22 March 2021, 22:05 WIB

Jawa Barat Berdayakan Situ dan Sempadan Sungai Demi Ekonomi Warga


Bayu Anggoro |

 

PEMERINTAH Provinsi Jawa Barat terus melakukan penataan saluran
air, baik sungai maupun danau. Selain normalisasi sebagai cara mencegah
banjir dan memaksimalkan fungsi pengairan, penataan dilakukan untuk
menyadarkan masyarakat agar lebih menjaga kualitas dan ketersediaan
sumber kehidupan tersebut.

Kepala Dinas Sumber Daya Air Provinsi Jawa Barat Dikky Achmad Sidik
mengatakan, sejak 2019 pihaknya terus melakukan penataan dan
revitalisasi terhadap sejumlah situ, waduk dan saluran multifungsi.
Beberapa di antaranya adalah sempadan di Sungai Citarum di Kabupaten
Bandung, Kalimalang di Bekasi, Situ Ciburuy di Kabupaten Bandung Barat,
Waduk Darma di Kuningan, dan Rawakalong di Depok.

Pada tahun ini, Dinas Sumber Daya Air Provinsi Jawa Barat merevitalisasi Situ Wangi di Kabupaten Ciamis dan Situ Gede di Bogor. Dia menjelaskan, penataan fisik dilakukan salah satunya dengan memaksimalkan sempadan sebagai ruang publik.

Sebagai contoh, dia menyebut kondisi Situ Wangi saat ini tanpa
pengelolaan yang jelas meski memiliki berbagai fungsi seperti pengairan
dan kawasan wisata lokal. Akibatnya, keberadaannya tidak maksimal meski
memiliki potensi yang besar.

Seharusnya, situ tersebut bisa mengairi lahan pertanian di Cipadaren
seluas 30 hektare. "Sekarang tidak efektif karena bendungnya hancur,"
kata Dikky di sela-sela peringatan Hari Air Sedunia, di Situ Wangi,
Kabupaten Ciamis, Senin (22/3).

Pada kesempatan itu, pihaknya juga mencanangkan dimulainya revitalisasi
kedua situ. Dalam penataan ini Dinas Sumber Daya Air akan melakukan
normalisasi berupa perbaikan bendung Cipadaren dan pengerukan situ.

"Setelah dibangun, kapasitas tampungnya (air) dapat dipertahankan, juga
dapat dapat memberikan mata pencaharian bagi masyarakat sekitar,"
katanya.

Dengan adanya penataan, dia berharap keberadaan situ memberi nilai tambah baik dalam pengelolaan maupun pemanfaatan sumber daya air.

Bahkan, dia berharap situ bisa menjadi pusat aktivitas masyarakat
khususnya menyangkut pariwisata, kebudayaan, dan edukasi. "Dapat
meningkatkan fungsi ekonomi di wilayah tersebut," katanya.

Oleh karena itu, selain normalisasi pihaknya juga akan melakukan
sejumlah pembangunan fisik seperti dermaga, masjid, plaza, amphiteater,
gazebo, taman, restoran, dan arena rekreasi lainnya. "Dibangun juga
jogging track, toilet, taman bermain, dan area parkir," ujarnya.

Lebih lanjut Dikky mengatakan penataan sejumlah situ ini sesuai dengan
tema peringatan Hari Air Dunia tahun ini 'Valuing Water' yakni
menghargai pentingnya air dalam berkehidupan. Pemilihan tema ini
dilakukan untuk menyosialisasikan dan menyadarkan masyarakat akan
pentingnya air dalam kehidupan.

"Air ini di satu sisi berkah, di sisi lain bisa membawa musibah jika
kita tidak menghargainya," kata Dikky.

Hargai Air


Berbagai permasalahan terkait air yang terjadi sekarang ini tidak terlepas dari sikap manusia yang kurang menghargai air.

Dikky menilai, keberadaan air sering kurang dihargai sehingga
menimbulkan daya rusak selain manfaat yang diambil. Ini terlihat dari
masih banyaknya warga yang membuang sampah sembarangan sehingga
mengotori sungai, melakukan alih fungsi dan penebangan hutan sehingga
berkurangnya lahan serapan air, serta tidak menyiapkan penampungan di
saat hujan.

Hal ini berakibat sejumlah bencana yang kerap menimbulkan korban jiwa
akibat kurang baiknya perlakuan manusia terhadap air. "Banjir, longsor.
Kita sendiri yang merusaknya," kata dia seraya menyebut kekeringan pun
merupakan dampak kurang baiknya penghargaan terhadap air.

Oleh karena itu, dia menyebut peringatan setiap 22 Maret ini dilakukan
untuk lebih menyadarkan semua pihak akan pentingnya pengelolaan air demi kehidupan yang berkelanjutan. Dalam mengatasi persoalan terkait air ini tidak bisa diselesaikan jika hanya mengandalkan peran pemerintah saja.

Menurutnya, harus ada keterlibatan semua pihak baik swasta dan
masing-masing warga lainnya agar berpartisipasi langsung dalam menjaga
alam.

Sekretaris Daerah

Sementara itu, dalam sambutannya, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa
Barat Setiawan Wangsaatmadja yang mewakili Gubernur Ridwan Kamil
mengatakan, masyarakat harus lebih menghargai keberadaan air dengan
menjaga saluran dan kualitasnya.

Selain itu, menurutnya keberadaan air pun harus dipastikan bisa
dikonsumsi semua pihak secara adil, ekonomis, dan produktif. "Memuliakam air harus harmonis antara kearifan budaya masyarakat dengan kepentingan global yang lebih mementingkan kepentingan bisnis dan ekonomi," katanya.

Menurutnya, memuliakan air tidak hanya bergantung pada jumlahnya, tapi
menyangkut empat faktor yakni kapan air tersedia, di mana lokasi air
berada, berapa jumlah air yang tersedia, dan bagaimana mutu air sesuai
kebutuhan makhluk untuk hidup sehat. "Muliakan air agar tak banjir,
longsor, kekeringan," katanya. (N-2)

 

BERITA TERKAIT