19 February 2021, 08:35 WIB

Banjir Pekalongan masih Tinggi Ribuan Warga Tetap Mengungsi


Akhmad Safuan | Nusantara

BENCANA banjir merendam Kota dan Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, sudah hampir 15 hari masih bertahan tinggi. Pengungsi masih mencapai 4.500 orang. Anak bawah lima tahun (balita) dan manula mulai terserang penyakit.

Pantauan Media Indonesia, Jumat (19/2), hingga saat ini banjir setinggi 20-150 sentimeter masih merendam Kota dan Kabupaten Pekalongan. Warga masih bertahan di pengungsian karena rumah mereka masih terendam dengan ketinggian air 50-70 sentimeter dan belum dapat ditempati.

Banjir merendam dua daerah itu terjadi cukup merata. Berdasarkan catatan setidaknya ada 20.000 warga terdampak tersebar di tiga kecamatan di Kota Pekalongan yakni Pekalongan Barat, Pekalongan Utara, Pekalongan Timur. Begitu pun Kabupaten Pekalongan seperti Kecamatan Tirto, Wiradesa, Wonokerto.

Para pengungsi mencapai ribuan jiwa tersebut ditampung di berbagai tempat, mulai gedung sekolah, perkantoran, gedung olahraga, masjid, gereja, dan balai desa. Kondisi mereka juga cukup berdesakan dan memprihatinkan, terutama balita dan manula karena mulai terserang penyakit dan kedinginan kekurangan selimut.

Bantuan makanan dan obat-obatan disuplai kepada ribuan warga, baik di pengungsian maupun rumah masing-masing. Setiap hari disistribusikan dengan perahu karet atau kendaraan berasal dari dapur umum, pihak warga, instansi, lembaga pemerintah/swasta, serta organisasi sosial.

"Saya minta pengungsian diatur sesuai prokes dengan diberi jarak dan sekat, karena ini cukup berbahaya untuk kesehatan di tengah pandemi covid-19," ujar Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat meninjau pengungsi di Pekalongan.

Ganjar Pranowo yang mendatangi pengungsi dengan menggunakan perahu karet tersebut mengatakan banjir melanda Pekalongan cukup berat karena air datang dari atas (hulu sungai) dan bawah (laut). Satu-satunya upaya untuk menanggulangi banjir yakni dengan tanggul laut.

Selain pembangunan tanggul, lanjut Ganjar, mengingat banjir juga disebabkan perubahan alam, perlu dilakukan petubahan sistem penanganan lain seperti penyedotan dengan pompa. Kepada korban banjir diharapkan dapat menghubungi posko atau RT/RW serta kelurahan/desa setempat jika membutuhkan bantuan. "Pemerintah nenyiapkan semua bantuan yang dibutuhkan. Saya akan
kirim jika masih kurang," tandasnya. (OL-14)

BERITA TERKAIT