14 April 2021, 10:20 WIB

Aliansi Mahasiswa Kutuk OPM atas Pembunuhan Guru


Mediaindonesia.com | Nusantara

PEMBUNUHAN dua orang guru di Kampung Julukoma, Distrik Beoga, Kabupaten Puncak Ilaga, Papua, pekan lalu,  mengusik rasa kemanusiaan kalangan mahasiswa dan  milenial. Tidak hanya mengutuk perbuatan keji tersebut, aliansi dan  mahasiswa milenial yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Milenial Indonesia (AMMI) juga menuntut aparat untuk secepatnya menangkap dan menyeret pelaku ke pengadilan.

Kutukan atas perilaku barbar dan seruan keprihatinan tersebut dinyatakan Ketua Aliansi Mahasiswa dan Milenial Indonesia (AMMI), Nurkhasanah. Menurut dia  pihaknya tidak habis pikir mengapa guru, bagian dari masyarakat sipil yang berjuang untuk memerdekakan warga Papua dari kebodohan dan buta huruf, justru dibunuh secara keji oleh OPM, yang tak lain warga Papua sendiri. Karena itu, dia yakin, OPM sudah gelap mata dan tak lagi bisa berpikir jernih.

Baca juga: OTK Bakar Heli di Apron Bandara Ilaga Papua

“Jadi jelas, meski namanya OPM, mereka tak lain dari kelompok kriminal keji yang tidak memiliki cita-cita luhur apa pun kecuali mengambil keuntungan dari kepedihan dan kesengsaraan warga,” tegas Nurkhasanah.

Dia menunjuk perilaku dari kelompok kriminal tersebut. Setelah pada Kamis (8/4) kelompok kriminal Papua itu menembak Oktovianus Rayo, guru honorer di SD Impres Beoga, pada hari berikutnya mereka menembak Yonatan Randen, guru SMPN 1 Beoga di bagian dada. Keduanya sempat dibawa masyarakat ke Puskesmas Beoga, namun tak tertolong dan meninggal dunia.

“Nah, kelompok yang mengambil-alih Lapangan Terbang Beoga itu baru membuka lapangan dan membiarkan pesawat masuk bandara untuk mengevakuasi kedua mayat ke Mimika, setelah Pemerintah Kabupaten Puncak membayar sejumlah uang tebusan kepada mereka. Apa lagi yang bisa kita katakan buat mereka, kecuali kelompok kriminal keji yang kelewat batas?”

Nurkhasanah mengatakan, kedua insan pendidik yang menjadi korban kebiadaban kelompok kriminal tersebut layak mendapatkan penghormatan. Pasalnya, dengan status hanya sebagai guru honorer, mereka mau ditempatkan di wilayah dengan  kondisi geografis yang sulit, serta minimnya sarana infrastruktur. Tidak banyak guru yang bersedia ditempatkan di lokasi yang berada di ketinggian 3.500 meter dari permukaan laut tersebut.

Menurut Kapolsek Beoga, Ipda Ali Akbar, aksi brutal tersebut amat mungkin  dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pimpinan Sabinus Waker. Setelah melakukan penembakan, pada Minggu (11/4) malam mereka kembali membakar sejumlah ruangan SMPN 1 Beoga yang lokasinya berada satu kawasan dengan SMAN 1 Beoga dan SD Impres Beoga.

“Mereka bakar enam ruang SMP, ditambah satu ruang laboratorium, satu ruangan perpustakaan dan gudang, jadi total sembilan ruangan yang dibakar. Kejadian sekitar 18.25,” ujar Ipda Ali Akbar. Dia menambahkan, sebelum melakukan pembakaran, kelompok kriminal tersebut sempat memprovokasi aparat keamanan dengan melepaskan sejumlah tembakan.

“Saat itu mereka sempat buang tembakan untuk mengganggu aparat yang bertugas di Beoga, mereka tembak ke arah Koramil. Itu dari jam 07:45 sampai 10:30 WIT,” kata Kapolsek Ali Akbar. Ia meyakini, kelompok kriminal itu masih berada di Beoga dan bersembunyi di sekitaran ujung Bandara Beoga.

Dengan minimnya jumlah personel kemanan di Beoga, Ali Akbar berharap pasukan tambahan yang dikirim dari Mimika dan Intan Jaya segera tiba. “Kami berharap personel perkuatan segera masuk untuk melakukan pengejaran terhadap para penembak,” kata dia.

Ali Akbar juga menyatakan, setelah serangan tersebut penduduk datang berbondong-bondong ke Mapolsek dan Makoramil Beoga untuk evakuasi. Bahkan hingga Senin (12/4), sejumlah warga pendatang masih mengungsi di kedua markas aparat keamanan tersebut. (Ant/A-1)

BERITA TERKAIT