08 February 2021, 05:05 WIB

Rehabilitasi Daerah Tangkapan Air di Kalsel Dipercepat


Denny Susanto | Nusantara

PEMERINTAH Provinsi Kalimantan Selatan akan mempercepat rehabilitasi daerah tangkapan air (DTA) DAS Barito sebagai langkah memperbaiki kerusakan dan meningkatkan fungsi daerah aliran sungai. Rehabilitasi daerah tangkapan air difokuskan pada DAS Barito di wilayah Kabupaten Balangan, Hulu Sungai Tengah dan Banjar. Ada empat daerah tangkapan air pada DAS Barito yang menjadi prioritas meliputi Balangan, Barabai, Riam Kiwa, dan Kurau. 

"Kita telah mengusulkan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, untuk mempercepat rehabilitasi daerah tangkapan air ini," ungkap Pelakasana tugas Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Fathimatuzzahra, Minggu (7/2).

Terkait hal ini pihaknya mengusulkan relokasi rehabilitas DAS dengan melibatkan perusahaan pemegang Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH). Rehabilitasi di daerah tangkapan air yang ditengarai menjadi pemicu banjir ini diperkirakan mencapai 6.000 hektar. Secara keseluruhan  Kementerian LHK menerbitkan SK IPPKH di Kalsel seluas 57.931 hektare untuk 47 perusahaan.

Pada 2021 ini Pemprov Kalsel menargetkan penanaman pohon (revolusi hijau) seluas 30 ribu hektar. Pada bagian lain Pemprov Kalsel juga tengah menyusun kajian dalam upaya penanganan dan pencegahan bencana banjir. Salah satunya  mengidentifikasi kerusakan lingkungan dampak dari bencana banjir besar dan tanah longsor beberapa waktu lalu. 
            
"Kita akan melakukan pemetaan melibatkan tim DLH masing-masing kabupaten/kota. Kajian dilakukan secara komprehensif dari jangka pendek, menengah hingga panjang," tutur Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kalsel, Hanifah Dwi Nirwana.

baca juga: Jalan Trans Kalimantan Terputus Akibat Banjir

Sebelumnya Sekretaris Daerah Provinsi Kalsel, Roy Rizali Anwar, mengatakan pembangunan waduk dan embung diyakini menjadi solusi mitigasi bencana banjir di masa datang. Waduk yang direncanakan dibangun antara lain Riam Kiwa, Hanau dan Kusan yang kesemuanya berada Pegunungan Meratus serta kolam Regulasi di Hulu Sungai Tengah. Keberadaan bendungan Tapin yang baru selesai dibangun dinilai terbukti mampu mengurangi debit banjir di wilayah sekitar.

Hasil analisa Pemprov Kalsel bencana banjir yang terjadi merupakan bencana Hidrometeorologi, akibat tingginya curah hujan yang turun pada 11-14 Januari mencapai 446 mm atau 8,89 kali lipat curah hujan normal. Cuaca ekstrim ini juga merupakan siklus 50 tahunan bencana di Kalsel. (OL-3)

BERITA TERKAIT