13 April 2021, 10:29 WIB

Korporasi dan Petani Sawit Diingatkan tidak Bakar Lahan


Denny Susanto | Nusantara

PERUSAHAAN perkebunan kelapa sawit (PKS) dan para petani sawit rakyat di Kalimantan Selatan (Kalsel) kembali diingatkan agar tidak melakukan pembakaran dalam kegiatan pembersihan (land clearing) maupun pembukaan lahan baru.

Kalsel diperkirakan akan memasuki musim kemarau, Juni mendatang, yang menyebabkan sejumlah wilayah rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan.

"Pemerintah kembali mengingatkan agar jangan ada kegiatan pembakaran untuk pembukaan lahan baik korporasi maupun dalam proses PSR atau replanting untuk menghindari karhutla. Mengingat Juni sudah memasuki musim kering," tegas Pj Gubernur Kalsel Safrizal ZA saat launching program peremajaan sawit rakyat di Kalsel yang ditandai dengan penanaman bibit sawit di lokasi perkebunan sawit rakyat Desa Kait-Kait, Kecamatan Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut.

Baca juga: Target Peremajaan Sawit Rakyat di Kalsel 3.500 Hektare

Luas perkebunan sawit rakyat di Kalsel mencapai 25% dari total luas 530 ribu hektare perkebunan sawit keseluruhan di wilayah ini.

Pemprov Kalsel menargetkan peremajaan sawit rakyat (PSR) 2021 seluas 3.500 hektar di lima kabupaten.

Direktur Jendral Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI Imam Djajadi mengatakan sektor perkebunan, khususnya kelapa sawit, mampu menjadi penopang ekonomi Kalsel di tengah keterpurukan berbagai sektor akibat pandemi covid 19.

"Salah satu penyumbang terbesar ekspor dari Kalsel saat ini adalah produk hasil olahan kelapa sawit. Produk hasil pertanian di Kalsel diharapkan dapat terus ambil bagian dalam perkembangan ekonomi terlebih dimasa pandemi yang masih berlangsung," tuturnya.

Pihaknya mencatat produk hasil perkebunan sawit berupa cpo mendominasi ekspor Kalsel. Ekspor Kalsel pada 2020 mencapai Rp3,1 triliun untuk 15 komoditas dengan 39 negara tujuan. Sedangkan pada triwulan pertama 2021 total ekspor Kalsel sudah mencapai Rp2,5 triliun untuk 8 komoditas.

Kemarin, Kalsel melakukan ekspor perdana komoditas Porang yang sudah diolah dalam bentuk chips sebanyak 10 ton, dengan negara tujuan Jepang.

Kepala Karantina Pertanian Banjarmasin, Nur Hartanto menjelaskan pihaknya fokus pada pencapaian target program Gerakan Tiga Kali Lipat
Ekspor Pertanian (Gratieks) yang digagas Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. (OL-1)

BERITA TERKAIT