25 April 2021, 13:35 WIB

Merapi: Guguran Lava Mengarah ke Barat Daya dan Tenggara


Agus Utantoro |

KEPALA BPPTKG Yogyakarta, Hanik Humaida mengatakan, analisis morfologi area puncak Gunung Merapi, berdasar foto dari sektor barat daya hari Rabu (21/4) terhadap foto hari Kamis (15/4) menunjukkan terjadinya perubahan morfologi area puncak karena aktivitas guguran dan pertumbuhan kubah.

"Volume kubah lava di sektor barat daya sebesar 1.069.600 meter kubik dengan laju pertumbuhan 11.900 meter kubik per hari,"kata Hanik, Minggu (25/4) di Yogyakarta.

Sedangkan analisis morfologi area puncak berdasarkan foto dari sektor tenggara yang diambil hari Kamis (22/4) foto yang diambil hari Rabu (14/4) menunjukkan volume kubah tengah sebesar 1.794.000 meter kubik.

Hanik mengemukakan pula, awanpanas guguran selama sepekan mulai tanggal16 April hingga 22 April 2021 terjadi sebanyak 9 kali dengan jarak luncur teramati sejauh 1.800 meter ke arah barat daya dan terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimal 60 mm dan durasi 138 detik.

Guguran lava, jelasnya,  teramati sebanyak 144 kali dengan jarak luncur maksimal 1.600 meter ke arah barat daya dan 2 kali ke arah tenggara dengan jarak luncur 400 m.

Kegempaan

Dalam minggu pengamatan ini, lanjutnya, kegempaan Gunung Merapi tercatat 9 kali Awan panas guguran (AP), 12 kali gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 156 kali gempa Fase Banyak (MP), 924 kali gempa Guguran (RF), 14 kali gempa Hembusan (DG) dan 4 kali gempa Tektonik (TT). Intensitas kegempaan pada minggu ini lebih tinggi dibandingkan minggu lalu.

Sedangkan deformasi, menurut Hanik, jarak tunjam EDM (electronic distance measurement) di sektor barat laut dari titik tetap BAB ke reflektor RB1 berkisar pada jarak 4.035,059 meter hingga 4.035,090 meter, dan dari BAB ke reflector RB2 pada kisaran 3.849,678 meter hingga 3.849,702 meter.

"Baseline GPS Klatakan - Plawangan berkisar pada 6.164,05 meter hingga 6.164,07 meter. Deformasi Gunung Merapi yang dipantau dengan menggunakan
EDM dan GPS pada minggu ini tidak menunjukkan adanya perubahan yang signifikan," jelasnya.

Hujan dan Lahar, ujarnya, minggu ini terjadi hujan di Pos Pengamatan Gunung Merapi dengan intensitas curah hujan tertinggi sebesar 24 mm/jam selama 35 menit, di Pos Ngepos pada tanggal 18 April 2021. "Tidak dilaporkan terjadi lahar maupun penambahan aliran di sungai-sungai yang berhulu di Gunung
Merapi," katanya.

Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental, imbuhnya, maka disimpulkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi
berupa aktivitas erupsi efusif sehingga status masih dipertahankan pada tingkat Siaga atau Level III.

Potensi bahaya saat ini, katanya, berupa guguran lava dan awan panas pada sektor Selatan - Barat Daya meliputi Sungai Kuning, Boyong, Bedog, Krasak,
Bebeng, dan Putih sejauh maksimal 5 km dan pada sektor tenggara yaitu Sungai Gendol sejauh 3 km.

"Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak," katanya. (OL-13)

Baca Juga: Gunung Merapi keluarkan Awan Panas

BERITA TERKAIT