04 March 2021, 20:11 WIB

Sistem Belajar Daring Tak Bisa Buat Siswa di Lembata Cerdas


Alexander P. Taum | Nusantara

PAGI-PAGI benar, Beatrix Peni Kerong sudah menenteng tas buku di lengan kiri. Sebuah white board berukuran kecil dan seperangkat alat peraga menulis dan membaca, berada di gengamannya. Perempuan paruh baya itu berjalan kaki mendatangi siswa Kelas 1 SD dari rumah ke rumah.

Aktivitas semi formal itu dilakukan satu tahun belakangan, terhadap tiga orang siswa yang bertetangga. Ia terus bergerak dari rumah ke rumah di wilayah Waikomo, Kelurahan Lewoleba Barat, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur.

"Saya mengajari mereka abjad A sampai Z, sesudah itu membedakan huruf vocal A-I-U-E-O, dan Konsonan. Kemudian anak-anak ini diajarkan gabungan suku kata misalnya Bo-La dengan sistim dikte," ujar Betrix Peni Kerong.

Wali Kelas 1 SD Inpres 2 Waikomo ini menjalani sesi pertama belajar mengajar. Pada petang hari ia memulai sesi kedua pada siswa yang berbeda. Dengan hanya menghadapi 3 orang siswa, ibu Guru ini tidak kesulitan menerapkan protokol Kesehatan saat mengajari siswa sekolah dasar kelas 1.

Ia mengaku 1 tahun ajaran berjalan, para siswanya terpaksa diajari kembali ilmu dasar membaca, menulis dan berhitung. Sebab pengetahuan yang sempat di ajarkan di kelas selama 1 bulan, menyusul kebijakan shif, sudah dilupakan kebanyakan siswa.

Kebijakan merumahkan anak kemudian menginstruksikan belajar dengan sistim dalam jaringan (daring) ternyata tidak mampu mencerdaskan siswa kelas 1 SD.

Beatrix Peni Kerong, Guru Wali Kelas 1 SD Inpres 2 Waikomo, Kelurahan Lewoleba Barat, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, aktif mengajari siswanya secara tatap muka, padahal Pemerintah setempat mengeluarkan kebijakan Belajar dari rumah dengan sistim Daring.

"Sistim daring tidak bisa berlaku bagi semua siswa. Tidak semua anak punya HP. Kalaupun ada, pasti dipergunakan oleh kakak nya yang berada di kelas tinggi. Masalah lagi, banyak orang tua tidak sanggup membeli pulsa data," ujar Beatrix.

Akibatnya, meski mengirim tugas, anak-anak tidak bisa mengirim kembali hasil pekerjaannya. Setelah didatangi, ternyata alasannya tidak tau. Padahal secara periodik, dirinya mengirimkan tugas kepada anak melalui saluran whatsapp.

Sejak wabah Covid-19 merebak di Indonesia Setahun silam, bersama rekan gurunya, Beatrix berkomitmen untuk mengajari siswa SD dari rumah ke rumah.

Orang tua/wali murid kelas 1 Sekolah Dasar mengeluh, sejak anaknya memasuki jenjang sekolah Dasar, belum sekalipun mereka belajar tatap muka. "Anak saya kelas 1 SD, dia sudah tidak mampu membaca, menulis dan berhitung. Sejak masuk SD, anak saya baru pernah belajar di kelas selama 1 bulan, saat pemerintah memberlakukan sistim shift guna mengurangi kerumunan," ujar Paskalis Ukeng, salah satu orang tua siswa Sekolah Dasar di Waikomo, Kelurahan Lewoleba Barat.

Meskipun Pemerintah Kabupaten Lembata, melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, mengeluarkan berbagai kebijakan belajar dari rumah, komitmen mengajar secara tatap muka terus dilaksanakan.

"Sejak merumahkan seluruh aktivitas belajar mengajar, ada kebijakan belajar secara daring, ada pula kebijakan belajar sistim shift. Saat ini belajar dari rumah, tetapi bagi banyak keluarga dijumpai kesulitan memiliki HP. Kalau kita tidak bertindak, siswa kelas 1 SD dipastikan tetap buta huruf," ujar Beatrix.

Dikatakan, dirinya tidak sekedar mengejar nilai 75 sebagai syarat meloloskan siswa ke jenjang kelas lebih tinggi. Ia mengaku, akan terus berjalan menemui dan mengajarkan siswa kelas 1 SD, sebab sebagai wali kelas 1 SD, dirinya memiliki tanggung jawab moril, meletakan dasar pengetahuan bagi siswa kelas 1 SD, hingga kemudian berpindah ke kelas tinggi dengan bekal pengetahuan yang mumpuni. Tidak sekedar mengatrol kenaikan siswa karena alasan pandemic Covid-19. (OL-13)

BERITA TERKAIT