19 February 2021, 06:51 WIB

Musa Tokoh Pejuang dari Pegunungan Meratus


Denny Susanto | Nusantara

ASAP tebal terhembus dari sebatang rokok kretek yang diisap lelaki tua di teras depan rumah sederhana di atas bukit. Musa, lelaki tua yang sudah berusia 115 tahun ini, ialah sesepuh Desa Pantai Mangkiling, terpencil di puncak Pegunungan Meratus, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.

Meski berumur sangat tua, Musa yang kerap disapa Kai Pembakal Canggung masih segar bugar, badannya masih sehat, dan bicaranya juga masih lancar saat menceritakan sejarah kampungnya dan kisah perjuangan masyarakat suku dayak melawan penjajah Belanda dulu. Selain sebagai sesepuh atau tokoh adat, Musa orang pertama yang bermukim di Desa Pantai Mangkiling dan kemudian menjadi kepala desa selama puluhan tahun.

Di lantai teras rumahnya, berkumpul anak dan cucunya yang tengah mengupas biji kemiri dan buah-buahan lokal hasil panen dari hutan desa. Seperti masyarakat suku dayak lain yang bermukim di kawasan Pegunungan Meratus, masyarakat Desa Mangkiling juga bermata pencaharian sebagai petani padi gunung, pisang, karet, juga hasil hutan kemiri, kayu manis, dan lainnya.

"Tahun ini hasil panen kurang baik karena cuaca buruk dan pengaruh hutan Meratus banyak yang rusak," tutur Musa memulai percakapan. Pengetahuan Musa tentang nasionalisme dan perkembangan Tanah Air juga cukup baik. Sebagai salah seorang tokoh pejuang yang hidup Musa berharap pemerintah memperhatikan kondisi masyarakat di pedalaman dan kelestarian alam Pegunungan Meratus.

Musa menceritakan awal dirinya bermukim di wilayah Gunung Apurung daerah lebih tinggi di puncak Meratus bersama puluhan keluarga suku dayak lain. Kala itu Musa bersama para pemuda dan tokoh dayak dari berbagai balai adat yang ada di Pegunungan Meratus bersatu melawan Belanda.

"Kami tidak punya senapan, kecuali mandau dan tombak. Tetapi para pejuang dayak punya kesaktian dari para leluhur dan jimat kebal terhadap peluru ataupun senjata lain," cerita Musa dengan semangat.

Dengan keberanian dan perang gerilya dari hutan ke hutan, pasukan penjajah Belanda akhirnya bisa diusir. Setelah perang usai dan Indonesia merdeka, Musa dan beberapa penduduk desa pindah ke daerah lebih rendah karena alasan mudahnya mencari sumber air hingga akhirnya terbentuk dusun-dusun baru seperti Pantai Mangkiling, Banyuwana dan Rantau Parupuk.

Pantai Mangkiling dapat dijangkau dengan menggunakan sepeda motor jenis trail dari ibu kota Kecamatan Hantakan kurang lebih satu jam, menyusuri jalan  bermedan berat di Pegunungan Meratus. "Saat ini tidak ada lagi warga yang berdiam di puncak (Apurung) dan banyak kawan pejuang sudah meninggal dunia," kenang Musa. (OL-14)

BERITA TERKAIT