14 April 2021, 09:37 WIB

Aktivitas Pelayaran Harus Waspadai Cuaca Ekstrem 14-21 April


Insi Nantika Jelita |

DIREKTORAT Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Kemenhub) meminta seluruh aktivitas pelayaran untuk mewaspadai cuaca ekstrem akibat Bibit Siklon Tropis. Hal ini guna meminimalisir terjadinya kecelakaan akibat cuaca buruk dan gelombang tinggi.

Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Ahmad mengatakan dengan adanya informasi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) soal perkembangan Bibit Siklon 94 W yang terbentuk pada tanggal 12 April 2021 jam 00 UTC (07.00 WIB) di sekitar Pasifik Barat sebelah utara Papua.

Oleh karenanya, nakhoda kapal diminta untuk mengantisipasi atau berhati-hati dalam pelayarannya.

"Masyarakat pelayaran dihimbau untuk tidak melakukan kegiatan pelayaran di tanggal 14-21 April 2021 pada wilayah perairan Papua Utara, Maluku Utara dan Sulawesi Utara," kata Ahmad dalam keterangannya, Rabu (14/4).

Masyarakat juga diminta waspada terhadap ancaman banjir pesisir yang dapat terjadi pada saat bersamaan fase pasang air laut.

Ahmad menambahkan, sirkulasi siklonik juga terpantau di Samudra Hindia barat daya Bengkulu, di Samudra Hindia selatan DI Yogyakarta dan perairan barat Papua.

"Kondisi ini menyebabkan peningkatan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah sirkulasi siklonik tersebut," ujarnya.

Kemenhub menyampaikan, berdasarkan informasi dari BMKG, pertemuan dan perlambatan kecepatan angin (konvergensi) lainnya terpantau pula memanjang dari Sumatra Utara hingga Aceh, dari Riau hingga perairan timur Semenanjung Malaysia, dari Jawa Tengah hingga perairan selatan Pulau Belitung.

Kemudian dari perairan selatan Jawa Tengah hingga Samudera Hindia barat daya Lampung, dari perairan selatan Kalimantan Tengah hingga Kalimantan Tengah bagian utara, dari Kalimantan Timur bagian barat hingga pesisir barat Kalimantan Timur, dari pesisir utara Kalimantan bagian utara hingga pesisir timur Kalimantan Utara.

Selanjutnya, dari perairan selatan Sulawesi Tenggara hingga perairan timur Sulawesi Tenggara, dan dari perairan barat Sulawesi Selatan hingga Sulawesi Tengah. Kondisi ini mampu meningkatkan potensi pembentukan awan hujan di sepanjang daerah tersebut.

"Direktorat Jenderal Perhubungan Laut menyiapsiagakan kapal-kapal negara, baik kapal patroli Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) dan Kapal Negara Kenavigasian untuk mengantisipasi dan memberikan pertolongan SAR jika terjadi musibah atau kecelakaan laut," jelas Ahmad.

"Pada hal terjadi cuaca ekstrem, kepala Syahbandar juga diminta untuk menunda menerbitkan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) hingga cuaca telah memungkinkan untuk berlayar," tambah Ahmad.

Kemenhub menjabarkan terkait perairan yang harus dihindari dan diantisipasi akibat adanya cuaca ekstrem yang menyebabkan gelombang laut tinggi yaitu, untuk tinggi gelombang 1.25 - 2.5 meter (m) berada di Laut Sulawesi bagian Tengah dan Timur, perairan Kepulauan Sangihe - Kep. Talaud, perairan kepulauan Sitaro, perairan Bitung-Likupang, Laut Maluku, perairan Kepulauan Halmahera, Laut Halmahera, Samudea Pasifik Utara Halmahera, perairan Raja Ampat, Teluk Cendrawasih dan perairan Jayapura-Sarmi.

baca juga: Cuaca Ekstrem Borpotensi Landa Sejumlah Wilayah di Jateng

Untuk tinggi gelombang 2.5-4 m di perairan Manokwari, perairan Biak, perairan Jayapura-Sarmi dan Samudra Pasifik utara Papua Barat. Lalu tinggi gelombang 4-6 m di Samudra Pasifik utara Papua.

Sementara itu, potensi hujan sedang hingga lebat disertai kilat/petir serta angin kencang diperkirakan akan terjadi di Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Maluku dan Papua Barat. (OL-3)

 

 

BERITA TERKAIT