23 February 2021, 06:43 WIB

Mempertahankan Hulu Hilir Kopi Nusantara di Sketsa Kopi


Siswantini Suryandari | Nusantara

DI tengah pandemi, banyak bisnis terpuruk bahkan ada yang tutup. Tidak hanya di Jakarta, tapi hampir seluruh Indonesia ada fenomena seperti itu. Termasuk di Bali, sebagai ikon pariwisata Indonesia. Tapi uniknya di Bali, justru banyak pelaku UMKM yang mulai merintis usaha di tengah pandemi.

Salah satunya adalah Ayu Sulistyowati, pemilik Sketsa Kopi yang berada di Pulau Nias 2, Denpasar, Bali. Ayu yang sebelumnya berprofesi sebagai wartawan harian nasional kini terjun ke bisnis kopi. Ia mengungkapkan bahwa kehadiran bisnis kopinya itu untuk mempertahankan hulu hilir kopi-kopi yang tersebar di Nusantara.

"Indonesia memiliki banyak keragaman kopi dan itu aset," ungkap Ayu kepada mediaindonesia.com, Senin (22/2).

Kopi yang menjadi bahan baku Sketsa Kopi bekerja sama dengan PT Asanka, sebagai pemilik divisi kopi Pandawa Roastery. Kopi yang dipasok Asanka ini adalah kopi robusta dan arabika dari Desa Pujungan, Kabupaten Tabanan, Bali.  Ayu menjelaskan di Desa Pujungan ada lahan kopi sekitar 42 hektar, menjadi fokus pemberdayaan Pandawa Roastery.  

"Nah, Pandawa ini menjalani pemberdayaan di hulu Pujungan ini sudah dua tahun berjalan hingga sekarang. Petani kopi di sana, antusias memperbaiki kualitas panenannya. Perbaikan kualitas ini mulai dari memilih bibit terbaik, menanam, merawat, memanen, hingga menjadi butiran-butiran kopi siap di roasting. Bagaimana mereka belajar memetik biji merah kopi yang biasanya hampir tak memilah ketika panen," paparnya.

Sekarang para petani di Pujungan, paham bagaimana kulaitas kopi itu berawal dari bagaimana merawat pohonnya. Tidak hanya ketika panen semata. Pandawa pun memberi pemahaman bahwa sinar matahari mulai dari terbit dan terbenam pun harus dimengerti karena berpengaruh terhadap pertumbuhan biji kopi.

Direktur Pandawa Roastery Yuli Gumilar atau biasa dipanggil Idoy, mengapresiasi ketekunan para petani kopi di kebun Pujungan. 

"Pohon kopi itu, ketika kami datang belum maksimal terawat. Sekarang mereka tekun merawatnya dan tidak ada niat lagi untuk mengganti tanaman lain," kata Idoy.

Idoy menceritakan bagaimana para petani sempat ingin mengganti kebun kopi itu menjadi tanaman yang lebih sering panen. Kopi dianggap tidak menguntungkan karena panen setahun sekali. Padahal, lanjut Idoy, pohon kopi itu tidak hanya ditunggu panen setahun sekali. Akan tetapi, pohonnya bisa menaungi tanaman produktif lainnya untuk dipanen disela-sela menanti panen kopi.

Karenanya, Pandawa berupaya meyakinkan tak hanya biji kopi yang memiliki nilai ekonominya. Kulit kopi, daunnya, ampas kopi, airnya, hampir semuanya bisa dimanfaatkan. Misalnya, teh cascara itu berasal dari kulit kopi yang diolah.

"Jadi, bagaimana agar petani bisa memahami begitu besar nilai ekonomi kopi ini. Bahkan, pohon kopi juga menahan tanah agar tidak longsor. Apalagi Pujungan ini lahannya berlereng-lereng, sehingga bisa menahan tanah dan air," jelas Idoy.

Sekarang, Pujungan mencatatkan produktivitas panen per tahunnya dari 1.600 ton menjadi 2.000 ton. Mereka mampu memasok ke beberapa daerah di Indonesia, di luar Bali, di antaranya Bandung (Jawa Barat), Lampung (Sumatra), Lombok (NTB).

Kehadiran Sketsa Kopi melengkapi hulu hilir kopi Pujungan dan kopi Nusantara lainnya yang sudah dikerjasamakan Pandawa dengan para petani kopi selain Pujungan. Biji-bji kopi yang sudah di-roasting ini membutuhkan tempat untuk siapa pun bisa menimati kopi Nusantara.

Ayu Sulistyowati menambahkan  kedai kopinya menyediakan kopi Nusantara yang benar-benar berkualitas. Siapa pun yang datang diharapkan tidak hanya menyesap nikmatnya kopi-kopi olahan barista Sketsa Kopi. Selain kopi dari Pujungan, ia juga menyediakan 10 kopi dari berbagai daerah di antaranya Temanggung, Ciwidey, Batur, Ijen da Pandeglang.

"Kami ada karena ingin kita semua menghargai kopi Nusantara. Menghargai betapa para petani kopi Nusantara itu semakin baik menjaga kualitasnya. Kebanggaan sebagai Indonesia melalui kopi lokal," katanya.

Pemberdayaan dan edukasi konservasi tanah atau lingkungan itu yang telah berjalan hingga sekarang, membuat pemilik Sketsa Kopi semakin jatuh cinta dengan kopi Nusantara. 

"Perjuangan ini yang membuat saya semakin cinta kepada perjalanan edukasi ribuan biji kopi-kopi lokal ini. Kualitas produk lokat terbaik, saya kira perlu dipajang di tempat yang menghargai kualitas mereka untuk disajikan kepada mereka yang bisa menghargai nilai kebaikan dan perjalanan biji kopi lokal terbaik," kata Ayu.

baca juga: Potensi Ekowisata Sungai Mudal Kian Terang

Sketsa Kopi dan Pandawa Roastery juga mengembangkan kerja sama pelatihan barista. Harapannya, meski barista belum bisa ke kebun kopi, mereka perlu dapat sehati dengan biji-biji kopi pilihan dan baik memperlakukan hingga menyajikannya dengan rasa terbaik.

"Saya sering dibilang gila, beraninya memutuskan membuka usaha di tengah pandemi, di tengah banyak yang tutup, di tengah banyak orang galau. Ya, gak papa juga. Semoga saja kegilaan ini bisa memberikan getaran energi positif bagi saya, kamu, dan mereka. Mari menjaga semangat tetap menyala bersama-sama. Karena kekuatan positif bersama itu lebih kuat dari segalanya," pungkas Ayu. (OL-3)

BERITA TERKAIT