03 March 2021, 11:34 WIB

Perputaran Uang di Pasar Wisata Curug Titang Meningkat


Tosiani | Nusantara

PENGELOLA Pasar Wisata Curug Titang di Desa Nampirejo, Temanggung, Jawa Tengah menyebutkan perputaran uang di pasar tersebut tergolong tinggi, hingga mencapai Rp13 juta sekali gelaran pasar. Keberadaan pasar amat berpengaruh dalam upaya pemberdayaan masyarakat sekitar karena ada lahan ekonomi baru. Sekaligus sebagai sarana pembelajaran untuk lebih sadar wisata.

Pasar Wisata Curug Titang berada di Dusun Titang, Desa Nampirejo, Temanggung, Jawa Tengah, sekitar enam kilometer dari pusat kota. Lokasinya berada sekitar 100 an meter dari Curug Titang. Pasar tersebut digelar hanya sekali dalam sebulan, yakni setiap hari pasaran Minggu Pahing sejak pukul 06.30 hingga 12.00 wib.

"Kami juga salah satu perintis Pasar Curug Titang. Keberadaan pasar ini mensuport para pedagang. Ini potensi wisata tiap Minggu Pahing," ujar Widati, Pengelola Pasar Curug Titang di Temanggung, Rabu (3/3).

Pandemi covid-19 membuat pasar sempat berhenti beroperasi selama sekitar tujuh bulan. Kemudian dibuka kembali pada Bulan September tahun lalu. Sebelum pandemi covid-19, pasar selalu didatangi rata-rata 300 an pengunjung tiap kali gelaran. Perputaran uang di sana terbilang tinggi, yakni mencapai kisatan Rp8 juta hingga Rp9 juta per gelaran. Kini setelah pasar dibuka kembali, perputaran uangnya bahkan sampai menyentuh angka Rp13 juta per gelaran pasar.

Kebanyakan pengunjung datang dari luar kota, di antaranya Magelang, Semarang, dan Yogyakarta. Banyak pula warga Temanggung dari perantauan yang pulang kampung sengaja mampir ke Pasar Curug Titang.

Pengunjung yang ingin berbelanja harus menukar uang dengan koin sebagai mata uang di pasar tersebut. Tiap satu koin bernilai Rp 2000. Koin bisa dibelanjakan di sejumlah stan yang dikelola oleh 35 pedagang yang berasal dari penduduk lokal. Ada beragam makanan dan sayuran dijual di sana. Antara lain kopi, jajanan ndeso seperti thiwul, cethot, cethil, nasi jagung, dan nasi gono. Tiap stan dikenakan uang meja dan uang operasional sebesar Rp20 ribu untuk pengelolaan pasar.

baca juga: Bandara Ngurah Rai Hanya Layani 157 Ribu Penumpang Selama Februari 

"Orang datang untuk menikmati kuliner. Mereka juga ikut senam bersama, dan menonton pertunjukan kesenian tradisional. Senam wajib untuk pengunjung dan pedagang sebelum aktivitas untuk menyehatkan warga," lanjut Widati. 

Sapto San, salah seorang pedagang kopi mengaku bisa meraup omzet antara Rp700 ribu hingga Rp800 ribu setiap kali ada gelaran Pasar Curug Titang. Diakuinya, keberadaan pasar tersebut amat membantu menyejahterakan perekonomiannya.

"Tiap gelaran pasar paling banyak omzet kopi bisa dapat Rp700-Rp800 ribu," ujar Sapto San. (OL-3)
 

BERITA TERKAIT