05 March 2021, 09:44 WIB

Hanya Minggu Pahing Ada Pasar Kuliner di Curug Titang


Tosiani | Nusantara

BUTUH waktu sekitar 20 menit untuk menempuh jarak sejauh sekitar enam km dari pusat kota ke Curug Titang, Dusun Titang, Desa Nampirejo, Temanggung, Jawa Tengah menggunakan sepeda motor.Tidak ada transportasi publik yang memadai di area wisata tersebut, saat saya mengunjungi kawasan itu, Kamis (4/3). Karenanya, transportasi daring menjadi satu-satunya pilihan menuju ke sana.

Kondisi jalanan cukup bagus. Udara pegunungan terasa sejuk dengan pemandangan kebun-kebun kopi di tepi jalan, berseling dengan area permukiman warga. Sejumlah penunjuk jalan telah dipasang untuk memudahkan orang mencari lokasi Curug.

Hujan deras tiba-tiba mengguyur sesampainya di lokasi Curug. Tidak ditemui adanya pemandu wisata maupun penjaga di lokasi yang bisa mengarahkan untuk menuju air terjun. Beruntung sejumlah warga yang ditemui di jalan dusun menyapa ramah, lalu menunjukan arah jalan.

"Lokasi curug kerap dikenal dengan berbagai cerita angker dan mistis. Karenanya perlu berhati-hati saat turun ke sana,"bujar Sukiman, 35 salah seorang penduduk.

Tris,60, warga Dusun Titang, mengingatkan pengunjung dari luar kota untuk tidak turun ke curug jika hujan semakin deras untuk alasan keselamatan. Pasalnya debit air yang mengalir dari Gunung Sumbing menuju Sungai Lungge itu terbilang tinggi dan sewaktu-waktu sanggup menyeret orang mengikuti arusnya.

"Kondisi arus yang amat deras itu jika ditambah dengan kurangnya kemampuan berenang, akan membuat korban yang terseret arus bisa meninggal. Hal itu beberapa kali terjadi. Jadi harus sangat berhati-hati," ujar Widati,37 warga lainnya.

Seorang pemuda desa secara sukarela memandu, menemani pengunjung yang hendak turun ke lokasi air terjun. Hal itu untuk memastikan keselamatan pengunjung. Pada tahap ini diperlukan ketahanan fisik dan kehati-hatian untuk menapaki sebanyak 175 anak tangga menuju sungai terdekat, dan 202 anak tangga menuju area dekat paling dekat dengan air terjun.

Tidak perlu khawatir keamanannya karena tangga sudah dicor semen dan pengunjung bisa berpegangan pada palang besi di sampingnya. Namun karena ukuran tangga amat sempit maka hanya cukup dilalui satu orang saja. Hujan makin deras saat sampai di tangga ke 202 tepi air terjun.

Mestinya hanya tinggal beberapa jengkal lagi melalui jalanan dari tanah liat bercampur lumpur dan menurun tajam. Hujan  lebat membuat jalan yang amat sempit dan terjal itu menjadi amat licin dan dirasa tidak aman untuk dilalui. Namun dari balik batang tanaman bambu dan dedaunan di sekitar anak tangga terakhir sudah terlihat buih berwarna putih dari luncuran air terjun.

Air yang jatuh ke kolam amat bening, sehingga sedikit pantulan cahaya membuat hamparan air kolam lebih cantik dengan warna hijau tosca. Jika cuaca sedang bagus, area kolam ini kerap digunakan untuk berenang oleh para pengunjung yang datang, terutama anak-anak.

Jangan sampai terhanyut pesonanya saat cuaca mendung dan hujan. Soalnya untuk menghindari banjir yang bisa memakan korban, pengunjung harus segera kembali ke atas menapaki 202 anak tangga lagi. Butuh kekuatan eksta dan mengatur nafas pada proses ini karena membuat perjalanan akan terasa lebih berat.

baca juga: Perputaran Uang di Pasar Wisata Curug Titang Meningkat

Sekitar 100 an meter dari lokasi curug terdapat Pasar Wisata Curug Titang. Aneka kuliner ndeso seperti tiwul, cetil, cethot, dan lainnya bisa didapatkan di pasar tersebut. Sayangnya, pasar hanya beroperasi sekali dalam sebulan, yakni pada hari pasaran Minggu Pahing. Jika datang di luar hari pasaran itu, maka harus membawa bekal makanan dan minuman sendiri. Tapi harap diingat untuk tidak membuang sampah sembarangan demi menjaga lingkungan curug tetap lestari.

Kasi pengembangan destinasi wisata, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Temanggung, Arbai Muchamad, mengatakan, wisata Curug Titang dan Pasar Wisata Curug Titang sepenuhnya dikelola oleh Desa Nampirejo karena ada di wilayah desa. Namun pihak Pemerintah Daerah bisa memberikan bantuan keuangan melalui kepala desa.

"Sejauh ini Pemda telah memberikan pembinaan untuk pemberdayaan masyarakatnya terkait kelompok pengelola wisata desa," ujar Arbai. (OL-3)

BERITA TERKAIT