24 February 2021, 10:51 WIB

Serangan Tikus Picu Penurunan Produksi Jagung Sebesar 35%


M Yakub | Nusantara

HASIL panen jagung petani di kawasan Pesisir Pantura Kabupaten Gresik, Jatim, pada musim ini turun hingga 35%. Ini akibat serangan hama tikus yang terjadi sejak awal tanam tiga bulan silam.

Kondisi ini membuat petani di kawasan pesir serempat merugi pada musim ini. Serangan hama tikus itu terjadi sejak petani menyemai benih hingga jagung memasuki masa berbuah.

''Panen jagung musim ini, kami tak dapat untung malah merugi,'' kata Konatun, petani Desa Pantenan, Kecamatan Panceng, Selasa (23/2) siang.

Menurut dia, serangan hama tikus itu terjadi sejak petani di kampungnya mulai menebar benih pada tiga bulan lalu hingga jagung menjelang masa panen. Kondisi tersebut mengakibatkan petani di kawsan tersebut mengalami kerugian yang besar.

Baca Juga: Hama Tikus Serang Puluhan Hektar Sawah di Pidie

Kerugian itu, kata dia, disebankan petani menanam benih antara 2-3 kali tanam. Padahal harga benih cukup mahal yang berkisar antara Rp80 ribu hingga Rp100ribu per kg. Mulai saat tanam, tikus sudah merusak bibit jagung dengan memakan benih yang ditanam.

Bahkan, serangan hama ini juga berlangsung hingga masa berbuah. Kondisi tersebut mengakibatkan hasil panen panen tidak optimal. "Panen kita berkurang 35% dibanding saat panen normal," jelasnya.

Ia menjelaskan, pada musim panen lalu lahannya di selatan kampung masih menghasilkan 100 sak jagung glondongan. Namun, serangan tikus yang terjadi sejak awal musim hanya menyisakan jagung 65 sak pada luas lahan yang sama.

Senada, disampaikan Nasik, petani lainnya. Menurut dia, panen jagung pada musim kali ini petani di sekitar kampungnya banyak mengalami kerugian. Pada panen sebelumnya, kata dia, lahannya menghasilkan jagung sebanyak 125 karung tetapi, pada musim kali ini hanya memperoleh 70 karung.

Serangan hama tikus itu hampir rata terjadi pada sejumlah wilayah di kawasan selatan kampungnya. Menurut dia, serangan hama tikus yang terjadi sejak musim tanam juga memaksa sebagian besar petani di kampungnya menanam jagung hingga tiga kali. Sebab, sehari setelah tanam
bibit jagung yang ditanam habis dimakan tikus.

Kondisi tersebut membuat petani mengeluarkan biaya tambahan yang cukup besar untuk menananam benih kembali. "Kami terpaksa mengeluarkan biaya lagi untuk menanam ulang. Bahkan, saya sampai menanam tiga kali," tambahnya.

Tidak berhenti disitu, serangan hama tikus juga berlanjut hingga menjelang masa panen.Kondisi tersebut membuat panen jagung tidak optimal. Petani juga sudah berusaha memberantas serangan tikus dengan menyebar racun.

Namun, justru serangan hama ini makin meningkat. Dengan demikian, biaya yang dikeluarkan petani pada musim ini juga makin tinggi. ''Ga dapat apa-apa petani. Malah rugi kita musim ini,'' keluhnya. (YK/OL-10)

BERITA TERKAIT