17 March 2021, 14:13 WIB

Sopir Bus Idamkan Infrastruktur Mulus dan Solar Aman


Dwi Apriani | Nusantara

KONDISI infrastruktur jalan dan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di lintas Sumatera jadi kendala tersendiri bagi para pengemudi bus. Diketahui, pemerintah telah melakukan banyak pembangunan infrastruktur jalan di lintas Sumatera. Namun, untuk ruas jalan nasional, luput dari perhatian dan ini banyak dikeluhkan sopir bus.

“Kalau kami yang membawa bus untuk lintas Sumatera dari Lampung ke Jawa masalah infrastruktur jalan belum begitu jadi masalah meski di beberapa titik ada perbaikan jalan. Kendala kami alami untuk masalah pengisian bahan bakar minyak, utamanya saat masuk ke perbatasan-perbatasan kota/kabupaten. Kami dibatasi dalam pengisian bahan bakar, dimana untuk sekali mengisi kami di jatah per bus hanya boleh Rp500.000," ujar Nyoman Sudana, salah satu pengemudi bus dari PO Puspa Jaya, Rabu (17/3).

Menurut Nyoman Sudana, kondisi ini jelas mempersulit para pengemudi. Dalam hal ini, mereka dipaksa harus mengatur siasat guna bias memberikan kenyamanan kepada para penumpang.

“Tidak baik rasanya jika kendaraan yang kami bawa tiba-tiba kehabisan BBM. Untuk itu kami harus pintar-pintar dalam mengatur pengisian ulang BBM,” tambahnya.

Senada dengan Nyoman Sudana, Feri, pengemudi bus dari PO Gumarang Jaya. Menurutnya, kelangkaan BBM jadi kendala utama bagi para pengemudi untuk perusahaan otobus di lintas Sumatera. Untuk menyiasatinya, tak jarang pengemudi bus harus menyiapkan bahan bakar minyak cadangan di dalam bus dengan menggunakan jerigen.

“Mau tidak mau kami harus bawa Solar cadangan di dalam bus dengan menggunakan jerigen. Kami bias membawa bahan bakar minyak sebanyak 40-60 liter sebagai bahan bakar cadangan untuk kendaraan yang kami bawa,” ujarFeri.

Sementaraitu, pengemudi dari PO Siliwangi Antar Nusa (SAN) Apredo Anggara juga mengeluhkan kondisi jalan yang belum terlalu memadai dan juga pengisian bahan bakar yang sangat sulit di lintas Sumatera.

“Kondisi jalan untuk lintas timur dan barat di Sumatera sudah lumayan baik dan saat ini sudah ada tol yang bisa mempersingkat waktu perjalanan. Hanya saja pada beberapa ruas jalan di lintas tengah dan jalan non-tol banyak ditemukan jalan rusak dan bergelombang,” ujarApredo.

Kondisi jalan yang rusak dirasakan sangat menghambat perjalanan, dan membuat perjalanan jadi tidak nyaman. Para pengemudi ini berharap agar pengusaha otobus dapat menyampaikan keluhan mereka kepada pemerintah demi terselenggaranya perjalanan yang aman dan nyaman.

Sementara itu, di hari pertama Sumatra roadshow, Perpalz TV menemukan sejumlah tantangan seperti keterbatasan persediaan bahan bakar solar untuk bus, juga karakter jalan yang bergelombang meski jalan di aspal mulus. Beruntungnya, bus yang digunakan dari PO SAN yang sudah dimodifikasi bisa meminimalisir guncangan yang ditimbulkan dari jalan yang tidak rata tersebut.

"Kita bisa lihat sendiri dalam perjalanan ini, sulit sekali kita menemukan bahan bakar solar untuk bus. Jelas ini sangat menyulitkan bagi pengemudi bus dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar dalam perjalanannya. Kami sangat menghargai segala infrastruktur yang telah tersedia, tetapi soal bahan bakar ini sangat penting sekali. Kami sangat memohon kepada seluruh instansi terkait untuk kembali memperhatikan permasalahan ini,” jelas Host dan Founder PerpalZ TV, Kurnia Lesani Adnan.

Diketahui, Sumatera Roadshow, jelajah Sumatera oleh PerpalZ TV dilakukan sejak Senin (15/3). Kurnia menjelaskan bahwa keterbatasan bahan bakar diesel (solar) yang menjadi kebutuhan bagi bus yang ingin melakukan pengisian bahan bakar menjadi kendala utama.

Begitu juga sarana dan prasarana yang ada di Rest Area Tol Sumatera belum berjalan dengan baik. Dalam perjalanan di Tol Lintas Sumatera ini, untuk karakter jalan yang dilintasi juga tidak begitu baik.

Sementara itu, Afrinaldy, perwakilan dari PO EPA Star pun sangat menyayangkan kondisi infrastruktur dan keterbatasan bahan bakar solar ini. “Seperti itulah, apalagi di lintas timur lebih sulit lagi. Kadang pengemudi kami terpaksa bawa BBM cadangan di jerigen. Kami berharaplah pemerintah lebih peduli lagi. Jangan hanya jalannya saja yang diperindah tetapi bahan bakar juga harus dicukupi. Saya menduga BBM ini di pasok ke perkebunan sehingga sulit ditemukan di SPBU,” papar Afrinaldy.

Direktur PT Gumarang Jaya Bersama (PO Gumarang Jaya) mengatakan, pihaknya juga mengalami kesulitan mendapatkan BBM. “Di beberapa titik memang sangat sulit untuk mendapatkan BBM diesel bersubsidi. Tidak jarang kru kami harus membekali bus dengan BBM cadangan dalam jerigen. Bisa 40-60 liter BBM yang kami bawa sebagai cadangan. Kami mohon kepada instansi terkait untuk lebih memperhatikan kembali ketersediaan BBM untuk lintas Sumatera, agar transportasi darat dengan bus ini juga semakin terus digemari masyarakat,” kata Yulianto. (OL-13)

Baca Juga: DPR Meminta Data Stok dan Kebutuhan Beras Nasional

BERITA TERKAIT