Farma Diagnostika di Medan.

Yang lebih mencengangkan, setidaknya 37.500 orang menjalani rapid test antigen di laboratorium tersebut. Angka itu diperoleh dari temuan petugas bahwa setiap hari terdapat sekitar 250 calon penumpang pesawat yang memeriksakan diri di lab itu.

Bila jumlah itu dikalikan dengan jumlah hari selama lima bulan, terdapat setidaknya 37.500 orang yang sudah menjalani rapid test antigen di lab tersebut. Dari sisi internal perusahaan, para oknum juga melakukan manipulasi laporan jumlah orang yang diperiksa.

Dalam laporannya, mereka mencantumkan rata-rata jumlah yang diperiksa sebanyak 100 orang. Padahal pada kenyataannya, rata-rata mencapai 250 orang. "Sisanya (biaya tes) sekitar 150 pasien merupakan keuntungan yang didapat PM dari hasil penggunaan alat bekas," ujar Kombes Hadi.

Dalam hitungannya, keuntungan yang diperoleh dari hasil manipulasi data dengan penggunaan alat bekas ini mencapai Rp30 juta per hari. PM mengaku uang tersebut digunakannya secara pribadi dan untuk membayar uang lembur karyawan lab Kimia Farma Jalan Kartini. (OL-14)

BERITA TERKAIT