24 February 2021, 09:07 WIB

4.662 Hektar Kebun Jeruk di Kalsel Rusak Karena Banjir


Denny Susanto | Nusantara

SEDIKITNYA 4.662 hektar areal perkebunan jeruk di Provinsi Kalimantan Selatan rusak akibat bencana banjir. Rusak dan gagal panen jeruk ini menyebabkan produksi jeruk Siam Banjar anjlok dengan kerugian diperkirakan lebih Rp100 miliar. Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Kalsel, Syamsir Rahman, Rabu (24/2) mengatakan banjir sangat berdampak pada sektor pertanian di Kalsel. 

"Selain tanaman pangan padi, banjir juga menyebabkan ribuan hektar areal tanaman hortikultura jeruk rusak. Terbanyak terjadi di Kabupaten Barito Kuala," ujarnya.

Dinas Pertanian mencatat luas areal pertanian jeruk yang rusak akibat banjir seluas 4.662 hektar atau sekitar 30 persen dari luas pertanian jeruk di Kalsel seluas 12 ribu hektar. Kerusakan terparah terjadi di Kabupaten Barito Kuala yaitu 3.185 hektar. Sentra jeruk Siam Banjar di Kalsel berada di Kabupaten Barito Kuala dan Banjar, dengan produksi pertahun sekitar 110 ribu ton. Jeruk Siam Banjar ini sebagian besar dipatok untuk kebutuhan industri minuman hingga ke Pulau Jawa.

Sodikun, salah seorang petani jeruk di Desa Danda Jaya, Barito Kuala mengatakan banjir yang berlangsung lebih satu bulan tidak hanya menyebabkan gagal panen tetapi juga matinya pohon jeruk. 

"Di Desa Danda Jaya ini ada 200 orang petani jeruk dan separuh tanaman jeruk atau 500 hektar rusak dan mati karena banjir," tuturnya.

Menurut hitungan Sodikun dan para petani kerugian dialami petani mencapai Rp40 juta tiap hektar. Sehingga jika ada 4.662 hektar tanaman jeruk yang rusak maka kerugian diperkirakan lebih Rp100 miliar. 

"Jeruk ini merupakan sumber penghasilan utama petani disini selain padi. Kini padi pun banyak yang gagal panen," ujarnya.

baca juga: KLHK: Banjir Kalsel Karena Anomali Cuaca, Bukan Soal Luas Hutan

Kondisi lebih parah terjadi di kawasan agropolitan jeruk meliputi Desa Karang Buah, Karang Bunga, Karang Dukuh dan Karang Indah (wilayah Terantang) Kecamatan Mandastana dan Kecamatan Belawan dimana kerusakan areal pertanian jeruk mencapai 80 persen.

Kepala Urusan Perencanaan Desa Danda Jaya, Hendri mengatakan pada saat banjir tanaman padi dan jeruk di desanya terendam hingga dua meter selama dua pekan sehingga banyak tanaman jeruk mati dan gagal panen. Sejatinya saat ini adalah musim panen jeruk dan juga rambutan. (OL-3)


 

BERITA TERKAIT