08 April 2021, 19:47 WIB

Beras Ketan Langka Perajin Kuliner Tasikmalaya Pusing


Adi Kristiadi | Nusantara

PERAJIN olahan makanan khas Tasikmalaya sepekan ini bingung dengan langkanya beras ketan merah dan putih di sejumlah pasar tradisional. Akibatnya harga bahan baku pembuat rengginang, uli ketan, ulen atau jadah, opak dan tape tersebut mengalami kenaikan cukup signifikan jelang ramadan.

Salah seorang perajin pengolahan makanan, Yuyun, 58, warga Tenjowaringin, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, mengatakan, kesulitan mendapat bahan baku beras ketan untuk membuat rengginang, uli ketan, ulen atau jadah, opak dan tape.

"Bahan baku berupa beras ketan putih semula harganya Rp12 ribu naik menjadi Rp14 ribu per kg. Untuk beras ketan merah semula dijual Rp12 ribu/kg menjadi Rp18 ribu/kg. Ini membuat perajin tak bisa melakukan pengolahan makanan, berapa mau ambil keuntungan kalau harga dinaikkan juga serba salah," kata Yuyun, Kamis (8/4/2021).

Ia mengatakan, olahan makanan untuk oleh-oleh bagi para pemudik masih dilakukan secara turun temurun oleh ibu rumah tangga (IRT) di Desa Tenjowaringin, Kecamatan Salawu. Kenaikan bahan baku, tak sebanding dengan pendapatan karena harga ketan sudah lama mengalami kenaikan. Sekarang malah jarang ditemukan di sejumlah pasar tradisional.

"Harga bahan baku yang terus merangkak naik membuat para perajin olahan makanan yang dilakukan setiap kepala keluarga hanya mampu membeli beras ketan putih sekitar 3-5 kilogram. Sebelumnya bisa membeli 10 kilogram. Untuk beras ketan merah saat ini suliy dicari karena lahan pertanian banyak ditanami padi biasa," ujarnya.

Perajin makanan olahan lainnya, Soleh, 50, mengakui mengurangi produksi rengginangnya karena bahan baku yang sulit dan harganya naik. Kenaikan harga beras ketan merah dan putih dinilainya cukup tinggi. Bagi usaha perajin kecil-kecilan terasa berat, apalagi saat pandemi Covid-19 ini

"Makanan olahan kami sebelum pandemi Covid-19 biasa dikirim ke berbagai wilayah seperti ke Ciamis, Bandung, Jakarta dan menyuplai ke sejumlah toko oleh-oleh termasuk pasar tradisional. Sekarang di masa pandemi kami pusing karena bahan baku jadi langka," paparnya. (OL-13)

 

BERITA TERKAIT