10 April 2021, 19:11 WIB

Gempa Jatim Terasa Sampai Bali Tapi tak Picu Kerusakan


Arnoldus Dhae | Nusantara

KEPALA Pelaksana Harian BPBD Bali Made Rentin mengatakan guncangan gempa berkekuatan 6,7 SR yang berpusat di 90 kilometer barat daya Malang dirasakan secara merata di Bali. 

"Getarannya cukup kuat dirasakan hingga Bali. Kami langsung bergerak, berkoordinasi dengan tim di lapangan. Hampir semua wilayah di Bali merasakan getaran gempa," ujarnya, Sabtu (10/4).

Hingga saat ini pantauan di lapangan belum ada kerusakan secara fisik atau korban jiwa. Bahkan laporan sementara via radio komunikasi (HT), tidak ada korban dan kerugian serta kerusakan yang terjadi akibat gempa ini. 

"Juga hasil koordinasi kami dengan BMKG setempat, gempat tersebut tidak berpotensi tsunami. Kami minta masyarakat tidak menyebarkan hoaks atau mudah mempercayai informasi yang tidak ada validitas kebenaran dari pihak berwenang," ujarnya.

Seperti diketahui, gempa dengan guncangan cukup besar terjadi Sabtu, 10 April 2021 pukul 14.00.16 WIB. Pusat gempa ada di wilayah Samudera Hindia Selatan Jawa. Hasil analisis BMKG dalam informasi pendahuluan menunjukkan gempa bumi ini memiliki magnitudo M6,7 kemudian diupdate menjadi magnitudo Mw=6,1. Episenterum gempabumi terletak pada koordinat 8,83 LS dan 112,5 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 96 km arah Selatan Kota Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur pada kedalaman 80 km.


Sementara, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati meminta masyarakat di sekitar wilayah Jawa Timur yang terdampak gempa untuk mewaspadai potensi longsor dan banjir bandang bila terjadi hujan.

"Jadi juga mohon diwaspadai potensi longsor dan banjir bandang bila terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat sebagai dampak lanjut setelah ada goyangan gempa bumi yang cukup kuat," ujar Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers secara daring di Jakarta, Sabtu (10/4).

Ia mengatakan gempa bumi dengan magnitudo 6 dapat membuat lereng-lereng atau batuan menjadi agak rapuh sehingga dapat memicu terjadinya hidrometeorologi, yaitu bencana longsor dan banjir bandang.

Ia menyampaikan bahwa hal itu berkaca dari bencana di Nusa Tenggara Timur, dimana sehari sebelum terjadi bencana gempa bumi magnitudo 4,1 dan terjadi hujan lebat.

"Jadi dikhawatirkan, suatu wilayah yang setelah terkena gempa, kemudian diguyur hujan itu dikawatirkan akan memicu terjadinya longsor atau banjir bandang," ujarnya.

Dwikorita menyebutkan beberapa wilayah yang berpotensi mengalami hujan lebat di Jawa Timur, yakni Jombang (di Bandarkedungmulyo), Mojokerto, Pasuruan, Bondowoso dan Jember.

Kemudian, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Kediri, Gresik, Lamongan, Madiun, Nganjuk, Probolinggo, Tulungagung, Ponorogo dan Purwosari (Kabupaten Pasuruan).

Sebelumnya, BMKG menyampaikan telah terjadi gempa bumi dengan magnitudo 6,7 di barat daya Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu, pada pukul 14.00 WIB.

Berdasarkan keterangan BMKG, gempa yang terjadi itu berada pada kedalaman 25 kilometer (km) dan tidak berpotensi tsunami.

Gempa berpusat di laut 90 km arah barat daya Kabupaten Malang, Jawa Timur, 95 km tenggara Kabupaten Blitar, Jawa Timur, 190 KM barat daya Surabaya, Jatim, dan 700 KM tenggara Jakarta, Indonesia. (OL-8)

 

 

BERITA TERKAIT