20 February 2021, 20:45 WIB

Peduli Dini, Tingkatkan Penanganan Kanker di Indonesia


Bayu Anggoro | Nusantara

INDONESIA tercatat sebagai negara ke-8 di dunia dengan penderita kanker terbanyak di dunia.

WHO, melalui Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (The International Agency for Research on Cancer/IARC) dalam laporannya pada Desember 2020 menyatakan jumlah penderita baru di Indonesia mencapai hampir 400 ribu kasus selama 2020. Laporan itu juga menyebutkan 54% kasus terjadi pada perempuan.

Konsultan senior dengan peminatan khusus pada kanker payudara dan
ginekologi di Parkway Cancer Centre, Singapura, Wong Chiung Ing, mengatakan, kanker payudara, mulut rahim (serviks), dan rahim (ovarium) adalah jenis kanker tertinggi yang banyak menimpa perempuan. Sementara pada pria kebanyakan terjadi untuk kasus kanker paru-paru, hati, dan usus besar (kolorektal).
 
"Dengan tingkat kematian mencapai 59%, sangatlah penting untuk mengetahui seluk beluk tentang kanker, penyebab, tanda kemunculan dan gejala, serta bentuk pengobatannya," ungkap Wong.

Tidak ada penyebab pasti dari kanker. Terjadinya kanker dikaitkan dengan berbagai alasan mulai dari profil genetik individu hingga kebiasaan gaya hidup seperti merokok. "Mengenali tanda dan gejala serta diagnosis yang tepat sejak dini dapat membuat perbedaan yang signifikan dalam penanganan kanker," tambahnya, dalam siaran pers, Sabtu (20/2).

Kanker payudara masih mendominasi kasus kanker di Indonesia. Jumlahnya diiperkirkan mencapai 20% dari kasus kanker ang menyerang wanita. "Wanita perlu dididik tentang tanda dan gejala kanker payudara," katanya.

Sejumlah gejala, di antaranya ialah benjolan di payudara, inversi puting susu, atau perubahan kulit yang tidak normal. Sebagian
besar kanker payudara ditemukan saat masih terlokalisasi di payudara dan pada kelenjar getah bening di ketiak pada sisi yang sama.

"Kanker payudara pada fase lebih dini dapat diobati secara efektif dan
berpotensi dapat disembuhkan dengan operasi, kemoterapi, terapi
hormonal, terapi bertarget, dan radioterapi," tambah dokter yang memiliki keahlian dalam diagnosis dan pengobatan kanker pada orang dewasa itu.

Di sisi lain, kanker serviks disebabkan oleh human papillomavirus (Hpv)
dan terjadi di jaringan serviks, organ yang menghubungkan rahim dan
vagina. Infeksi HPV yang didapat secara seksual sangat umum terjadi. Sementara 80% atau 90% infeksi bersifat sementara, sebagian kecil kasus dapat memicu pertumbuhan abnormal pada sel-sel lapisan dalam.

Menurutnya, sel-sel ini kemudian dapat berkembang menjadi prakanker,
perubahan prainvasif yang disebut Cervical Intraepithelial Neoplasia
(CIN) yang pada akhirnya dapat menyebabkan kanker invasif. Tidak ada
tanda atau gejala infeksi HPV, perubahan prakanker atau bahkan dalam
beberapa kasus, dari beberapa kanker serviks stadium awal.

Dalam banyak kasus, dia menyebut gejala dapat berkembang hanya ketika
sel kanker mulai menyerang jaringan sekitarnya. Kabar baiknya adalah
kanker serviks adalah salah satu kanker yang paling dapat dicegah dan
diobati jika terdeteksi sejak dini.

"Skrining serviks secara teratur dapat mendeteksi sel prakanker atau
kanker di serviks dan secara signifikan mengurangi risiko berkembangnya
kanker serviks," katanya. Vaksinasi HPV juga diketahui dapat mengurangi
risiko kanker serviks secara signifikan pada wanita karena merangsang
kekebalan terhadap jenis HPV tertentu penyebab kanker serviks.

Seperti kanker payudara, salah satu penyebab kanker ovarium yang
diketahui adalah karena mutasi gen yang diturunkan. Kanker ovarium
memiliki kejadian lebih tinggi pada wanita di atas usia 40 tahun.

Wanita yang menjalani terapi hormonal setelah menopause, dan mereka yang melahirkan di atas usia 35 tahun juga berisiko lebih tinggi terkena kanker ovarium. Meskipun kanker yang menyerang wanita terlihat sangat menakutkan, kemajuan teknologi medis dan pemahaman yang lebih baik tentang kanker telah memungkinkan dokter untuk menawarkan strategi
pengobatan pasien yang dapat menghasilkan hasil klinis dan kualitas
hidup yang lebih baik.

Semua itu bergantung pada gambaran klinis dari kanker mereka. Dokter
mungkin merekomendasikan pendekatan pengobatan yang berbeda.

"Tidak seperti pendekatan tradisional di mana pembedahan sering
diresepkan sebagai pengobatan utama, pasien kadang-kadang dapat
memperoleh manfaat dari kemoterapi neo-adjuvant untuk mengecilkan tumor
kanker sebelum pembedahan untuk hasil yang jauh lebih baik bagi pasien," katanya. (N-2)

BERITA TERKAIT