22 March 2021, 16:48 WIB

Petani Maros Pilih Jual ke Tengkulak Daripada ke Bulog


Lina Herlina | Nusantara

SEJUMLAH petani di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, memilih menjual gabah kering panen (GKP)-nya ke tengkulak, dibanding ke Bulog meski perbedaan harganya hanya Rp300.

Hal itu diungkapkan Jusuf, salah seorang petani di Desa Jenetaesa, Kecematan Simbang, Kabupaten Maros, Senin (22/3).

Alasannya, meski perbedaan harga dari tengkulak dan harga pembelian pemerintah (HPP) sedikit, tapi paling tidak bisa membantu petani, karena hasil panen juga anjlok, lantaran padi mereka kekurangan pupuk sejak masa pandemi covid-19.

"Kalau jual di tengkulak bisa antara Rp4.400 hingga Rp4.500 per kilogram karena harga sudah turun, karena sudah panen raya. Kalau dijual ke Bulog GKP cuma Rp4.200 per kilogran sedangkan gabah kering giling (GKH) Rp4.250," ungkap Jusuf

Dia menjelaskan, anjloknya hasil panen karena kurangnya pupuk selama pandemi. Jatahnya berkurang khususnya pupuk subsidi, dan yang non subsidi harganya tiga kali lipat. "Jadi kita memilih mengurangi pupuk, pemberian pupuk seadanya, sehingga banyak bulir yang hampa," jelas Jusuf.

Baca Juga: Tegal Menolak Impor Beras

Termasuk pula sejak pandemi, ada pemberlakuan kartu tani. "Jadi yang bisa beli pupuk subsidi hanya yang punya kartu tani. Sementara satu hektare hanya dijatah 6 zak pupuk subsidi dari kebutuhannya 14 zak. Jadi kita lebih banyak pakai urea karena agak murah," lanjut Jusuf.

Hal yang sama dirasakan petani di Kabupaten Soppeng, Sulsel. Petani di Kecamatan Lalabbata La Nase juga mengakui memilih menjual ke tengkulak karena pengaruh harga yang lebih mahal dari harga bulog.

Sementra itu, Kepala Divisi Regional Bulog Sulselbar Eko Pranoto mengatakan pihaknya sudah berkomitmen mewujudkan sinergitas Bulog dan Komando Strategi Penggilingan (Kostraling) Kementerian Pertanian dalam melakukan penyerapan gabah panen sesuai target awal sebesar 303 ribu ton di Sulsel.

Adapun luas panen padi Sulsel Maret mencapai 125 ribu hektare dan April 2021 mencapai 231 ribu hektare atau hampir dua kali lipat dari panen Maret. "Beberapa hari kami bersama dengan mitra-mitra di berbagai daerah kabupaten di Sulawesi Selatan terus bergerak melakukan penyerapan. Mudah-mudahan mencapai target 303 ribu ton. Dan yang terserap sementara baru 31 ribu ton," ungkap Eko. (OL-13)

Baca Juga: Komisi VII DPR RI Menolak Pansel Komite BPH Migas

BERITA TERKAIT