01 March 2021, 17:27 WIB

Selain Covid-19 Warga Cianjur Diminta Waspadai DBD


Benny Bastiandy | Nusantara

MENGAWALI 2021, kasus demam berdarah dengue (DBD) masih terjadi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Pada Januari, jumlahnya yang dilaporkan dari fasilitas layanan kesehatan ke Dinas Kesehatan setempat sebanyak 13 kasus.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, Rostiani Dewi, menuturkan masih terjadinya kasus DBD tak terlepas kondisi lingkungan. Apalagi hingga awal 2021, cuaca masih didominasi curah hujan tinggi.

"Hasil rekapitulasi berdasarkan laporan dari puskesmas dan rumah sakit, terdapat 13 kasus DBD selama memasuki awal tahun atau pada Januari," kata Dewi kepada Media Indonesia, Senin (1/3).

Sebarannya berada di Puskesmas Cianjur Kota sebanyak 2 kasus, Puskesmas Muka 2 kasus, Puskesmas Gekbrong 1 kasus, Puskesnas Cibeber 1 kasus, Puskesmas Sukasari 1 kasus, Puskesmas Cipeuyeum 1 kasus, Puskesmas Ciherang 1 kasus, Puskesmas Cipendawa 1 kasus, dan Puskesmas Sukaresmi 3 kasus. Jika melihat grafis data, kata Dewi, kasus DBD cukup banyak terjadi di wilayah utara.

"Tapi pada prinsipnya kasus DBD merata di semua wilayah," ucapnya.

Sementara jumlah kasus pada Februari, jelas Dewi, belum semuanya direkap. Jadi, ditambah dengab Februari, jumlah kasus DBD kemungkinan bakal bertambah. " (Februari) belum semuanya," jelasnya.

Dewi mengaku berbagai upaya dilakukan untuk mengantisipasi merebaknya DBD. Hal paling utama yakni melaksanakan 3 M Plus yakni mengubur benda-benda yang bisa menjadi tempat berkembangnya jentik nyamuk aedes aegypti, menguras bak mandi secara rutin, serta menutup tempat-tempat penampungan air.

"Termasuk melaksanakan program pemberantasan sarang nyamuk," tegasnya.

Tren kasus DBD setiap bulannya cenderung berfluktuasi. Peralihan musim dari kemarau ke hujan atau sebaliknya cukup rentan berpotensi terjadinya DBD.

Dinkes Kabupaten Cianjur pun rutin mengeluarkan surat edaran ke semua puskemas setiap kali tren kasus DBD meningkat agar menggiatkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui program 3M Plus.

"PSN dan 3M Plus yakni menguras, menutup, dan mengubur ini merupakan upaya preventif. Plusnya memanfaatkan barang tidak terpakai, menanam tumbuhan pengusir nyamuk, dan memberikan larvasida," bebernya.

Di kalangan masyarakat sendiri masih terbentuk stigma bahwa penanganan DBD dilakukan dengan cara fogging. Namun, kata Dewi, fogging sifatnya kuratif bukan preventif. "Jadi, fogging tidak terlalu efektif," tandasnya. (OL-13)

Baca Juga: Kasus DBD di Cianjur Renggut 3 Korban Jiwa

BERITA TERKAIT